“Sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar)
Allah telah memudahkan Al-Quran untuk dibaca dan dihafal. Dan Dia telah memudahkan makna Al-Quran untuk dipahami dan direnungkan. Namun, kenapa ada saja orang yang susah memahami dan merenungkannya?
“Sesungguhnya ini Al-Quran yang sangat mulia, dalam kitab yang terpelihara, tidak ada yang menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 77-79)
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
وفي الآية إشارة على أن من طهر قلبه من المعاصي كان أفهم للقرآن، وأن من تنجس قلبه بالمعاصي كان أبعد فهما عن القرآن
“Dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa siapa yang menyucikan hatinya dari maksiat, maka ia adalah orang yang paling mudah memahami Al-Quran. Sedangkan orang yang mengotori hatinya dengan maksiat, maka ia adalah orang yang paling susah memahami Al-Quran.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitaab At-Tauhid)
Kenapa demikian?
Syekh berkata:
لأنه إذا كانت الصحف التي في أيدي الملائكة لم يمكن الله من مسها إلا هؤلاء المطهرين; فكذلك معاني القرآن.
“Sebab, jika lembaran-lembaran yang ada di tangan para malaikat saja tidak Allah berikan kesempatan untuk menyentuhnya kecuali kepada makhluk-makhluk yang disucikan, maka begitu pula makna Al-Quran.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitaab At-Tauhid)
Maksiat bisa menghilangkan kenikmatan dalam beribadah, di antaranya membaca Al-Quran.
Selain menghilangkan kenikmatan dalam membaca Al-Quran, maksiat juga membuat kita susah memahami kandungan Al-Quran, padahal Allah sudah mudahkan Al-Quran untuk dipahami dan direnungkan.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
فاستنبط شيخ الإسلام من هذه الآية: أن المعاصي سبب لعدم فهم القرآن; كما قال تعالى:
“Syekhul Islam mengambil kandungan hukum dari ayat ini yakni maksiat merupakan sebab tidak paham akan Al-Quran. Sebagaimana Dia telah berfirman:
{كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} ، [المطففين:14]
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya dosa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)
وهم الذين قال الله فيهم:
Merekalah orang-orang yang Allah sebutkan tentang mereka:
{إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الأَوَّلِينَ} [المطففين:13]
“Bila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, ‘Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (QS. Al-Muthaffifin: 13)
فهم لا يصلون إلى معانيها وأسرارها; لأنه ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون
Mereka tidak sampai pada makna dan rahasia ayat-ayat Al-Quran, karena dosa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitaab At-Tauhid)
Lantas, apa solusinya agar kita mudah memahami kitab suci kita, bahkan agama kita?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
وقد ذكر بعض أهل العلم: أنه ينبغي لمن استفتي أن يقدم بين يدي الفتوى الاستغفار لمحو أثر الذنب من قلبه حتى يتبين له الحق، واستنبطه من قوله تعالى:
“Sebagian ulama menyebutkan bahwa sepantasnya bagi orang yang hendak meminta fatwa untuk memohon ampun kepada Allah sebelum meminta fatwa supaya terhapus pengaruh dosa dari hatinya sehingga jelaslah kebenaran baginya. Mereka mengambil kandungan hukum tersebut dari firman-Nya (QS. An-Nisa: 105-106):
{إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيماً، وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُوراً رَحِيماً} ، [النساء:105-106]
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitaab At-Tauhid)
Maka, bisa disimpulkan bahwa salah satu penyebab seorang muslim sulit memahami kitab sucinya, bahkan agamanya adalah dosa. Ya, dosa.
Karena itu, kalau kita ingin mudah memahami agama kita, maka hendaknya kita menjauhi dosa dan maksiat kepada-Nya. Dan kalau kita terlanjur jatuh ke dalamnya, maka hendaknya kita segera bertobat kepada-Nya.
Siberut, 15 Rabi’ul Tsani 1445
Abu Yahya Adiya






