Ketika satu sunnah ditinggalkan, muncullah satu bidah.
Makin banyak sunnah yang ditinggalkan, makin banyaklah bidah yang bermunculan.
Ibnu `Abbās berkata:
مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلَّا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ
“Tidaklah datang tahun yang baru, kecuali orang-orang akan membuat satu bidah dan mematikan satu sunnah, hingga akhirnya hiduplah bidah-bidah dan matilah sunnah-sunnah.” (Al-Mu’jam Al-Kabīr)
Bidah bisa terjadi karena ada sunnah yang tidak dipraktekkan.
Contohnya?
- Sunnahnya mendengarkan bacaan Al-Fatihah imam.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا
“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Jika ia bertakbir, maka bertakbirlah. Dan jika ia membaca, maka diamlah.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan lain-lain)
Tatkala sunnah ini ditinggalkan, apa yang terjadi?
Sebagian orang membaca sesuatu yang tidak pernah diperintahkan oleh Nabi ﷺ.
Imam An-Nawawi berkata:
قَدْ اعْتَادَ كَثِيرٌ مِنْ الْعَوَامّ أَنَّهُمْ إذَا سَمِعُوا قِرَاءَةَ الْإِمَامِ إِيَّاكَ نعبد واياك نستعين قالوا إياك نعبد واياك نستعين وَهَذَا بِدْعَةٌ مَنْهِيٌّ عَنْهَا
“Sungguh, banyak orang awam yang jika mereka mendengar imam membaca, ‘Iyyāka Na’budu wa Iyyāka Nasta’īn (Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)’, mereka terbiasa untuk mengucapkan pula, ‘Iyyāka Na’budu wa Iyyāka Nasta’īn’. Itu bidah yang terlarang.” (Al-Majmū` Syarḥ Al-Muḥażżab)
- Sunnahnya Imam berbalik menghadap ke makmum usai salat dan istigfar serta mengucapkan Allāhumma Anta As-Salām….
‘Aisyah berkata:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا سَلَّمَ لَمْ يَقْعُدْ إِلَّا مِقْدَارَ مَا يَقُولُ:
“Nabi ﷺ jika mengucapkan salam, beliau tidak duduk kecuali seukuran ucapan:
اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pemberi keselamatan dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.” (HR. Muslim)
Tatkala sunnah ini ditinggalkan, apa yang terjadi?
Sebagian imam memimpin doa bersama.
Imam Asy-Syāṭibi berkata:
فَقَدْ حَصَلَ أَنَّ الدُّعَاءَ بِهَيْئَةِ الِاجْتِمَاعِ دَائِمًا لَمْ يَكُنْ مِنْ فِعْلِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ؛ كَمَا لَمْ يَكُنْ [مِنْ] قَوْلِهِ وَلَا إِقْرَارِهِ.
“Sungguh, telah terjadi bahwa doa bersama-sama secara terus-menerus bukanlah termasuk perbuatan Rasulullah ﷺ, sebagaimana itu bukan termasuk sabda beliau dan bukan pula persetujuan beliau.” (Al-I’tiṣām)
- Sunnahnya memberi makan kepada keluarga yang tertimpa musibah.
Ketika Ja’far bin Abī Ṭalib meninggal dunia, Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabat:
اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا، فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ شَغَلَهُمْ
“Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lain-lain)
Tatkala sunnah ini ditinggalkan, apa yang terjadi?
Sebagian orang berkumpul di rumah orang mati lalu memakan makanan yang dihidangkan oleh keluarga yang sedang berduka.
Imam An-Nawawi berkata:
قَالَ صَاحِبُ الشَّامِلِ وَغَيْرُهُ وَأَمَّا إصْلَاحُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا وَجَمْعُ النَّاسِ عَلَيْهِ فَلَمْ يُنْقَلْ فيه شئ وَهُوَ بِدْعَةٌ غَيْرُ مُسْتَحَبَّةٍ هَذَا كَلَامُ صَاحِبِ الشَّامِلِ وَيُسْتَدَلُّ لِهَذَا بِحَدِيثِ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
“Penulis Asy-Syāmil dan selainnya berkata bahwa adapun keluarga mayit menyediakan makanan dan mengumpulkan orang-orang untuk memakannya, maka tidak ada satu nas pun yang bisa jadi sandaran dalam hal itu dan itu merupakan bidah yang tidak disukai. Itu adalah perkataan penulis Asy-Syāmil. Dalil tentang perkara itu adalah hadits Jarīr bin ‘Abdillāh-semoga Allah meridainya-ia berkata:
كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ
“Kami menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit setelah ia dikubur, dan menghidangan makanan untuk itu adalah termasuk niyahah (meratapi mayit).”
رَوَاهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَابْنُ مَاجَهْ
Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Majah.” (Al-Majmū` Syarḥ Al-Muḥażżab)
Ketika satu sunnah ditinggalkan, muncullah satu bidah.
Makin banyak sunnah yang ditinggalkan, makin banyaklah bidah yang bermunculan.
Lantas, apa solusinya agar kita terhindar dari bidah?
Pelajarilah hadis Nabi ﷺ. Dalamilah sunnah Nabi ﷺ. Praktekkanlah itu dalam kehidupan sehari-hari!
Imam Aḥmad bin Ḥanbal berkata kepada Al-Ḥasan bin Ṡawwāb:
مَا أَعْلَمُ النَّاسَ فِي زَمَانٍ أَحْوَجُ مِنْهُمْ إلَى طَلَبِ الْحَدِيثِ مِنْ هَذَا الزَّمَانِ
“Aku tidak mengetahui orang-orang berada di suatu zaman yang sangat perlu untuk mencari hadis dibandingkan zaman ini.”
Al-Ḥasan bertanya:
وَلِمَ؟
“Kenapa?”
Imam Aḥmad menjawab:
ظَهَرَتْ بِدَعٌ فَمَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ حَدِيثٌ وَقَعَ فِيهَا.
“Telah tampak bidah. Siapa yang tidak mempunyai hadis, niscaya ia akan terjatuh ke dalam bidah.” (Al-Ādāb Asy-Syar’iyyah wa Al-Minaḥ Al-Mar’iyyah)
Kalau ini dikatakan oleh Imam Aḥmad di zaman beliau, padahal ketika itu para ulama masih bertebaran di mana-mana, maka bagaimana pula kalau beliau menyaksikan keadaan umat di zaman kita?!
Siberut, 25 Ṣafar 1447
Abu Yahya Adiya






