Suatu hari berguncanglah rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Putrinya yang ia cintai yang juga istri Nabi yaitu Aisyah dituduh telah selingkuh dengan pria lain.
Siapakah orang tua yang tidak bersedih tatkala buah hatinya dituduh berbuat keji?
Siapakah orang tua yang tidak berduka tatkala putrinya dituduh berzina?
Abu Bakar merasa sakit, dan benar-benar sakit. Yang lebih menyakitkan lagi yaitu orang yang menuduh putrinya melakukan perbuatan keji tersebut ternyata orang yang selama ini ia bantu dan ia tolong, yaitu Misthah bin Utsatsah.
Abu Bakar pun marah dan bersumpah untuk tidak memberi lagi bantuan kepada Misthah bin Utsatsah.
Maka turunlah firman Allah mengenai hal tersebut:
وَلا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin jika Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur: 22)
Setelah turun ayat ini, apa reaksi Abu Bakar? Ia berkata:
بَلَى، وَاللَّهِ إِنَّا نُحِبُّ -يَا رَبَّنَا -أَنْ تَغْفِرَ لَنَا
“Tentu, demi Allah, kami ingin agar Engkau mengampuni kami, wahai Tuhan kami.” (Tafsir Al-Quran Al-Azhim)
Abu Bakar ternyata membatalkan sumpahnya dan memaafkan orang yang sudah menyakitinya dan menyakiti putrinya!
Dari kisah di atas kita bisa mengambil beberapa pelajaran:
- Anjuran untuk bermurah hati, mudah memaafkan. Mudah memaafkan kesalahan orang lain. Mudah memaafkan kekhilafan orang lain. Selama kesalahan itu bukan terkait dengan hak Allah. Selama kesalahan itu tidak melanggar hak Allah.
Perilaku ini telah dicontohkan oleh nabi kita sebagaimana dikabarkan oleh istri Nabi, Aisyah:
Aisyah berkata:
وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا
“Rasulullah ﷺ tidak pernah marah karena diri beliau. Namun, jika larangan Allah dilanggar, maka beliau pun marah karena Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Keutamaan Abu Bakar Shiddiq
Kisah di atas menunjukkan keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq, karena ia ternyata sosok pemaaf. Mudah memaafkan orang lain.
Nabi ﷺ bersabda:
وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا
“Allah tidaklah menambahkan bagi orang yang memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)
Ya, orang yang memaafkan tidak akan terhina, justru akan mulia. Makanya lihatlah Abu Bakar, posisinya begitu mulia dan sangat Nabi ﷺ cintai.
Amru bin Al-Ash pernah bertanya kepada Nabi ﷺ:
أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟
“Siapa orang yang paling engkau cintai?”
Beliau ﷺ menjawab:
عَائِشَةُ
“Aisyah.”
Amru bin Al-Ash bertanya:
مِنَ الرِّجَالِ؟
“Kalau dari kalangan laki-laki?”
Beliau ﷺ menjawab:
أَبُوهَا
“Abu Bakar.” (HR. Muslim)
Siberut, 14 Syawwal 1444
Abu Yahya Adiya






