Permasalahan Seputar Wakaf

Permasalahan Seputar Wakaf

1. Apa itu wakaf?

Al-Khathib Asy-Syirbini berkata:

وَشَرْعًا: حَبْسُ مَالٍ يُمْكِنُ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِه

“Dalam syariat yaitu menahan harta yang mungkin bisa dimanfaatkan dengan tetap bertahan fisiknya.” (Mughni Al-Muhtaj Ilaa Ma’rifah Ma’aani Alfazh Minhaaj)

 

2. Apa hukum wakaf?

Imam Ibnu Qudamah berkata:

وَالْوَقْفُ مُسْتَحَبٌّ….وَالْأَصْلُ فِيهِ مَا رَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، قَالَ:

“Wakaf itu disukai….dalil demikian yaitu apa yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar.” (Al-Mughni) 

Maksud beliau yaitu kabar ‘Abdullah bin ‘Umar:

أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ، فَأَتَى النَّبِيَّ ﷺ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا، فَقَالَ:

“Umar memperoleh sebidang tanah di Khaibar, lalu ia pergi menghadap Nabi ﷺ untuk berkonsultasi tentangnya. Ia berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ، لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ، فَمَا تَأْمُرُنِي بِهِ؟

“Wahai Rasulullah, aku memperoleh sebidang tanah di Khaibar dan aku tidak pernah memperoleh harta yang lebih berharga bagiku daripada itu. Karena itu, apa yang engkau perintahkan kepadaku tentang tanah itu?”

قَالَ:

Beliau ﷺ menjawab:

إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا

“Kalau engkau mau, pertahankanlah tanah itu dan engkau dapat menyedekahkan hasilnya.”

‘Abdullah bin ‘Umar berkata:

فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ، أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا، وَلَا يُبْتَاعُ، وَلَا يُورَثُ، وَلَا يُوهَبُ

“Lalu ‘Umar menyedekahkan hasil tanah itu, dengan syarat tanah itu tidak boleh dijual, dibeli, diwariskan, ataupun dihibahkan.”

‘Abdullah bin ‘Umar berkata:

فَتَصَدَّقَ عُمَرُ فِي الْفُقَرَاءِ، وَفِي الْقُرْبَى، وَفِي الرِّقَابِ، وَفِي سَبِيلِ اللهِ، وَابْنِ السَّبِيلِ، وَالضَّيْفِ، لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيه

“Umar pun menyedekahkan hasilnya kepada fakir miskin, kaum kerabat, untuk memerdekakan budak, untuk jalan Allah, orang-orang yang sedang dalam perjalanan dan tamu. Tidak mengapa orang yang mengurusnya memakan sebagian hasilnya dengan cara yang baik atau memberi makan temannya tanpa tujuan untuk menumpuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim. Dan ini adalah redaksi Muslim)

Imam Ibnu Qudamah berkata:

وَأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ السَّلَفِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ عَلَى الْقَوْلِ بِصِحَّةِ الْوَقْفِ

“Kebanyakan ulama salaf dan setelah mereka berpendapat sahnya wakaf.” (Al-Mughni)

 

3. Apa syarat sah wakaf?

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

ويشترط أن يكون الواقف جائز التصرف؛ بأن يكون بالغا حرًا رشيدًا؛ فلا يصح الوقف من الصغير والسفيه والمملوك.

“Orang yang mewakafkan disyaratkan bisa mengelola harta yakni ia balig, merdeka, dan pandai mengelola harta. Karena itu, wakaf tidak sah dilakukan oleh anak kecil, orang yang tidak pandai mengelola harta, dan budak.” (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi)

Itu syarat pertama. Adapun syarat berikutnya, Syekh menyebutkan:

ثانيا: أن يكون الموقوف مما ينتفع به انتفاعا مستمرًا مع بقاء عينه؛ فلا يصح وقف ما لا يبقى بعد الانتفاع به؛ كالطعام.

“Syarat kedua: yang diwakafkan itu termasuk sesuatu yang bisa diambil manfaatnya terus-menerus dengan tetap bertahan fisiknya. Karena itu, tidak sah mewakafkan sesuatu yang tidak bisa bertahan setelah diambil manfaatnya, seperti makanan.

ثالثا: أن يكون الموقوف معينا؛ فلا يصح وقف غير المعين؛ كما لو قال: وقفت عبدًا من عبيدي وبيتا من بيوتي.

Syarat ketiga: yang diwakafkan itu sudah ditentukan. Karena itu, tidak sah mewakafkan sesuatu yang tidak ditentukan, seperti kalau seseorang berkata, ‘Aku wakafkan salah satu budakku dan salah satu rumahku.’

رابعا: أن يكون الوقف على بر؛ لأن المقصود به التقرب إلى الله تعالى؛ كالمساجد والقناطر والمساكين والسقايات وكتب العلم والأقارب؛ فلا يصح الوقف على غير جهة بر؛ كالوقف على معابد الكفار، وكتب الزندقة، والوقف على الأضرحة لتنويرها أو تبخيرها، أو على سدنتها؛ لأن ذلك إعانة على المعصية والشرك والكفر.

Syarat keempat: wakaf itu untuk kebaikan. Sebab, maksud dari wakaf adalah mendekatkan diri kepada Allah. Contohnya yaitu wakaf untuk masjid, jembatan, orang-orang miskin, pengairan, buku-buku ilmu, dan kaum kerabat. Karena itu, tidak sah wakaf untuk selain kebaikan, seperti wakaf untuk tempat ibadah orang-orang kafir, kitab-kitab orang-orang zindik, wakaf untuk pusara agar disinari dan diasapi atau untuk juru kuncinya. Sebab, itu merupakan bentuk pertolongan untuk kemaksiatan, kemusyrikan, dan kekafiran.

خامسا: ويشترط لصحة الوقف إذا كان على معين أن يكون ذلك المعين يملك ملكا ثابتا؛ لأن الوقف تمليك؛ فلا يصح على من لا يملك؛ كالميت والحيوان.

Syarat kelima: dan disyaratkan untuk keabsahan wakaf jika kepada yang sosok telah ditentukan, yakni sosok yang telah ditentukan itu bisa memiliki dengan tetap. Sebab, wakaf adalah pemberian kepemilikan. Karena itu, tidak sah wakaf kepada yang tidak bisa memiliki, seperti mayit atau hewan.

سادسا: ويشترط لصحة الوقف أن يكون منجزًا؛ فلا يصح الوقف المؤقت

Syarat kelima: dan disyaratkan untuk keabsahan wakaf yaitu hendaknya langsung sekaligus. Karena itu, tidak sah wakaf yang sementara.” (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi)

 

4. Bagaimana wakaf terwujud?

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

وينعقد الوقف بأحد أمرين:

“Wakaf terwujud dengan salah satu dari dua perkara:

الأول: القول الدال على الوقف؛ كأن يقول:

Perkara pertama: perkataan yang menunjukkan wakaf. Seperti dengan berkata:

وقفت هذا المكان، أو جعلته مسجدًا.

“Aku wakafkan tempat ini atau kujadikan itu sebagai masjid.”

الأمر الثاني: الفعل الدال على الوقف في عرف الناس كمن جعل داره مسجدًا، وأذن للناس في الصلاة فيه إذنا عاما؛ أو جعل أرضه مقبرة، وأذن للناس في الدفن فيها.

Perkara kedua: perbuatan yang menunjukkan wakaf menurut kebiasaan orang-orang. Seperti seseorang menjadikan rumahnya sebagai masjid dan memberikan izin secara umum kepada orang-orang untuk salat di dalamnya atau menjadikan tanahnya sebagai kuburan dan mengizinkan orang-orang untuk dikuburkan di dalamnya.” (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi)

 

5. Bolehkah mengganti wakaf?

Syekh Muhammad At-Tuwaijiri berkata:

الوقف ينفَّذ حسب أمر الواقف، ولا يجوز تبديل صورة الوقف سواء كان أرضاً، أو مزرعة، أو مسجداً، أو داراً، إلا إذا تعطلت منافعه فيُصرف في مثله.

“Wakaf itu dilaksanakan sesuai dengan perintah orang yang mewakafkan dan tidak boleh mengganti bentuk wakaf, baik itu tanah, ladang, masjid atau rumah kecuali jika manfaatnya terbengkalai, barulah itu dialokasikan kepada yang semacamnya.” (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islami)

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

وإن كان الوقف مسجدًا، فتعطل ولم ينتفع به في موضعه، كأن خربت محلته؛ فإنه يباع ويصرف ثمنه في مسجد آخر،

“Jika wakaf itu berupa masjid lalu terbengkalai dan tidak dimanfaatkan di tempatnya, seperti rusak lokasinya, maka itu dijual dan hasil penjualannya dialokasikan ke masjid lain.” (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi)

 

Siberut, 27 Jumada Ats-Tsaniyah 1445

Abu Yahya Adiya