Ketika nafas seseorang mulai terputus-putus, detak jantungnya tidak beraturan, dan badannya mulai terasa dingin dan kaku, sadarlah ia bahwa ternyata harta yang selama ini ia kumpulkan tidak bermanfaat lagi baginya. Jabatan yang selama ini ia kejar ternyata tidak berguna lagi baginya.
Keluarganya menangisinya. Namun sayangnya, mereka tidak bisa lagi menyertainya.
Sanak kerabat dan sahabat-sahabatnya ikut meratapinya. Namun sayangnya, mereka tidak bisa lagi menemaninya.
Ketika itulah ia insaf akan pentingnya amal saleh.
Ketika itulah ia sadar betapa hinanya maksiat.
Ketika itulah ia sadar betapa rendahnya dunia.
Pernahkah peristiwa itu terbayang di benak kita?
Bayangkanlah itu, niscaya terasa remehlah dunia!
Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menulis surat kepada seseorang. Isinya:
أما بعد, فإنه من أكثر ذكر الموت رضي من الدنيا باليسير
“Amma bakdu, sesungguhnya siapa yang sering mengingat mati, niscaya ia rela dengan sedikit kenikmatan dunia.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Ya, siapa yang sadar bahwa kematian selalu mengintai, niscaya ia tidak menjadi sosok yang rakus harta.
Siapa yang sadar bahwa hidup di dunia adalah sementara, niscaya ia merasa puas dengan sedikit kenikmatan dunia.
Ia tidak bangga dengan kekayaan yang ia miliki. Ia tidak besar hati karena jabatan yang ia tempati.
Ia tidak bersedih karena sesuatu yang tidak ia miliki. Dan ia tidak berduka karena sesuatu yang tidak ia punya.
Imam Al-Hasan Al-Bashri menggambarkan sifat para sahabat Nabi ﷺ:
أدركت أقواما لا يفرحون بشيء من الدنيا ولا يأسفون على شيء منها فاتهم
“Aku mendapati orang-orang yang tidak bergembira karena mendapatkan sesuatu dari dunia dan tidak bersedih karena dunia yang luput dari mereka.” (Az-Zuhd)
Karena itu, pecinta akhirat akan selalu merasa kaya, walaupun sedikit hartanya. Sedangkan pecinta dunia, akan selalu merasa miskin, walaupun banyak hartanya.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ
“Siapa yang menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka Allah akan menceraiberaikan urusannya, dan Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya. Tidaklah ia mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.
وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
Dan siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, maka Allah akan menyatukan urusannya dan memberikan kekayaan di hatinya. Dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan terpaksa.” (HR. Ibnu Majah)
Maka, jangan jadikan dunia segala-galanya. Jangan jadikan dunia yang pertama dan utama. Akhiratlah yang pertama dan utama.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kalian.” (QS. Fathir: 5)
Siberut, 14 Ramadhan 1443
Abu Yahya Adiya






