“Maukah kalian kuberitahukan amalan yang derajatnya lebih utama daripada derajat puasa, salat, dan sedekah?”
Itulah pertanyaan Nabi ﷺ kepada para sahabatnya. Lalu mereka pun menjawab:
بَلَى
“Tentu.”
Beliau ﷺ pun bersabda:
إصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ
“Memperbaiki hubungan antar sesama.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Memperbaiki hubungan antara sesama tatkala sudah rusak merupakan amalan yang luhur.
Mendamaikan antara pihak-pihak yang bertikai merupakan perbuatan yang mulia. Ya, mulia. Lebih mulia daripada sedekah, puasa, dan salat-salat sunnah.
Mengapa demikian?
Sebab, manfaat dan kebaikan dari perbuatan tersebut bukan hanya dirasakan pelakunya saja, melainkan dirasakan juga oleh banyak orang.
Sebaliknya, begitu pula merusak hubungan antar sesama. Bahayanya bukan hanya dirasakan oleh pelakunya saja, melainkan bisa dirasakan juga oleh banyak orang selain dirinya. Bahkan, itu bisa merusak agamanya.
Nabi ﷺ bersabda:
فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ البَيْنِ هِيَ الحَالِقَةُ
“Sesungguhnya rusaknya hubungan sesama itu membotaki.” (HR. Tirmidzi)
Imam Tirmidzi setelah menyebutkan hadis ini berkata:
وَيُرْوَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:
“Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
هِيَ الحَالِقَةُ لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ، وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ
“Itu sama dengan membotaki. Aku tidak katakan membotaki rambut, akan tetapi membotaki agama!”
Kalau memperbaiki hubungan antar sesama termasuk sebaik-baik amalan, berarti merusak hubungan antar sesama adalah termasuk seburuk-buruk amalan.
Lantas, apa sajakah perbuatan yang bisa merusak hubungan antar sesama?
1. Mematai-matai dan mencari-cari kesalahan
Jika seorang yang beriman memata-matai dan mencari-cari kesalahan saudaranya, maka rusaklah hubungan antara keduanya.
Makin sering itu dilakukan, maka makin rusaklah hubungan antara keduanya.
Pantaslah jika Nabi ﷺ mengancam keras orang yang melakukannya.
Nabi ﷺ bersabda:
وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ
“Jangan mencari-cari aib kaum muslimin. Karena sesungguhnya siapa yang suka mencari-cari aib saudaranya sesama muslim, maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang dicari-cari aibnya oleh Allah, niscaya Dia akan membongkar aibnya, walaupun ia ada di dalam tempat tinggalnya!” (HR. Tirmidzi)
2. Memaksakan pendapat
Jika seorang yang beriman memaksakan pendapatnya kepada saudaranya, maka rusaklah hubungan antara keduanya.
Makin sering itu dilakukan, maka makin rusaklah hubungan antara keduanya.
Ibnu Hazm berkata:
إن نَصَحْتَ بشرطِ القَبول منك فأنت ظالم
“Jika engkau memberi nasehat dengan syarat nasehatmu diterima, maka engkau telah berbuat zalim.” (Al-Akhlak wa As-Siyar fii Mudawat An-Nufus)
Ya, zalim. Menganiaya saudaramu!
3. Mengadu domba
Perbuatan ini jelas bisa merusak hubungan antar sesama dan itu adalah perbuatan yang sangat buruk.
Makanya, wajarlah kalau pelakunya pun akan merasakan nasib yang sangat buruk.
Suatu hari Nabi ﷺ melewati dua kubur lalu berkata:
يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، وَإِنَّهُ لَكَبِيرٌ، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ.
“Kedua penghuni kubur ini sedang disiksa, dan keduanya bukanlah disiksa karena kesalahan yang besar (menurut pandangan manusia), padahal itu kesalahan yang besar. Adapun salah seorang dari keduanya, ia tidak menjaga dirinya dari air seni, sedangkan satunya lagi berjalan ke sana kemari untuk mengadu domba.” (HR. Bukhari)
Ya, itu nasibnya di kubur. Lantas, bagaimana pula nasibnya di akhirat?
Nabi ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ
“Tidak akan masuk surga pengadu domba.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Siberut, 23 Ramadhan 1443
Abu Yahya Adiya






