Meraih ‘Nol’ ketika Ramadhan

Meraih ‘Nol’ ketika Ramadhan

Adakah orang yang berpuasa, tapi tidak merasakan lapar dan dahaga?

Setiap orang yang berpuasa pasti merasakan lapar dan dahaga. Namun, apakah kita berpuasa hanya untuk merasakan lapar dan dahaga?

Tentu saja tidak. Kita berpuasa untuk mencari pahala dan mendapat surga. Dan merugilah orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala. Merugilah ia dan benar-benar merugilah ia. Namun sayangnya…

Orang seperti itu ternyata ada. Sebagaimana dikabarkan nabi kita:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Bisa jadi seseorang berpuasa, tapi tidak ada yang ia dapatkan dari puasanya kecuali lapar saja.” (HR. Ibnu Majah)

Kenapa bisa begitu?

 

Penyebab Puasa Tak Berpahala

1. Tidak Ikhlas

Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang di dalamnya ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan ia dan amal syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan:

وَالْمُرَاد أَنَّ عَمَل الْمُرَائِي بَاطِل لَا ثَوَاب فِيهِ ، وَيَأْثَم بِهِ

“Maksud hadis ini yaitu bahwa amalan orang yang berbuat ria adalah sia-sia, tidak ada baginya pahala, dan karenanya ia teranggap berbuat dosa.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

Bisa jadi  seseorang sering berpuasa tapi tidak mendapatkan sedikit pun pahala karena tidak adanya keikhlasan dalam hatinya.

Ia berpuasa karena ‘terpaksa’, malu, dan takut dicela kalau tidak berpuasa.

Atau ia berpuasa karena ‘ikut arus’ : “Orang-orang berpuasa, ya saya berpuasa. Orang-orang berbuka puasa, ya saya juga berbuka puasa.”

Ia hanya ikut-ikutan, sehingga puasanya menjadi adat, tradisi dan kebiasaan, bukan lagi ibadah yang diharapkan darinya pahala dan keutamaan.

Puasa yang seperti itu tidak akan membuahkan pahala, apalagi mengantarkan ke surga!

 

2. Tidak menjauhi maksiat

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan palsu dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh perbuatannya meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari)

Tidak butuh perbuatannya meninggalkan makanan dan minuman. Artinya?

Dia tidak menerima puasanya. Dan kalau puasa tidak diterima oleh Allah, apakah mungkin berpahala?!

Renungkanlah….

Apakah lisanmu telah engkau jaga dari gibah, fitnah, dan namimah di bulan ini?

Apakah telinga dan matamu telah engkau jaga dari kemaksiatan dan kemungkaran di bulan ini?

Apakah tubuhmu benar-benar engkau jauhkan dari dosa di bulan ini?

Kalau belum, maka menangislah sejadi-jadinya. Puasamu tak membuahkan pahala. Dan bisa jadi engkau tak mendapat pengampunan dosa. Padahal…

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ

“Sesungguhnya ada hamba-hamba Allah yang dibebaskan dari neraka pada siang dan malam Ramadhan.” (HR. Ahmad)

Apakah engkau suka kalau orang-orang mendapatkan pengampunan dosa, sedangkan engkau tidak?

Apakah engkau suka kalau orang-orang masuk ke surga, sedangkan engkau dicampakkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala?

Segeralah bertobat! Perbaikilah diri sebelum semuanya terlambat!

 

Siberut, 15 Ramadhan 1442

Abu Yahya Adiya