Apa itu zakat fitri? Apakah zakat fitri berbeda dengan zakat fitrah? Dan apa hukum menunaikan zakat fitri? Apa hikmah dari perintah untuk menunaikan zakat fitri?
Berikut ini pembahasannya:
1. Apa itu zakat Fitri?
Imam Ibnu Qudamah berkata:
وَأُضِيفَتْ هَذِهِ الزَّكَاةُ إلَى الْفِطْرِ؛ لِأَنَّهَا تَجِبُ بِالْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ.
“Zakat ini disandarkan pada ‘fitri’ (berhubungan dengan berbuka). Sebab, zakat ini wajib dengan sebab berbuka (selesai) dari Ramadhan.
وَقَالَ ابْنُ قُتَيْبَةَ: وَقِيلَ لَهَا فِطْرَةٌ لِأَنَّ الْفِطْرَةَ الْخِلْقَةُ…..
Ibnu Qutaibah berkata bahwa dikatakan bahwa zakat itu ‘fitrah’, sebab fitrah adalah asal penciptaan….
وَهَذِهِ يُرَادُ بِهَا الصَّدَقَةُ عَنْ الْبَدَنِ وَالنَّفْسِ كَمَا كَانَتْ الْأُولَى صَدَقَةً عَنْ الْمَالِ.
Zakat fitrah ini maksudnya sedekah bagi badan dan jiwa. Sebagaimana zakat fitri maksudnya sedekah bagi harta.” (Al-Mughni)
Karena itu, zakat yang dikeluarkan di akhir Ramadhan dan sebelum melaksanakan salat Idulfitri bisa dinamakan “zakat fitri” atau “zakat fitrah”, walaupun nama yang disebutkan dalam hadis-hadis adalah “zakat fitri” (sebagaimana yang akan disebutkan di bawah ini).
2. Apa hukum menunaikan zakat fitri?
Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى
“Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri.” (QS. Al-A’laa: 14)
Imam Asy-Syaukani berkata:
قال قتادة ، وعطاء ، وأبو العالية : نزلت في صدقة الفطر
“Qatadah, ‘Atha dan Abul ‘Aliyah berpendapat bahwa ayat ini turun tentang zakat fitri.” (Fath Al-Qadir)
Ibnu ‘Umar berkata:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitri sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas hamba sahaya maupun orang merdeka, pria maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa dari kalangan muslimin. Beliau memerintah agar zakat fitri ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk menunaikan shalat Idulfitri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam As-Sarakhsi dari kalangan ulama mazhab Hanafi berkata:
( الْأَصْلُ ) فِي وُجُوبِ صَدَقَةِ الْفِطْرِ حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ
“Dalil wajibnya sedekah fitri adalah hadis Ibnu ‘Umar.” (Al-Mabsuth)
Imam Ibnu Rusyd dari kalangan ulama mazhab Maliki berkata:
فأما زكاة الفطر، فإن الجمهور على أنها فرض
“Adapun zakat fitri, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa itu wajib.” (Bidayatul Mujtahid)
Imam An-Nawawi dari kalangan ulama mazhab Syafi’i berkata:
وزكاة الفطر واجبة عندنا وعند جماهير الْعُلَمَاءِ
“Zakat fitri adalah wajib menurut kami (para ulama mazhab Syafi’i) dan menurut mayoritas ulama.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)
Beliau juga berkata:
قَالَ الْبَيْهَقِيُّ وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى وُجُوبِ صَدَقَةِ الْفِطْرِ وَكَذَا نَقَلَ الْإِجْمَاعَ فِيهَا ابْنُ الْمُنْذِرِ فِي الْأَشْرَافِ
“Al-Baihaqi berkata bahwa para ulama telah bersepakat atas wajibnya sedekah fitri. Demikian pula dinukil kesepakatan para ulama tentang ini oleh Ibnul Mundzir dalam Al-Asyraf.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)
Imam Ibnu Qudamah dari kalangan ulama mazhab Hanbali berkata:
قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ
“Ibnul Mundzir berkata:
أَجْمَعَ كُلُّ مَنْ تُحْفَظُ عَنْهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ، عَلَى أَنَّ صَدَقَةَ الْفِطْرِ فَرْضٌ
“Telah sepakat seluruh ulama yang terjaga bahwa sedekah fitri itu wajb.” (Al-Mughni)
Kalau memang hukum menunaikan zakat fitri adalah wajib, maka sudah semestinya kita menunaikannya dan tidak meninggalkannya. Sebab, perbuatan wajib itu kalau dikerjakan mendapat pahala, sedangkan kalau ditinggalkan mendapat dosa.
Disebutkan dalam Fatwaislamweb:
فاعلم أن من ترك إخراج زكاة الفطر قد ترك فرضاً فرضه الله تعالى عليه، فعليه أن يتوب إلى الله تعالى ويخرجها في المستقبل ويخرجها عما مضى من السنين التي مرت عليه إذا كان موسراً يستطيع أن يخرجها في تلك السنين لكنه فرط
“Ketahuilah, siapa yang tidak menunaikan zakat fitri, maka ia telah meninggalkan kewajiban yang Allah wajibkan atas dirinya. Karena itu, hendaknya orang yang meninggalkannya bertobat kepada Allah dan menunaikannya di kemudian hari dan juga menunaikan zakat fitri yang ia tinggalkan pada tahun-tahun sebelumnya, jika memang ia mampu dan sanggup untuk menunaikannya pada waktu itu, tapi ia melalaikannya.”
3. Apa hikmah menunaikan zakat fitri?
Ibnu ‘Abbas berkata:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitri sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan kekejian serta untuk memberi makan orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum salat hari raya, maka itu zakat yang diterima. Namun, siapa yang menunaikannya setelah salat, maka itu hanyalah salah satu sedekah.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
Selain mendapatkan pahala karena menjalankan kewajiban, orang yang menunaikan zakat fitri juga telah berbuat baik kepada dirinya dan juga orang lain.
Dikatakan berbuat baik kepada dirinya, karena ia telah menunaikan perintah Allah dan Rasul-Nya dan juga telah menyucikan dirinya dari kotoran batin.
Dan dikatakan berbuat baik kepada orang lain, karena ia telah meringankan beban hidup orang yang diberi zakat tersebut yaitu orang-orang miskin.
4. Siapa yang wajib bayar zakat fitri?
(bersambung)
24 Ramadhan 1442
Abu Yahya Adiya






