Menjadi Orang Kaya dan Merdeka

Menjadi Orang Kaya dan Merdeka

“Seandainya manusia telah memiliki satu lembah emas, tentu ia ingin memiliki dua lembah emas.”

Demikianlah Nabi ﷺ mengabarkan tentang tabiat manusia. Lalu beliau ﷺ melanjutkan:

وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ

“Dan tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah!” (HR. Bukhari)

Ya, tidak ada yang bisa menghentikan kerakusannya dalam mencari dunia kecuali kalau ia sudah masuk ke dalam tanah dan meninggalkan dunia!

Maka, kenapa tidak mensyukuri nikmat yang ada di depan mata?

Kenapa selalu melihat apa yang ada di tangan orang lain?

Nabi ﷺ bersabda:

وَأْيَسْ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ تَكُنْ غَنِيًّا

“Berputus asalah dari apa yang ada di tangan manusia, niscaya engkau kaya.” (HR. Ath-Thabrani)

Ya, merasa cukuplah dengan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau kaya dan merdeka.

Imam Ibnu Hibban berkata:

ومن أحب أن يكون حرا فلا يهوى مَا ليس له

“Siapa yang ingin merdeka, maka hendaknya ia tidak menginginkan apa yang bukan miliknya.”

Mengapa demikian?

Beliau menjelaskan:

لأن الطمع فقر كما أن اليأس غنى ومن طمع ذل وخضع كما أن من قنع عف واستغنى

“Sebab, kerakusan itu merupakan kemiskinan, sebagaimana putus asa dari apa yang tidak dimiliki itu merupakan kekayaan. Siapa yang rakus, maka ia akan rendah dan hina, sebagaimana siapa yang merasa cukup, maka ia akan terhormat dan merasa kaya.” (Raudhah Al-‘Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala)

 

Siberut, 20 Syawwal 1445
Abu Yahya Adiya