“Hati-hatilah engkau dari keserakahan, karena sesungguhnya itu merupakan kemiskinan yang segera datang.” (HR. Al-Hakim)
Demikianlah Nabi ﷺ bersabda. Orang yang serakah adalah orang yang miskin. Bagaimana tidak miskin, sebanyak apa pun harta dunia, itu tidak dapat memuaskannya! Dan ketidakpuasannya itu terus melekat pada dirinya sampai tanah masuk ke mulutnya!
Nabi ﷺ bersabda:
لَوْ أنَّ لِابْنِ آدَمَ وادِيًا مِن ذَهَبٍ أحَبَّ أنْ يَكونَ له وادِيانِ، ولَنْ يَمْلَأَ فاهُ إلَّا التُّرابُ
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia ingin memiliki dua lembah emas, dan tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah.” (HR. Bukhari)
Ya, tidak ada yang bisa menghentikan kerakusan manusia dalam mencari dunia kecuali kalau ia sudah masuk ke dalam tanah dan meninggalkan dunia!
Itu menunjukkan betapa bahayanya keserakahan. Lantas, bagaimana menghilangkan keserakahan dari diri kita?
- Perbanyaklah mengingat mati
Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menulis surat kepada seseorang. Isinya:
أما بعد, فإنه من أكثر ذكر الموت رضي من الدنيا باليسير
“Amma bakdu, sesungguhnya siapa yang sering mengingat mati, niscaya ia rela dengan sedikit kenikmatan dunia.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Ya, siapa yang sadar bahwa kematian selalu mengintai, niscaya ia tidak menjadi sosok yang rakus harta. Siapa yang sadar bahwa hidup di dunia adalah sementara, niscaya ia merasa puas dengan sedikit kenikmatan dunia.
- Sadarilah bahwa dunia itu rendah
Setinggi dan semahal apa pun dunia, tetap saja Nabi ﷺ katakan, “Itu lebih rendah bagi Allah dibandingkan rendahnya bangkai kambing bagi kalian!” (HR. Muslim)
Siapa yang menyadari bahwa nilai dunia seperti itu, tentu ia tidak akan rakus mengejarnya dan memburunya.
Ibnu Ḥibbān Al-Bustī berkata:
ومن عزت عليه نفسه صغرت الدنيا في عينيه
“Siapa yang berjiwa mulia, niscaya akan terasa kecillah dunia di depan matanya.” (Rauḍah Al-’Uqalā‘ wa Nuzhah Al-Fudhalā‘)
- Sadarilah bahwa rezeki ada di tangan-Nya
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata:
أما ذبح الطمع فيسهله عَلَيْك علمك يَقِينا أَنه لَيْسَ من شَيْء يطْمع فِيهِ إِلَّا وبيد الله وَحده خزائنه لَا يملكهَا غَيره وَلَا يُؤْتى العَبْد مِنْهَا شَيْئا سواهُ
“Adapun menyembelih keserakahan, maka itu dipermudah bagimu oleh pengetahuanmu yang pasti bahwa tidak ada sesuatu pun yang diinginkan kecuali perbendaharaannya ada di tangan Allah semata. Tidak ada yang menguasainya selain Dia. Dan tidak ada yang memberi itu kepada hamba selain Dia.” (Al-Fawāid)
Tatkala seseorang sadar bahwa rezeki ada di tangan Tuhannya, tentu ia tidak akan terlalu bernafsu mengejarnya sehingga melanggar aturan-Nya.
- Sadarilah bahwa keserakahan adalah dosa besar yang mengantarkan pada kehinaan.
Ibnu Ḥibbān Al-Bustī berkata:
ومن طمع ذل وخضع كما أن من قنع عف واستغنى
“Siapa yang serakah, maka ia akan hina dan rendah, sebagaimana siapa yang merasa cukup, maka ia akan terhormat dan merasa kaya.” (Rauḍah Al-’Uqalā‘ wa Nuzhah Al-Fudhalā‘)
Siberut, 22 Rabī’ul Awwal 1447
Abu Yahya Adiya






