Faidah dari Kecintaan kepada Anshar

Faidah dari Kecintaan kepada Anshar

“Tidak ada yang mencintai kaum Anshar kecuali seorang mukmin. Dan tidak ada yang membenci mereka kecuali seorang munafik.”

Demikianlah Nabi ﷺ bersabda. Setelah menyebutkan demikian, beliau ﷺ bersabda:

فَمَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ

“Siapa yang mencintai mereka, niscaya Allah mencintainya. Dan siapa yang membenci mereka, niscaya Allah membencinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kaum Anshar adalah para sahabat Nabi yang berasal dari Madinah. Merekalah yang menyediakan tempat tinggal bagi kaum Muhajirin. Mereka pula yang memberikan pertolongan kepada rasul mereka. Mereka terdiri dari kabilah Aus dan Khazraj.

Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

1. Allah memiliki sifat cinta sesuai dengan keagungan-Nya dan kemuliaan-Nya.

Dalam hadis lain, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّه تَعَالَى إِذا أَحبَّ عبْداً دَعا جِبْريلَ، فقال:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala bila mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril, kemudian berfirman:

إِنِّي أُحِبُّ فُلاناً فَأَحْبِبْهُ

“Sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah ia!”

فَيُحِبُّهُ جِبْريلُ، ثُمَّ يُنَادِي في السَّماءِ، فَيَقُولُ:

Lalu Jibril pun mencintainya. Kemudian ia memanggil di langit dengan berkata:

إِنَّ اللَّه يُحِبُّ فُلاناً فَأَحِبُّوهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah oleh kalian fulan itu.”

فَيُحبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ في الأَرْضِ

Lalu para penghuni langit pun mencintainya. Selanjutnya diletakkanlah penerimaan terhadapnya di muka bumi.” (HR. Muslim)

Syekh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajhi berkata:

والحديث فيه إثبات المحبة لله عز وجل على ما يليق بجلالته وعظمته، خلافاً لمن أنكر المحبة من الجهمية والمعتزلة والأشاعرة، والأشاعرة يفسرونها بالإرادة

“Dalam hadis ini terdapat penetapan sifat cinta bagi Allah sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang mengingkari sifat tersebut dari kalangan Jahmiyyah, Muktazilah, dan Asy’ariyyah. Asy’ariyyah menafsirkan cinta dengan keinginan membalas kebaikan.” (Syarh Sunan Ibnu Majah)

2. Mencintai kaum Anshar adalah tanda keimanan, sedangkan membenci mereka adalah tanda kemunafikan.

Nabi ﷺ bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ، وَآيَةُ الْمُؤْمِنِ حُبُّ الْأَنْصَارِ

“Tanda seorang munafik adalah membenci Anshar. Dan tanda seorang mukmin yaitu mencintai Anshar.” (HR. Muslim)

Bukan cuma Anshar saja. Mencintai siapa pun yang menolong agama Allah adalah tanda keimanan. Sedangkan membenci siapa pun yang menolong agama Allah adalah tanda kemunafikan.

Syekh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajhi berkata:

والمراد بالأنصار: الأوس والخزرج الذين ناصروا النبي صلى الله عليه وسلم، وكذلك كل من ناصر دين الله في كل زمان، فحبهم دليل على الإيمان، وبغضهم دليل على النفاق؛ لأن من أبغض أنصار الله وأنصار دين الله فإن ذلك يدل على مرض في قلبه، ومن حبهم فإن ذلك يدل على إيمانه.

“Yang dimaksud dengan kaum Anshar yaitu kaum Aus dan Khazraj yang telah menolong Nabi ﷺ. Demikian pula setiap orang yang menolong agama Allah dalam setiap zaman, maka mencintai mereka merupakan tanda yang menunjukkan keimanan dan membenci mereka adalah tanda yang menunjukkan kemunafikan. Sebab, siapa yang membenci para penolong agama Allah, maka itu menunjukkan penyakit yang ada dalam hatinya. Sedangkan siapa yang mencintai mereka, maka itu menunjukkan keimanannya.” (Syarh Sunan Ibnu Majah)

3. Keutamaan kaum Anshar. Sebab, Nabi ﷺ mengaitkan keimanan kita dengan kecintaan kepada mereka.

 

Siberut, 17 Shafar 1446
Abu Yahya Adiya