1. Apa sebab seseorang menjadi budak?
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
الناس كلهم أحرار، ولا يجوز استرقاق الآدميين إلا بسبب واحد، وهو أن يؤسروا وهم كفار مقاتلون.
“Seluruh manusia itu merdeka dan tidak boleh menjadikan mereka sebagai budak kecuali karena satu sebab, yakni mereka ditawan dalam keadaan kafir dan memerangi kaum muslimin.” (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islaamiy)
2. Apa hukum memerdekakan budak?
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
عتق الرقاب من ذل الرق من أعظم القُرَب المستحبة. 1 – قال الله تعالى:
“Memerdekakan budak dari kehinaan perbudakan adalah termasuk pendekatan diri kepada Allah yang sangat dianjurkan. Allah berfirman:
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ فَكُّ رَقَبَةٍ
“Maka, tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki dan sukar? Tahukah kamu apa jalan yang mendaki dan sukar itu? (yaitu) melepaskan perbudakan.” (QS. Al-Balad: 11-13)
2 – وَعَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عَنهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ -:
Dan dari Abu Hurairah-semoga Allah meridainya-, ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda (HR. Bukhari dan Muslim):
أيُّمَا رَجُلٍ أعْتَقَ امْرَأً مُسْلِماً، اسْتَنْقَذَ اللهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْواً مِنْهُ مِنَ النَّارِ. متفق عليه
“Siapa pun yang membebaskan seorang muslim, maka Allah menyelamatkan anggota badannya dari api neraka lewat setiap anggota badan yang ia merdekakan.” (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islaamiy)
3. Apa hikmah dianjurkannya memerdekakan budak?
Imam Ibnu Qudamah berkata:
لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَهُ كَفَّارَةً لِلْقَتْلِ، وَالْوَطْءِ فِي رَمَضَانَ وَالْأَيْمَانِ، وَجَعَلَهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِكَاكًا لِمُعْتِقِهِ مِنْ النَّارِ، وَلِأَنَّ فِيهِ تَخْلِيصًا لِلْآدَمِيِّ الْمَعْصُومِ مِنْ ضَرَرِ الرِّقِّ وَمِلْكَ نَفْسِهِ وَمَنَافِعِهِ، وَتَكْمِيلَ أَحْكَامِهِ، وَتَمَكُّنَهُ مِنْ التَّصَرُّفِ فِي نَفْسِهِ وَمَنَافِعِهِ، عَلَى حَسْبِ إرَادَتِهِ وَاخْتِيَارِهِ.
“Karena Allah telah menjadikannya sebagai kafarat bagi orang yang membunuh tanpa disengaja, melakukan persetubuhan di siang hari Ramadhan, dan melanggar sumpah. Dan Nabi ﷺ telah menyatakan itu sebagai penyelamat bagi orang yang melakukannya dari api neraka. Dan karena itu membebaskan manusia yang terjaga dari bahaya perbudakan dan memberinya kuasa atas dirinya sendiri, manfaat yang ia miliki, menyempurnakan hukum-hukumnya, dan memberinya kesempatan untuk mengelola dirinya dan manfaat yang ia miliki sesuai dengan keinginan dan pilihannya.” (Al-Mughni)
4. Siapa yang bisa memerdekakan budak?
Imam Ibnu Qudamah berkata:
وَيَصِحُّ الْعِتْقُ مِنْ كُلِّ مَنْ يَجُوزُ تَصَرُّفُهُ فِي الْمَالِ، وَهُوَ الْبَالِغُ الْعَاقِلُ الرَّشِيد
“Memerdekakan budak sah bagi setiap orang yang boleh mengelola harta, yakni orang yang balig, berakal dan cerdas.” (Al-Mughni)
Karena itu, anak kecil dan belum balig tidak sah memerdekakan budak. Begitu juga orang yang idiot atau gila tidak sah memerdekakan budak.
5. Bagaimana kemerdekaan budak terwujud?
Imam Ibnu Qudamah berkata:
وَيَحْصُلُ الْعِتْقُ بِالْقَوْلِ، وَالْمِلْكِ، وَالِاسْتِيلَادِ
“Memerdekakan budak terwujud dengan perkataan, menguasainya, dan menghamilinya.” (Al-Mughni)
Apa maksud kemerdekaan budak terwujud dengan perkataan?
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
يقع العتق من الجاد والهازل بكل لفظ يدل عليه كأنت حر أو عتيق ونحوهما.
“Pembebasan budak terwujud dari orang yang serius maupun bercanda dengan segala perkataan yang menunjukkan pembebasan budak, seperti perkataan: ‘Engkau merdeka, atau dibebaskan!’ dan semacamnya.” (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islaamiy)
Dan apa maksud kemerdekaan budak terwujud dengan menguasainya?
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
ومن مَلَك ذا رحم محرم كأمه وأبيه ونحوهما عَتُق عليه بالملك.
“Siapa yang memiliki orang yang masih memiliki hubungan keluarga seperti ibunya, ayahnya, dan semacamnya, maka ia dimerdekakan dengan memilikinya.” (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islaamiy)
Itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
مَنْ مَلَكَ ذَا رَحِمٍ مَحْرَمٍ فَهُوَ حُرٌّ
“Siapa yang memiliki orang yang memiliki hubungan keluarga, maka ia merdeka.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Dan apa maksud kemerdekaan budak terwujud dengan menghamilinya?
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
وأيما أمة ولدت من سيدها فهي حرة بعد موته.
“Budak wanita manapun yang melahirkan anak untuk tuannya, maka ia merdeka setelah kematian tuannya.” (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islaamiy)
Itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
أَيُّمَا أَمَةٍ وَلَدَتْ مِنْ سَيِّدِهَا، فَهِيَ مُعْتَقَةٌ عَنْ دُبُرٍ مِنْهُ
“Budak wanita manapun yang melahirkan anak untuk tuannya, maka ia merdeka sepeninggal tuannya.” (HR. Ahmad)
6. Kapan waktu pembebasan budak?
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
يستحب العتق في كل وقت، ويتأكد عند ظهور الآيات كالكسوف، والخسوف ونحوهما. عَنْ أسْمَاءَ بِنْتِ أبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالتْ:
“Dianjurkan memerdekakan budak pada semua waktu dan itu lebih ditekankan tatkala muncul tanda-tanda kekuasaan Allah seperti gerhana matahari, gerhana bulan, dan semacamnya. Dari Asma binti Abi Bakar-semoga Allah meridainya-, ia berkata (HR. Bukhari dan Muslim):
أمَرَ النَّبِيُّﷺ بِالعَتَاقَةِ فِي كُسُوفِ الشَّمْسِ. متفق عليه
“Nabi ﷺ memerintahkan pembebasan budak ketika gerhana matahari.” (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islaamiy)
7. Apa pembebasan budak yang paling utama?
Abu Dzar bertanya:
فَأيُّ الرِّقَابِ أفْضَلُ؟
“Pembebasan budak manakah yang paling utama?”
Beliau menjawab:
أغْلاهَا ثَمَنًا، وَأنْفَسُهَا عِنْدَ أهْلِهَا
“Yang paling tinggi harganya dan yang paling berharga bagi tuannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
(bersambung)
Siberut, 16 Shafar 1446
Abu Yahya Adiya






