Berlindung dari Empat Perkara

Berlindung dari Empat Perkara

“Jika salah seorang dari kalian melakukan tasyahud, maka berlindunglah kepada Allah dari empat perkara!”

Demikianlah Nabi ﷺ bersabda. Lantas, apa saja empat perkara itu?

Nabi ﷺ menyebutkan:

يَقُولُ:

“Yaitu dengan mengucapkan:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa Jahannam, dari siksa kubur, dan dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim)

Dalam hadis ini Nabi ﷺ menyuruh kita berlindung dari 4 perkara:

1. Siksa Jahannam

Kenapa kita harus berlindung kepada Allah dari siksa Jahannam?

Nabi ﷺ bersabda:

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا، مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ

“Api yang dinyalakan oleh manusia di dunia ini hanya sepertujuh puluh panas neraka Jahanam.” (HR. Muslim)

Nah, kalau api dunia saja sudah demikian panas, maka bagaimana pula api neraka yang panasnya 70 kali lipat panas api dunia? Bukankah sangat panas?

Makanya, wajarlah kalau seseorang terkena sedikit saja api neraka, ia benar-benar menderita.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ لَرَجُلٌ، تُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَةٌ، يَغْلِي مِنْهَا دِمَاغُهُ

“Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan siksanya di hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan bara api neraka pada kedua telapak kakinya, karena itu mendidihlah otaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah, kalau yang paling ringan saja seperti ini, maka apalagi yang paling berat!

2. Siksa kubur

Kenapa kita harus berlindung kepada Allah dari siksa kubur?

Nabi ﷺ bersabda:

لَوْ نَجَا أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ وَلَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ روخي عنه

“Seandainya seseorang bisa selamat dari himpitan kubur, tentulah itu Sa’d bin Mu’adz. Padahal sungguh, ia juga dihimpit kubur lalu dilapangkan setelahnya.” (Al-Jami’ Ash-Shaghir)

Masing-masing kita pasti akan dihimpit kubur. Namun, setelah itu, apakah kubur dilapangkan untuk kita seperti yang dirasakan oleh Sa’d bin Mu’adz?

Tinggal kita tengok diri kita, apakah keimanan dan kesalehan kita sama seperti keimanan dan kesalehan Sa’d bin Mu’adz?

Dan masih banyak lagi rintangan di alam kubur yang lebih mengerikan dan lebih menyengsarakan. Karena itu, wajarlah kalau ‘Utsman bin ‘Affan menangis tersedu-sedu jika disebutkan tentang alam kubur.

Hani’ maula ‘Utsman berkata:

كَانَ عُثْمَانُ، إِذَا وَقَفَ عَلَى قَبْرٍ بَكَى حَتَّى يَبُلَّ لِحْيَتَهُ، فَقِيلَ لَهُ:

“Jika ‘Utsman berdiri di samping kubur, ia menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya. Ada yang bertanya kepadanya:

تُذْكَرُ الجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَا تَبْكِي وَتَبْكِي مِنْ هَذَا؟

“Disebutkan surga dan neraka engkau tidak menangis. Namun, disebutkan kubur engkau malah menangis?”

فَقَالَ:

‘Utsman menjawab:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إِنَّ القَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

“Sesungguhnya kubur adalah tempat persinggahan pertama di akhirat. Jika seseorang selamat darinya, maka tempat setelahnya akan lebih mudah lagi baginya. Namun, jika ia tidak selamat darinya, maka tempat setelahnya akan lebih berat lagi baginya.” (HR. Tirmidzi)

3. Fitnah kehidupan dan kematian.

Apa yang dimaksud fitnah kehidupan?

Ibnu Daqiq Al-‘Ied berkata:

و”فِتْنَةِ الْمَحْيَا” مَا يَتَعَرَّضُ لَهُ الْإِنْسَانُ مُدَّةَ حَيَّاتِهِ، مِنْ الِافْتِتَانِ بِالدُّنْيَا وَالشَّهَوَاتِ وَالْجَهَالَاتِ

“Fitnah kehidupan yaitu cobaan yang menimpa seorang manusia tatkala ia hidup, seperti tergoda oleh dunia, syahwat, dan kebodohan.” (Ihkaam Al-Ihkaam Syarh ‘Umdah Al-Ahkaam)

Apa yang dimaksud fitnah kematian?

Ibnu Daqiq Al-‘Ied berkata:

وَ” فِتْنَةِ الْمَمَاتِ ” يَجُوزُ أَنْ يُرَادَ بِهَا الْفِتْنَةُ عِنْدَ الْمَوْتِ.

“Sedangkan fitnah kematian bisa maksudnya cobaan yang terjadi ketika mati.” (Ihkaam Al-Ihkaam Syarh ‘Umdah Al-Ahkaam)

Kenapa kita harus berlindung kepada Allah dari fitnah kehidupan dan kematian?

Sebab, kalau kehidupan kita rusak karena noda dunia, maksiat, dan dosa, maka akan rusak pula akhir hayat kita.

Dan kalau rusak akhir hayat kita, maka nasib buruk menanti kita.

Nabi ﷺ bersabda:

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya amalan itu tergantung akhirnya.” (HR. Bukhari)

Posisi seseorang di dalam kubur ditentukan di akhir hayatnya.

Posisi seseorang ketika bangkit dari kubur ditentukan pula di akhir hayatnya.

Bahagia tidaknya seseorang di akhirat ditentukan di akhir hayat.

Kalau akhir hidupnya baik, maka akan baik pula nasibnya selanjutnya.

Namun, kalau akhir hidupnya buruk, maka akan buruk pula nasibnya selanjutnya.

Dan itulah yang ditakutkan oleh para pendahulu kita.

Suatu hari Sufyan Ats-Tsauri menangis. Orang-orang mengira ia menangisi dosanya. Maka ia pun berkata:

لَذُنُوبِي عِنْدِي أَهْوَنُ مِنْ ذَا.

“Sungguh, dosa-dosaku bagiku lebih ringan daripada ini.”

Lalu ia berkata:

إِنِّيْ أَخَافُ أَنْ أُسْلَبَ الإِيْمَانَ قَبْلَ أَنْ أَمُوْتَ.

“Sungguh, aku takut imanku dicabut sebelum aku mati!” (Siyar A’lam An-Nubala)

4. Buruknya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal

Kenapa kita harus berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal?

Sebab, banyak manusia yang tersesat karena kebohongannya. Dan kebohongannya yang paling besar adalah pengakuannya bahwa dirinya adalah Allah, Tuhan semesta alam.

Banyak orang yang tertipu olehnya. Kenapa demikian?

Sebab, disebutkan dalam hadits-hadits sahih, Dajjal adalah makhluk yang punya kemampuan menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, menghidupkan orang mati, dan kemampuan luar biasa lainnya yang tentu saja semua itu terjadi dengan izin Allah sebagai cobaan bagi umat manusia.

Fitnah yang dimunculkan oleh Dajjal itu benar-benar dahsyat. Karena itu, wajarlah kalau orang-orang banyak melarikan diri darinya ketika itu.

Nabi ﷺ bersabda:

ليَنْفِرَن النَّاسُ مِنَ الدَّجَّالِ فِي الجِبَالِ

“Sesungguhnya orang-orang akan berlarian ke gunung-gunung untuk menghindari Dajjal.” (HR. Muslim)

Dan Nabi ﷺ sendiri sudah menegaskan dahsyatnya fitnah Dajjal lewat sabdanya:

مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ

“Sejak penciptaan Adam sampai datangnya hari kiamat, tidak ada makhluk yang lebih dahsyat daripada Dajjal.” (HR. Muslim)

Karena itu, sudah seharusnya kita berlindung kepada Allah dari fitnah dan kejahatan Dajjal.

 

Siberut, 2 Rabi’ul Awwal 1446
Abu Yahya Adiya