“Apakah engkau yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”
Itulah yang ditanyakan oleh orang-orang kepada Nabi Ibrahim ﷺ setelah mereka menemukan berhala-berhala mereka dalam keadaan hancur lebur.
Lantas, apa jawaban Nabi Ibrahim ﷺ?
Nabi Ibrahim ﷺ menjawab:
بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ
“Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala-berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al-Anbiya’: 63)
Tercenganglah mereka mendengar jawaban beliau ﷺ. Lalu mereka pun berkata kepada beliau:
لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلاءِ يَنْطِقُونَ
“Sungguh, engkau pasti tahu bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” (QS. Al-Anbiya’: 65)
Ya, berhala-berhala itu tidak bisa berbicara dengan mereka. Namun, kenapa tetap mereka sembah? Apakah yang tidak bisa berbicara pantas untuk mereka sembah?
Begitu juga yang terjadi pada Bani Israel. Mereka telah disesatkan oleh Samiri.
Samiri membuat patung anak sapi yang bisa bersuara untuk mereka sehingga mereka berkata:
هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى فَنَسِيَ
“Inilah Tuhan kalian dan Tuhannya Musa, tetapi ia telah lupa!” (QS. Thaahaa: 88)
Maka Allah mencela mereka:
أَفَلا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا وَلا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلا نَفْعًا
“Maka tidakkah mereka memerhatikan bahwa patung anak sapi itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada mereka?” (QS. Thahaa: 89)
Ya, patung anak sapi itu tidak bisa berbicara dengan mereka. Namun, kenapa tetap mereka sembah? Apakah yang tidak bisa berbicara pantas untuk mereka sembah?
Imam Ath-Thabari berkata:
فكيف يكون ما كانت هذه صفته إلها؟
“Maka bagaimana bisa yang punya sifat seperti itu menjadi sembahan?” (Jami Al-Bayan Fii Tawiil Al-Quran)
Tuhan yang palsu itu tidak bisa berbicara. Adapun Tuhan yang sesungguhnya bisa berbicara.
Karena itu, batillah pendapat sekte Jahmiyyah dan Muktazilah yang menyatakan bahwa Allah tidak berbicara dan tidak memiliki sifat berbicara!
Dengan itu mereka menyamakan Allah dengan benda mati yang tidak bisa berbicara!
Pendapat yang sangat rusak dan parah. Adakah pendapat yang lebih rusak daripada pendapat mereka ini?
Bahkan, pendapat mereka itu tidak pernah diutarakan oleh kaum yang dimurkai yaitu kaum Yahudi.
Maka, siapakah yang lebih rusak dalam hal ini?
‘Ali bin ‘Ashim berkata:
ما اليهود والنصارى بأعظم على الله فرية ممن زعم أنه لا يتكلم
“Kaum Yahudi dan Nashrani tidaklah lebih parah dalam hal kedustaan atas nama Allah dibandingkan orang yang mengklaim bahwa Dia tidak berbicara.” (Al-Ibanah)
Ya, dalam hal ini, mereka tidaklah lebih parah daripada Jahmiyyah dan Muktazilah. Sebab, mereka masih mengakui bahwa Allah berbicara dan memiliki sifat berbicara!
Maka, siapakah yang lebih parah dalam hal ini?
Syekh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajhi berkata:
فالمعتزلة وقعوا في هوة سحيقة في هذه المسألة جعلتهم تحت اليهود الذين عبدوا العجل، فهم أحسن حالاً من هذه الجهة.
“Muktazilah telah terjatuh ke dalam kesalahan yang parah dalam masalah ini yang membuat mereka di bawah kaum Yahudi yang telah menyembah patung anak sapi. Karena itu, keadaan kaum Yahudi lebih baik daripada mereka dari sisi ini.” (Syarh Tafsir Ibn Katsir)
Siberut, 7 Rajab 1446
Abu Yahya Adiya






