“Tidak ada perilaku buruk yang lebih parah daripada dengki. Ia bisa membunuh orang yang memilikinya sebelum ia sampai kepada orang yang didengki.” (Adab Ad-Dunya wa Ad-Diin)
Demikianlah Mu’awiyah bin Abi Sufyan memberikan pelajaran.
Orang yang mengidap penyakit iri dan dengki pasti menderita. Bagaimana tidak menderita, ia telah menentang nikmat Allah!
‘Abdullah bin Mas’ud berkata:
لا تعادوا نعم الله عزّوجل
“Jangan kalian menentang nikmat-nikmat Allah!”
Ada yang bertanya:
ومن يعادي نعم الله؟
“Siapa orang yang menentang nikmat-nikmat Allah?”
‘Abdullah bin Mas’ud menjawab:
الَّذِينَ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Yaitu orang-orang yang iri kepada orang lain karena karunia yang Allah berikan kepadanya.” (Bahjatul Majalis wa Unsul Majalis)
Orang yang mengidap penyakit iri dan dengki pasti sengsara. Bagaimana tidak sengsara, setiap kali melihat orang lain mendapat nikmat, sempit dadanya!
Imam Al-Mawardi berkata:
وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ:
“Sebagian orang bijak berkata:
يَكْفِيك مِنْ الْحَاسِدِ أَنَّهُ يَغْتَمُّ فِي وَقْتِ سُرُورِك.
“Cukuplah bagimu bahwa orang yang hasad merasa gundah di waktu gembiramu.”
وَقِيلَ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ:
Dan dikatakan dalam perkataan hikmah:
عُقُوبَةُ الْحَاسِدِ مِنْ نَفْسِهِ.
“Hukuman bagi orang yang hasad muncul dari dirinya sendiri.” (Adab Ad-Dunya wa Ad-Diin)
Dengan memendam penyakitnya itu, orang yang iri dan dengki mengira bahwa ia bisa mencelakakan orang yang ia benci. Sejatinya, itu tidak berpengaruh sedikit pun pada orang yang ia benci.
‘Abdullah bin Al-Mu’taz berkata:
اصْبِرْ عَلَى كَيْدِ الْحَسْوِ … دِ فَإِنَّ صَبْرَكَ قَاتِلُهُ
“Bersabarlah terhadap tipu daya orang yang hasad…karena sesungguhnya kesabaranmu akan membunuhnya.
فَالنَّارُ تَأْكُلُ بَعْضَهَا … إنْ لَمْ تَجِدْ مَا تَأْكُلُهُ
Api akan memakan sebagian dirinya…jika ia tidak mendapati apa yang bisa ia makan.” (Adab Ad-Dunya wa Ad-Diin)
Kalau demikian, orang yang menyimpan iri dan dengki telah menyakiti dirinya sendiri, tanpa ia sadari. Makin bertumpuk kedengkiannya kepada orang lain, maka makin menderitalah dirinya dan makin ‘pendek’lah hidupnya.
Al-Ashma’i pernah berkata kepada seorang Arab badui:
مَا أَطْوَلَ عُمُرَك
“Alangkah panjangnya umurmu.”
Arab badui itu berkata:
تَرَكْتُ الْحَسَدَ فَبَقِيتُ.
“Aku meninggalkan hasad, karena itu aku masih bertahan.” (Adab Ad-Dunya wa Ad-Diin)
Siberut, 11 Sya’ban 1446
Abu Yahya Adiya






