Celaan terhadap Nabi di Pasar Żū Al-Majāz

Celaan terhadap Nabi di Pasar Żū Al-Majāz

“Dia orang murtad dan pendusta!”

Itulah perkataan seseorang di hadapan Rabī’ah bin ’Abbād.

Rabī’ah bercerita:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فِي سُوقِ ذِي الْمَجَازِ وَهُوَ يَقُولُ:

“Saat masih jahiliah, aku melihat Nabi ﷺ di pasar Żū Al-Majāz. Saat itu beliau berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، تُفْلِحُوا

“Wahai sekalian manusia, ucapkanlah, ‘Lā Ilāha Illā Allāh’, niscaya kalian beruntung!”

وَالنَّاسُ مُجْتَمِعُونَ عَلَيْهِ، وَوَرَاءَهُ رَجُلٌ وَضِيءُ الْوَجْهِ أَحْوَلُ ذُو غَدِيرَتَيْنِ، يَقُولُ:

Orang-orang pun mengerumuni beliau, sementara di belakang beliau ada seorang pria berwajah tampan, bermata juling, dan memiliki dua kepangan rambut. Pria itu berkata:

إِنَّهُ صَابِئٌ كَاذِبٌ

“Dia orang murtad dan pendusta!”

يَتْبَعُهُ حَيْثُ ذَهَبَ، فَسَأَلْتُ عَنْهُ، فَذَكَرُوا لِي نَسَبَ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَقَالُوا لِي:

Pria itu selalu mengikuti beliau kemana pun beliau pergi. Aku pun bertanya tentang beliau, maka orang-orang pun menyebutkan nasab Rasulullah ﷺ dan mereka berkata kepadaku:

هَذَا عَمُّهُ أَبُو لَهَبٍ

“Pria tadi adalah pamannya, yakni Abū Lahab.” (HR. Aḥmad)

 

Faidah yang dapat dipetik dari hadis ini:

  1. Hendaknya perkara pertama yang disampaikan oleh dai kepada umat adalah tentang tauhid.

 

2. Tauhid harus diucapkan dengan lisan.

Syekh Muḥammad bin Ṣaliḥ Al-’Uṡaimīn berkata:

لأن مجرد الإقرار بالقلب لا يكفى بل لابد من النطق باللسان، ولهذا قال النبي ﷺ:

“Sebab, hanya mengakui dengan hati tidaklah cukup. Bahkan, harus diucapkan dengan lisan. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda:

أُمرت أن أقاتل الناس حَتَّى يشهدوا أن لا إله إلا الله

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah.”

وقال:

Dan beliau bersabda:

يا أيها الناس، قولوا ‌لا ‌إله ‌إلا ‌الله ‌تفلحوا

 “Wahai sekalian manusia, ucapkanlah, ‘Lā Ilāha Illā Allāh’, niscaya kalian beruntung!”

فقال: «قولوا» فلابد من القول مع الاعتقاد

Beliau menyatakan, ‘Ucapkanlah’. Maka, mesti mengucapkannya bersamaan dengan meyakininya.” (Fatḥu Żī Al-Jalāl wa Al-Ikrām)

3. Tauhid adalah kunci kebahagiaan.

 

4. Seorang dai hendaknya bergerak dalam dakwah dan tidak terpaku pada satu tempat, sebagaimana dilakukan oleh Nabi ﷺ.

Syekh Muḥammad bin Ṣaliḥ Al-’Uṡaimīn berkata:

والدعوة غير التعليم، المعلم يجلس على كرسيه من جاءه علمه، أو يجلس في مكانه في المسجد من جاء علمه؛

“Dakwah itu berbeda dengan mengajar. Seorang pengajar itu duduk di kursinya. Siapa yang datang kepadanya, ia ajari. Atau, ia duduk di tempatnya, di masjid. Siapa yang datang kepadanya, ia ajari.”

Kalau memang itu sifat seorang pengajar, lantas bagaimana sifat seorang dai?

Syekh berkata:

لكن الداعية هو الذي يخرج ليعلم الناس لا بد أن يكون داعية الداعية هو الذي يتجول في القرى والمدن، ويدعو إلى الله عز وجل كما كان النبي عليه الصلاة والسلام يعرض نفسه على القبائل في أيام الموسم قبل أن يهاجر ويدعوهم إلى الله، فالداعية إلى الله تعالى لا بد له من حركة

“Namun, dai adalah orang yang keluar untuk mengajari manusia. Seorang penuntut ilmu harus menjadi dai. Seorang dai adalah orang yang berjalan di kampung-kampung dan kota-kota mengajak kepada Allah, sebagaimana Nabi ﷺ menawarkan diri beliau kepada kabilah-kabilah di musim haji sebelum hijrah dan mengajak mereka kepada Allah. Seorang yang mengajak kepada Allah harus memiliki gerakan.” (Liqā‘ Al-Bāb Al-Maftūḥ)

5. Dianjurkan memberi nasihat di tempat-tempat umum dan tempat berkumpulnya manusia.

 

6. Seorang dai harus bersabar menghadapi gangguan dalam dakwah, sebagaimana dilakukan oleh Nabi ﷺ. Beliau tetap bersabar dalam berdakwah, meskipun dicela dan dihina di depan umum. Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abū Lahab melempari beliau dengan batu hingga kaki beliau berdarah, sambil berteriak:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ‌لَا ‌تُطِيعُوهُ ‌فَإِنَّهُ ‌كَذَّابٌ

  “Wahai sekalian manusia, jangan taati dia, karena sesungguhnya dia pendusta!” (HR. Ad-Dāruquṭnī)

 

7. Benar atau tidaknya ajaran seseorang tidak bergantung pada penerimaan keluarganya.

Siapakah Abū Lahab? Bukankah ia paman Nabi? Bukankah ia mengenal kemuliaan akhlak beliau sejak kecil? Namun, apakah ia menerima dakwah beliau? Tidak! Justru dialah yang paling keras menentang dan mencela dakwah beliau ﷺ.

Oleh karena itu, jangan tertipu oleh logika yang rapuh: “Kalau memang yang ia ajarkan benar, tentu keluarganya lebih dulu menerimanya sebelum orang lain!”

Keyakinan seseorang belum tentu benar hanya karena diterima oleh keluarganya, sebagaimana keyakinan seseorang belum tentu salah hanya karena ditolak oleh keluarganya.

Maka, jangan kaitkan benar atau tidaknya ajaran seseorang dengan penerimaan keluarganya!

 

Siberut, 30 Rabī’ul Ṡāni 1447

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Arba’ūn fī As-Sīrah An-Nabawiyyah karya Dr. ’Ādil bin ’Ali Asy-Syiddi dan Muḥammad ’Abdurraḥīm Al-’Arabi.
  2. Al-Arba’ūn Ḥadīṡan fī Faḍli Lā Ilāha Illā Allāh karya Muḥammad Marzuq Ad-Da’jani.
  3. Fatḥu Żī Al-Jalāl wa Al-Ikrām bi Syarḥ Bulūg Al-Marām karya Muḥammad bin Ṣaliḥ Al-’Uṡaimīn.
  4. Liqā‘ Al-Bāb Al-Maftūḥ karya Muḥammad bin Ṣaliḥ Al-’Uṡaimīn.