Menghilangkan Kesombongan dengan Mengingat Kekurangan

Menghilangkan Kesombongan dengan Mengingat Kekurangan

“Apakah Anda tidak tahu kalau ini adalah jalan yang dibenci oleh Allah?”

Itulah perkataan Mālik bin Dinār kepada Al-Muhallab, penguasa Khurasan, tatkala ia berjalan dengan pongah.

Tersinggung, Al-Muhallab menoleh dan berkata:

أَمَا تَعْرِفُنِي؟

“Apa engkau tidak mengenalku?”

Mālik menjawab dengan tenang, tetapi menghunjam:

بَلَى أَعْرِفُك، أَوَّلُك نُطْفَةٌ مَذِرَةٌ وَآخِرُك جِيفَةٌ قَذِرَةٌ، وَأَنْتَ بَيْنَ ذَلِكَ تَحْمِلُ الْعَذِرَةَ

“Tentu aku mengenalmu. Awal dirimu hanyalah air yang terpencar. Akhir hidupmu adalah bangkai yang kotor, dan di antara awal dan akhir itu, engkau membawa kotoran!”

Kata-kata itu menghantam kesadaran Al-Muhallab. Ia menjadi malu dan sadar, lalu berkata kepada Mālik:

الآنَ عَرَفْتَنِي حَقَّ المَعْرِفَةِ

“Sekarang engkau telah benar-benar mengenal diriku.” (Siyar A’lām An-Nubalā‘)

Kita semua bermula dari sesuatu yang sama, yakni tetesan mani yang tak berharga.

Allah berfirman:

أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

“Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina?” (QS. Al-Mursalāt: 20)

Ya, asalmu itu dari air yang rendah. Dan pada akhirnya, tubuhmu akan menjadi bangkai yang bercampur dengan tanah. Sedangkan sepanjang hidupmu, engkau membawa kotoran dan darah. Lalu untuk apa menyombongkan diri dan bersikap pongah?

Syekh ’Abdul ’Azīz bin ’Abdullāh bin Bāz berkata:

وإذا تذكر ضعفه وأنه من نطفة ضعيفة من ماء مهين وأنه يحتاج إلى حمام لقضاء الحاجة، وأنه يأكل من هنا ويخرج من هنا، وأنه إذا لم يستقم على طاعة الله صار إلى النار عرف ضعفه، وأنه مسكين ولا يجوز له أن يتكبر.

“Apabila ia ingat akan kelemahannya dan bahwa ia berasal dari setetes air yang lemah, dari air yang rendah, ia juga membutuhkan kamar mandi untuk membuang hajatnya, ia makan dari satu tempat dan mengeluarkannya dari tempat lain dan bahwa jika tidak istikamah dalam ketaatan kepada Allah maka ia akan menuju neraka, niscaya ia mengetahui betapa lemahnya dirinya, bahwa ia perlu dikasihani, dan tidak pantas ia bersikap sombong.” (Majmū’ Fatāwā)

Jika kita mau menyadari asal kita yang penuh kekurangan, niscaya kita terhindar dari kesombongan.

Kalaupun sekarang kita memiliki kelebihan, maka siapakah yang memberikannya?

Siapa yang memberi kita nikmat kesehatan dan kekuatan?

Siapa yang memberi kita nikmat ketampanan dan kecantikan?

Siapa yang memberi kita nikmat kekayaan dan kekuasaan?

Allah berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Naḥl: 53)

Ya, apa pun nikmat yang ada pada kita, itu datangnya dari Allah. Dia memberikan berbagai nikmat kepada kita, dan Dia sanggup pula untuk mencabutnya dari kita.

Jika kita menyadari hal ini, niscaya hilanglah kesombongan kita.

Syekh ’Abdul ’Azīz bin ’Abdullāh bin Bāz berkata:

فليتذكر عظمة الله ويتذكر أن الله هو الذي أعطاه المال، وأعطاه الوظيفة، وأعطاه الجاه وأعطاه الوجه الحسن، أو غير ذلك يتذكر أن من شكر ذلك التواضع وعدم التكبر، لا يتكبر لمال أو لوظيفة أو لنسب أو لجمال أو لقوة أو لغير ذلك

“Hendaknya ia mengingat keagungan Allah dan ingat bahwa Allah-lah yang telah memberinya harta, jabatan, kedudukan, wajah yang tampan, dan selainnya. Hendaknya ia juga ingat bahwa di antara bentuk mensyukuri nikmat tersebut adalah bersikap rendah hati dan tidak sombong. Ia tidak boleh sombong karena harta, jabatan, nasab, ketampanan, kekuatan, atau selain itu.” (Majmū’ Fatāwā)

 

Siberut, 17 Jumādā Aṡ-Ṡāniyah 1447
Abu Yahya Adiya