Terpedaya Anak dan Harta

Terpedaya Anak dan Harta

Ketika memiliki sedikit harta, ia berkeluh kesah; dan ketika memiliki banyak harta, ia menyombongkan diri dan bersikap pongah.

Ketika memiliki anak yang durhaka, ia berduka dan mengeluh ke mana-mana; dan ketika memiliki anak yang taat, ia merasa hebat dan membanggakannya di berbagai tempat.

Itulah keadaan orang yang terpedaya oleh anak dan harta.

Allah berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

“Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah fitnah.” (QS. At-Tagābun: 15)

Apa maksud fitnah di sini?

Imam Ibnu Kaṡīr berkata:

اختبار وابتلاء من الله تعالى لخلقه ليعلم من يطيعه ممن يعصيه

“Yaitu cobaan dan ujian dari Allah untuk hamba-hamba-Nya agar diketahui siapa yang menaati-Nya dan siapa yang mendurhakai-Nya.” (Tafsīr Al-Qur‘ān Al-’Aẓīm)

Hartamu dan anakmu adalah cobaan bagimu. Terkadang Allah memberimu harta yang sedikit dan anak yang durhaka, untuk mengujimu: apakah engkau bersabar terhadap ujian tersebut atau tidak. Terkadang pula Allah memberimu harta yang berlimpah dan anak yang taat, untuk mengujimu: apakah engkau bersyukur atas nikmat tersebut atau tidak.

Oleh karena itu, jadikanlah harta dan anakmu sebagai ladang kebaikan, bukan ladang keburukan.

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munāfiqūn: 9)

Sebagian orang, karena sibuk mencari harta, sampai meninggalkan salat, jarang menyentuh Al-Qur’an, dan tidak pernah menghadiri majlis ilmu. Sebagian yang lain, karena sibuk mengurus anak, menjadi malas beribadah, malas berzikir, dan enggan menambah ilmu.

Jangan sampai kesibukanmu mencari harta dan mengurus anak membuatmu lupa beribadah kepada Allah, lupa mengingat-Nya dan tidak menambah ketakwaan kepada-Nya.

Jadikanlah harta dan anakmu sebagai ladang kebaikan bagimu, bukan sebagai sumber keburukan bagimu.

 

Siberut, 10 Jumādā Aṡ-Ṡāniyah 1447

Abu Yahya Adiya