Musibah Terbesar Bukan pada Dunia

Musibah Terbesar Bukan pada Dunia

Bencana yang merusak fisik dan harta kita memang berbahaya. Namun, bencana yang merusak agama dan keimanan kita jauh lebih berbahaya.

Karena itu, di antara doa yang sering Nabi ﷺ ucapkan ialah:

  وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا

“Janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami.” (HR. Tirmiżī)

Apa maksud doa beliau ini?

Imam Al-Muẓhirī menjelaskan:

أي: ولا توصِلْ إلينا ما يَنْقُصُ به دينُنا وطاعتُنا من اعتقادِ سوءٍ، أو أَكْلِ حرامٍ، أو فترةٍ في العبادةِ وما أشبهَ ذلك

“Maksudnya, janganlah Engkau menimpakan kepada kami apa yang dapat mengurangi agama dan ketaatan kami, baik berupa keyakinan yang buruk, memakan yang haram, kelesuan dalam beribadah, maupun hal-hal lain yang semacamnya.” (Al-Mafātīḥ fī Syarḥ Al-Maṣābīḥ)

Ketika seseorang mulai tidak dapat mengontrol makanan yang masuk ke dalam perutnya, malas beribadah, dan rusak akidahnya, itu merupakan tanda bahwa musibah telah menimpa agamanya.

Syekh Muḥammad bin Ṣaliḥ Al-’Uṡaimīn berkata:

هناك مصائب خفيفة في البدن كالزكام والصداع اليسير وما أشبه ذلك  وهناك مصائب في الدين خفيفة كشيء من المعاصي وهناك مصائب في الدين مهلكة مثل الكفر والشرك والشك وما أشبه ذلك

“Ada musibah ringan yang menimpa badan seperti flu, sakit kepala ringan, dan semacamnya. Ada pula musibah ringan yang menimpa agama seperti sedikit maksiat. Namun, ada pula musibah yang membinasakan dalam agama, seperti kekafiran, kemusyrikan, keraguan, dan semacamnya.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣalīḥīn)

Artinya, musibah yang menimpa agama seseorang jauh lebih berbahaya daripada musibah yang menimpa badannya. Karena itu, Syekh Muḥammad bin Ṣaliḥ Al-’Uṡaimīn berkata:

فإذا أصيب الإنسان بدينه والعياذ بالله فهذه أعظم مصيبة

“Jika seseorang tertimpa musibah dalam agamanya-kita berlindung kepada Allah darinya-maka itu merupakan musibah yang paling besar.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣalīḥīn)

Ya, itulah musibah yang paling besar. Sebab, itu merugikan seseorang di dunia dan akhirat. Itulah musibah yang sesungguhnya.

Imam Aṣ-Ṣan’ānī berkata:

فإنها هي المصيبة الحقيقية ولذا يقال:

“Itulah musibah yang sebenarnya. Karena itu dikatakan:

إذا أبقت الدنيا على المرء دينه … فما فاته فيها فليس بضائري

“Jika dunia masih menyisakan bagi seseorang agamanya…maka apa pun dunia yang luput darinya, tidak akan membahayakannya.” (At-Tanwīr Syarḥ Al-Jāmi’ Aṣ-Ṣagīr)

Maka…

Jika engkau bermaksiat dan tidak menaati Tuhanmu, itu lebih berbahaya daripada banjir yang menerjangmu.

Jika engkau mengada-ada dalam agama dan tidak mengikuti sunah nabimu, itu lebih berbahaya daripada tanah longsor yang menimbunmu.

Jika engkau menyekutukan Tuhanmu dan tidak mengesakan-Nya, itu lebih berbahaya daripada tsunami yang membinasakanmu dan meluluhlantakkan rumahmu.

Musibah yang menimpa agamamu jauh lebih berat daripada musibah yang menimpa duniamu.

 

Siberut, 13 Jumādā Aṡ-Sāniyah 1447

Abu Yahya Adiya