“Kalau memang ini bidah, kenapa banyak orang yang melakukannya?! Apakah Anda yang benar lalu mereka semua sesat dan salah?!”
Itulah salah satu argumen para ahli bidah untuk melegalkan bidah yang mereka lakukan.
Mereka menyangka bahwa semakin banyak orang yang mengamalkan suatu amalan, berarti semakin benarlah amalan tersebut.
Oleh karena itu, apabila di tengah masyarakat banyak orang yang melakukan suatu bidah, bahkan itu sudah menjadi tradisi mereka, berarti-menurut mereka-amalan tersebut sudah bukan lagi bidah, melainkan “sunnah”! Padahal…
Alangkah seringnya Allah berfirman dalam Al-Quran:
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَشْكُرُونَ
“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak bersyukur…”
Dan alangkah seringnya Allah berfirman dalam Al-Quran:
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui…”
Dan alangkah seringnya Allah berfirman dalam Al-Quran:
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ
“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak beriman…”
Bahkan, Allah berfirman:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Kalau engkau menaati kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’ām: 116)
Syekh Muḥammad At-Tamīmī berkata:
الخامسة: أن من أكبر قواعدهم الاغترار بالأكثر، ويحتجون به على صحة الشيء، ويستدلون على بطلان الشيء بغربته، وقله أهله
“Sifat jahiliah kelima: termasuk kaidah utama orang-orang di zaman jahiliah yaitu tertipu oleh jumlah yang banyak. Mereka menjadikan banyaknya orang sebagai dalil atas kebenaran sesuatu, dan menjadikan keasingan suatu perbuatan dan sedikitnya pelakunya sebagai dalil atas kebatilannya.” (Syarḥ Masāil Jāhiliyyah).
Sesuatu yang banyak ditolak manusia belum tentu batil. Sebagaimana sesuatu yang banyak diyakini manusia belum tentu benar.
Begitu pula, sesuatu yang banyak ditinggalkan masyarakat belum tentu merupakan kemungkaran. Sebagaimana sesuatu yang banyak dilakukan masyarakat belum tentu merupakan kebaikan.
Yang menjadi patokan adalah dalil!
Apakah suatu keyakinan memiliki dalil atau tidak? Apakah suatu amalan memiliki landasan atau tidak?
Jika ada, maka keyakinan itu boleh diyakini dan amalan itu boleh diamalkan.
Jika tidak ada, maka hal tersebut harus ditinggalkan, walaupun banyak yang meyakininya atau mengamalkannya.
Kita tidak beribadah kepada Allah dengan menaati dan mengikuti manusia. Kita beribadah kepada-Nya dengan menaati dan mengikuti Nabi-Nya.
Imam Aṭ-Ṭurṭusyī berkata:
وأما من تعلق بفعل أهل القيروان؛ فهذا غبي يستدعي الأدب دون المراجعة! فنقول لهؤلاء الأغبياء: إن مالك بن أنس رأى إجماع أهل المدينة حجة، فرده عليه سائر فقهاء الأمصار، هذا وهو بلد رسول الله ﷺ وعرصة الوحي، ودار النبوة، ومعدن العلم، فكيف بالقيروان؟!
“Adapun orang yang bergantung pada perbuatan penduduk Qairawan, maka ia adalah orang bodoh yang memerlukan adab, tanpa perlu dipertimbangkan lagi. Kita katakan kepada orang-orang bodoh itu: sesungguhnya Mālik bin Anas berpendapat bahwa kesepakatan penduduk Madinah adalah hujah. Namun, pendapatnya dibantah oleh para ahli fikih dari berbagai negeri. Padahal, Madinah adalah kota Rasulullah ﷺ, tempat turunnya wahyu, negeri kenabian, dan sumber ilmu. Maka bagaimana pula dengan Qairawan?!” (Al-Hawādiṡ wa Al-Bida’)
Ya, apabila amalan penduduk Qairawan di Tunisia saja tidak dapat dijadikan ukuran, apalagi amalan penduduk Indonesia!
Oleh karena itu, ikutilah sunnah, walaupun sedikit orang yang mengamalkannya. Dan jauhilah bidah, walaupun banyak orang yang mengerjakannya.
Imam Fuḍail bin ’Iyāḍ berkata:
الزمْ طرقَ الهدَى، ولا يضرُّكَ قلّةُ السالكين، وإياك وطرقَ الضلالة، ولا تغترَّ بكثرة الهالكين
“Tempuhlah jalan petunjuk, dan tidak akan membahayakanmu sedikitnya orang yang menitinya. Jauhilah jalan-jalan kesesatan, dan jangan engkau tertipu oleh banyaknya orang yang binasa karenanya.” (Al-Ażkār)
Siberut, 8 Sya’bān 1442
Abu Yahya Adiya






