Suatu hari Abu Waqid Al-Laitsi dan beberapa orang yang baru masuk islam pergi menuju Hunain bersama Rasulullah ﷺ . Di saat itu orang-orang musyrik memiliki sebatang pohon bidara yang dikenal dengan nama Dzatu Anwath. Mereka selalu mendatangi pohon tersebut dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya.
Abu Waqid Al-Laitsi berkata:
فَمَرَرْنَا بِالسِّدْرَةِ، فَقُلْنَا:
“Kami pun melewati pohon bidara itu, lalu kami berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ
“Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath, sebagaimana mereka memilikinya!”
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
اللهُ أَكْبَرُ، إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ: {اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Allahu Akbar! itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian). Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian telah mengucapkan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa, “Buatkanlah untuk kami sembahan sebagaimana mereka memiliki sembahan!” Musa menjawab, “Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengerti!”
لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم
Kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian!” (HR. Tirmidzi dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)
Ada beberapa faidah yang bisa kita ambil dari hadis ini:
- Di antara kebiasaan orang-orang musyrik zaman dahulu yaitu mencari berkah, hoki, dan keberuntungan dari pohon-pohon tertentu.
- Siapa yang memiliki kebiasaan yang salah lalu meninggalkannya, maka hendaknya ia selalu waspada. Sebab, bisa jadi kebiasaannya itu masih tersisa dalam hatinya dan suatu saat akan muncul lagi tanpa ia sadari.
Seperti yang terjadi pada para sahabat yang baru masuk Islam itu.
- Disyariatkan bertakbir atau bertasbih ketika mendengar atau melihat perkara yang mengherankan.
Sebagaimana yang diucapkan Nabi ﷺ ketika mendengar permintaan para sahabatnya yang baru masuk Islam itu.
- Larangan menyerupai orang-orang kafir dan musyrik.
Sebagaimana Nabi ﷺ mengingkari para sahabatnya yang hendak meniru orang-orang musyrik dalam hal mencari berkah dari pohon. Beliau mengingkari mereka dengan mengucapkan, “Allahu Akbar! itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian).”
Kalau begitu, meniru dan menyerupai orang-orang musyrik dan kafir adalah perkara yang terlarang.
Meniru dan menyerupai yang terlarang di sini maksudnya dalam hal ibadah dan ciri khas mereka.
Nabi ﷺ bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا، لَا تَشَبَّهُوا بِاليَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى
“Bukan termasuk golongan kita orang yang meniru orang-orang selain kita, karena itu janganlah kalian meniru orang-orang Yahudi dan Nashrani.” (HR. Tirmidzi)
- Disyariatkan menutup pintu menuju kemusyrikan dan kekufuran.
Sebagaimana Nabi ﷺ mengingkari permintaan para sahabatnya dalam rangka menutup jalan menuju syirik akbar, yaitu beribadah dan berdoa kepada pohon tersebut.
Perbuatan itu pula yang dicontoh oleh sahabatnya yang mulia, Umar bin Al-Khaththab.
Disebutkan dalam Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari bahwasanya di masa khalifah Umar bin Al-Khaththab, banyak orang berdatangan ke sebuah pohon yang pernah jadi tempat peristiwa bersejarah dalam Islam, yaitu peristiwa Bai’atur Ridwan.
Dalam peristiwa tersebut, seribu lima ratus orang sahabat Nabi ﷺ bersumpah setia untuk membela Nabi ﷺ sampai mati.
Di masa pemerintahannya, Umar bin Al-Khaththab melihat orang-orang banyak mengunjungi pohon tersebut, dan melaksanakan salat di situ. Maka, Umar pun memerintahkan agar pohon itu ditebang. Demi menutup pintu menuju kemusyirikan.
Maka, segala pintu menuju kemusyrikan harus ditutup dan dihilangkan.
Ibnul Qayyim berkata:
فإذا كان اتخاذ هذه الشجرة لتعليق الأسلحة والعكوف حولها اتخاذ إله مع الله تعالى، مع أنهم لا يعبدونها، ولا يسألونها. فما الظن بالعكوف حول القبر، والدعاء به ودعائه، والدعاء عنده؟!
“Kalau menjadikan pohon tadi untuk menggantungkan senjata dan berdiam di sekitarnya dianggap membuat sembahan selain Allah, padahal mereka tidak menyembahnya dan tidak meminta kepadanya, maka bagaimana kiranya dengan berdiam diri di sekitar kubur, berdoa dengannya, menyerunya, dan berdoa di sisinya?
فأى نسبة للفتنة بشجرة إلى الفتنة بالقبر لو كان أهل الشرك والبدعة يعلمون؟!
Maka, mana yang lebih pantas menimbulkan fitnah, pohon atau kubur, kalau saja pelaku syirik dan bidah itu mengetahui?!” (Ighatsah Al-Lahafan)
- Nabi ﷺ tidak pernah mendiamkan kesalahan dalam akidah.
Seperti yang dilakukan Nabi ﷺ terhadap para sahabatnya yang terjatuh dalam kesalahan tadi. Dan itu adalah kesalahan yang menyangkut akidah.
Lihatlah, dalam keadaan genting, yaitu menjelang perang, beliau ﷺ tetap mengingkari kesalahan mereka.
Lihatlah, dalam keadaan mereka baru masuk Islam, beliau ﷺ tetap mengingkari kesalahan mereka.
Beliau ﷺ tidak menundanya, dan tidak mendiamkannya serta tidak pula membiarkannya.
Bandingkan perbuatan beliau dengan ucapan sebagian orang:
“Jangan memecah belah umat dengan pembahasan tauhid dan syirik!”
“Musuh-musuh Islam sedang mengepung umat ini dari berbagai penjuru, maka jangan sibukkan mereka dengan pembahasan tauhid dan syirik!”
Silahkan bandingkan dakwah mereka dengan dakwah nabi kita!
Siberut, 13 Syawwal 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Al-Hafizh Ibnu Hajar.
- As-Sabiil Ilaa Al-‘Izz wa At-Tamkin karya Syekh ‘Abdul Malik Ar-Ramadhani.






