“Tidak usah membahas tentang perdukunan! Tidak usah membahas tentang hukum istigasah kepada orang mati! Tidak usah membahas tentang ketinggian Allah! Musuh-musuh Islam dari berbagai penjuru sedang mengepung umat ini, maka jangan memecah belah mereka dengan pembahasan semacam itu!”
Kalimat semacam itu bisa jadi terlontar dari sebagian orang, kalau kita sibuk memperingatkan umat dari kerusakan yang mengancam akidah mereka.
Apakah boleh kita mendiamkan kesalahan demi menjaga “persatuan”?
Apakah boleh kita mengalah, terutama dalam perkara yang menyangkut masalah akidah?
Beberapa orang baru masuk Islam lalu hendak berperang bersama Nabi ﷺ. Mereka meminta kepada beliau ﷺ agar disediakan pohon sebagai tempat mencari berkah.
Nabi ﷺ mengingkari permintaan mereka dengan bersabda:
اللهُ أَكْبَرُ، إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ:
“Allahu Akbar! Itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian). Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian telah mengucapkan perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa:
اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ
“Buatkanlah untuk kami sembahan sebagaimana mereka memiliki sembahan!”
قَالَ
Musa menjawab:
إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengerti!”
لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم
Sungguh, kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian!” (HR. Tirmidzi dan Ath-Thabrani)
Dalam keadaan genting, menjelang perang, beliau ﷺ tetap mengingkari kesalahan mereka.
Dalam keadaan mereka baru masuk Islam, beliau ﷺ tetap mengingkari kesalahan mereka.
Beliau ﷺ tidak menundanya, dan tidak membiarkannya. Beliau ﷺ tetap mengingkarinya.
Beliau ﷺ tidak pernah mendiamkan kesalahan dengan alasan menjaga “persatuan”, apalagi kalau kesalahan tersebut bisa merusak akidah orang yang beriman.
Maka, tidak boleh seorang muslim mendiamkan kesalahan, apalagi kalau itu menyangkut masalah akidah.
Mungkin ada yang ‘memprotes’ itu dengan berkata, “Bagaimana dengan perbuatan Nabi ﷺ melakukan perjanjian dengan kaum Yahudi di Madinah? Bukankah itu menunjukkan bahwa kita diperbolehkan mengalah dalam masalah akidah?”
Seseorang mengajukan pertanyaan semacam itu kepada Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin:
بعض إخواننا الدعاة إلى الله عز وجل في البلاد رأوا أن من المصلحة أنهم يتفقون مع الصوفية في عدم الكلام في المحاضرات أو في الخطب في الاستواء مثلاً أو الاستغاثة وغيرها من الأشياء، واستدلوا باتفاق النبي صلى الله عليه وسلم مع اليهود، فهل الاستدلال صحيح يا شيخ؟ ما توجيهكم؟
“Sebagian saudara kita para dai di jalan Allah di suatu negeri memandang bahwa termasuk maslahat mereka bersepakat dengan kaum Sufi untuk tidak berbicara tentang ketinggian Allah-contohnya-atau istigasah dan perkara lainnya dalam ceramah dan khutbah. Mereka berdalil dengan kesepakatan Nabi ﷺ dengan kaum Yahudi. Apakah berdalil dengan demikian itu benar wahai Syekh? Apa arahan Anda?”
Syekh menjawab:
لا هذا الاستدلال غير صحيح؛
“Tidak. Berdalil dengan itu tidak benar.
لأن هذا الذي تذكر هو قوله تعالى:
Karena, perbuatan yang engkau sebutkan itu disinggung oleh firman-Nya:
{وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ} [القلم: 9]
“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al-Qalam: 9)
المداهنة في الدين لا تجوز،
Mudahanah dalam masalah agama (mengalah dalam masalah agama untuk menjaga urusan dunia) itu tidak diperbolehkan.
والرسول عليه الصلاة والسلام إنما صالح اليهود على ألا يعتدي أحد على أحد، لا على أن نرضى بدينهم أبداً ولا يمكن يرضى الرسول بدينهم أبداً
Sesungguhnya Rasul ﷺ berdamai dengan kaum Yahudi agar tidak ada satu pihak yang menganiaya pihak lain, bukan agar kita rida dengan agama mereka dan Rasul tidak mungkin rida dengan agama mereka sama sekali.
وهذا الذي تذكر يعني الرضا بما هم عليه من الباطل، فالمصالحة على هذا الوجه هي مداهنة في الواقع، والمداهنة محرمة
Apa yang engkau sebutkan tadi yaitu rida dengan ajaran mereka yang batil, maka berdamai dari sisi ini kenyataannya adalah mudahanah. Dan mudahanah itu diharamkan.
لا يجوز لأحد أن يداهن أحداً في دين الله، بل يجب بيان الحق مهما كان
Tidak boleh seorang pun mengalah kepada orang lain dalam agama Allah untuk menjaga urusan dunia. Bahkan, ia wajib menjelaskan kebenaran, bagaimana pun keadaannya.
لكن من الممكن إذا رأوا من المصلحة ألا يبدءوا بالإنكار قبل كل شيء، وأن يبدءوا أولاً بالشرح الصحيح
Namun, mungkin saja jika para dai itu memandang termasuk maslahat agar tidak mulai mengingkari terlebih dahulu dan memulai dengan memberikan penjelasan yang benar terlebih dahulu.
فمثلاً إذا تكلم عن الاستواء كما قلتم يشرح معنى الاستواء ويبين حقيقته دون أن يقول ويوجد أناس يفسرونه بكذا إلا بعد أن يتوطن الناس ويعرفوا الحق ويسهل عليهم الانتقال من الباطل إلى الحق.
Contohnya jika berbicara tentang ketinggian Allah-sebagaimana yang engkau sebutkan-, maka menjelaskan makna ketinggian Allah dan menjelaskan hakekatnya tanpa menyebutkan bahwa ada orang yang menafsirkan ini dan itu kecuali setelah orang-orang merasa siap dan mengetahui kebenaran serta mudah bagi mereka untuk berpindah dari kebatilan menuju kebenaran.” (Liqa Al-Bab Al-Maftuh)
Siberut, 29 Jumada Al-Ulaa 1445
Abu Yahya Adiya






