Apa Hukum Meminta Bantuan Orang Kafir dalam Perang?

Apa Hukum Meminta Bantuan Orang Kafir dalam Perang?

Nabi ﷺ pergi menuju Badr. Tatkala beliau sampai di Harratul Wabarah, beliau ditemui oleh seorang pria yang terkenal gagah berani. Maka para sahabat Nabi ﷺ merasa gembira ketika melihat kedatangannya. Pria tersebut berkata kepada Nabi ﷺ:

جِئْتُ لِأَتَّبِعَكَ وَأُصِيبَ مَعَكَ

“Aku datang untuk mengikutimu dan berperang bersamamu.”

Nabi ﷺ bertanya kepadanya:

تُؤْمِنُ بِاللهِ وَرَسُولِهِ؟

“Engkau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?”

Ia menjawab:

لَا

“Tidak.”

Beliau bersabda:

فَارْجِعْ، ‌فَلَنْ ‌أَسْتَعِينَ ‌بِمُشْرِكٍ

“Kembalilah! Aku tidak membutuhkan pertolongan orang musyrik.”

Kemudian pergilah pria itu. Hingga ketika pasukan muslimin dekat dengan sebatang pohon, pria itu datang kembali menemui Nabi ﷺ dan mengucapkan kepada beliau perkataan yang sudah diucapkan sebelumnya, dan beliau juga mengajukan pertanyaan seperti yang sudah ditanyakan sebelumnya. Beliau bersabda:

فَارْجِعْ، ‌فَلَنْ ‌أَسْتَعِينَ ‌بِمُشْرِكٍ

“Kembalilah! Aku tidak membutuhkan pertolongan orang musyrik.”

Ia pun pergi lalu menemui lagi Nabi di Baida`. Beliau pun mengajukan pertanyaan seperti yang sudah ditanyakan sebelumnya:

تُؤْمِنُ بِاللهِ وَرَسُولِهِ؟

“Engkau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?”

Pria itu pun menjawab:

نَعَمْ،

“Ya.”

Maka beliau ﷺ pun bersabda kepadanya:

فَانْطَلِقْ

“Kalau begitu jalanlah.” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadis ini, Ibnu Al-Munżir, Al-Jūzajāniyy dan beberapa ulama berpendapat terlarangnya meminta pertolongan kaum musyrikin dalam jihad.

Syekh Muḥammad bin Ṣaleh Al-‘Uṡaimīn berkata:

فيستفاد من هذا الحديث فوائد: أولاً: الحذر من المشركين حتى وإن تظاهروا بالمعاونة والمساعدة، فالواجب الحذر منهم.

ومن فوائد الحديث: رد من خرج مع المسلمين لمساعدتهم في الغزو، لأن النبي ﷺ رده وقال:

“Dari hadis ini bisa diambil beberapa faidah, yakni pertama: waspada terhadap orang-orang musyrik, walaupun menampakkan pertolongan dan bantuan. Yang wajib adalah mewaspadai mereka. Dan di antara faidah hadis ini yakni menolak orang kafir yang keluar bersama muslimin untuk menolong mereka dalam perang. Sebab, Nabi ﷺ menolak orang tadi dan bersabda:

لن أستعين بمشرك

“Aku tidak membutuhkan pertolongan orang musyrik.” (Fatḥu żī Al-Jalāl wa Al-Ikrām Bisyarḥi Bulūg Al-Marām)

Adapun para ulama lainnya, mereka berpendapat boleh meminta pertolongan kepada orang-orang kafir dalam jihad. Apa dalil mereka?

Nabi ﷺ bersabda:

سَتُصَالِحُونَ ‌الرُّومَ صُلْحًا آمِنًا، وَتَغْزُونَ أَنْتُمْ وَهُمْ عَدُوًّا مِنْ وَرَائِكُمْ

“Kalian akan mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Romawi, dan kalian bersama mereka akan menyerang musuh di belakang kalian.” (HR. Abū Dāwūd)

As-Sindī berkata:

والمعنى أنهم بسبب المصالحة يعينونكم على أعدائكم الذين هم وراؤكم.

“Maknanya yaitu karena ada perjanjian damai mereka menolong kalian dalam menghadapi musuh kalian yang ada di belakang kalian.” (Fatḥu Al-Wadūd fī Syarḥ Sunan Abī Dāwūd)

Imam Asy-Syaukānī berkata:

وقد استعان النبي ﷺ بالمنافقين في يوم أحد وانخزل عنه عبد الله بن أبي بأصحابه وكذلك استعان بجماعة منهم في يوم حنين وقد ثبت في السير أن رجلا يقال: له قزمان خرج مع النبي ﷺ يوم أحد وهو مشرك فقتل ثلاثه من بني عبد الدار حملة لواء المشركين حتى قال: رسول الله ﷺ:

“Nabi ﷺ pernah meminta pertolongan kepada orang-orang munafik di perang Uhud, dan ternyata ‘Abdullāh bin Ubay memisahkan diri dari beliau bersama teman-temannya. Demikian pula, beliau pernah meminta pertolongan kepada beberapa orang dari mereka di perang Hunain. Dan dalam riwayat perjalanan hidup beliau tercatat bahwa ada seorang pria yang bernama Qazmān keluar bersama Nabi ﷺ pada perang Uhud dalam keadaan musyrik. Lalu ia membunuh tiga orang dari Bani Abdu Ad-Dār pembawa panji kaum musyrikin, hingga Rasulullah ﷺ bersabda:

إن الله ليأزر هذا الدين بالرجل الفاجر

“Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini lewat orang yang fasik.”

وخرجت خزاعة مع النبي ﷺ على قريش عام الفتح وهم مشركون

Dan suku Khuzā’ah keluar bersama Nabi ﷺ untuk menghadapi Quraisy di hari penaklukan kota Mekah, padahal mereka musyrik.” (Ad-Darārī Al-Muḍiyyah Syarḥ Ad-Durar Al-Bahiyyah)

Kalau demikian, ada hadis yang lahirnya melarang meminta pertolongan kepada orang-orang kafir dalam perang dan ada hadis yang lahirnya membolehkan permintaan tolong kepada mereka dalam perang.

Maka, bagaimana mendudukkan demikian?

Imam Asy-Syaukānī berkata:

فيجمع بين الأحاديث بأن الإستعانة بالمشركين لا تجوز إلا لضرورة

“Hadis-hadis ini digabungkan yakni bahwa meminta pertolongan kepada kaum musyrikin tidak diperbolehkan kecuali karena darurat.” (Ad-Darārī Al-Muḍiyyah Syarḥ Ad-Durar Al-Bahiyyah)

Syekh Muḥammad bin Ṣaleh Al-‘Uṡaimīn berkata:

فالذي يظهر أني قال الأصل منع الاستعانة بالمشركين في الحرب لكن إذا كان هناك مصلحة ومنفعة محققة مع الأمن من غدرهم ومكرهم فإن ذلك لا بأس به، لأنه مصلحة بلا مضرة والحكم يدور مع علته وجودًا وعدمًا.

“Yang tampak yakni asalnya terlarang meminta tolong kepada orang-orang musyrik dalam perang. Namun, jika di sana ada maslahat dan manfaat yang jelas serta aman dari pengkhianatan dan makar mereka, maka yang demikian tidak mengapa. Sebab, itu adalah kemaslahatan tanpa kemadaratan, sementara hukum mengikuti sebabnya, ada atau tidaknya.” (Fatḥu żī Al-Jalāl wa Al-Ikrām Bisyarḥi Bulūg Al-Marām)

 

Siberut, 1 Rabī’ul Ṡāni 1447

Abu Yahya Adiya