Nabi ﷺ bersabda:
أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ
“Ada empat perkara jahiliah pada umatku dan belum mereka tinggalkan: membanggakan kebesaran leluhur, mencela keturunan, menyandarkan hujan pada bintang, dan meratapi orang mati.” (HR. Muslim)
Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari hadis ini, di antaranya:
- Membanggakan kebesaran leluhur merupakan perilaku jahiliyah yang tercela dan harus dijauhi.
Membanggakan kebesaran leluhur seperti perkataan: “Saya ini berdarah biru”, “Saya ini keturunan bangsawan”, “Saya ini dari suku yang mulia”, “Leluhur saya adalah orang besar”. Semua itu termasuk perilaku jahiliah.
- Menghina keturunan orang lain merupakan perilaku jahiliah yang tercela dan harus dijauhi.
Menghina keturunan orang lain seperti dengan mengatakan: “Kamu ini anak pelacur!”, “Ingat, kamu ini keturunan babu!”, dan ungkapan yang semacamnya.
Padahal, kemuliaan yang hakiki bukan diukur dari keturunan, kekayaan atau fisik, melainkan dari ketakwaan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah yaitu orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Karena itu, siapa pun, dari suku mana pun dan dari keturunan siapa pun, tua-muda, pria-wanita, miskin-kaya, jika ia bertakwa kepada Allah, maka dialah yang paling mulia di sisi Allah.
Maka, untuk apa berbangga-bangga dengan kebesaran leluhur? Dan untuk apa melecehkan keturunan dan nasab orang lain?
- Menyandarkan hujan pada bintang-bintang merupakan perilaku jahiliah yang tercela dan harus dijauhi.
Kalau seseorang meyakini bahwa bintang itu adalah semata-mata sebab turunnya hujan, sedangkan yang menurunkan hujan sebenarnya adalah Allah, maka ia telah terjatuh pada syirik kecil.
Karena, ia telah menetapkan sesuatu sebagai sebab turunnya hujan, padahal tidak dinyatakan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai sebab turunnya hujan.
Tapi, kalau ia meyakini bahwa bintang-bintang itulah yang menurunkan hujan, dan bukan Allah, berarti murtadlah ia.
Karena, ia telah berbuat syirik akbar yaitu menyekutukan Allah dalam perkara yang merupakan kekhususan-Nya (yaitu menurunkan hujan).
- Meratapi orang mati merupakan perilaku jahiliah yang tercela dan harus dijauhi.
Ketika tertimpa musibah, seorang muslim diperintahkan untuk menahan hatinya untuk tidak marah, dan menahan lisannya untuk tidak berkeluh kesah, serta menahan anggota badannya agar tidak melakukan perbuatan yang dimurkai Allah.
Lantas, bagaimana bisa seseorang malah meraung-raung, berteriak-teriak, dan menjerit-jerit?
Itu tandanya ia tidak terima dengan keputusan Allah.
Itu tandanya ia tidak rida dengan ketetapan Allah.
Itu tandanya ia bersikap kurang ajar kepada Allah.
Makanya, wajarlah orang yang suka meratapi orang mati akan bernasib tragis di akhirat nanti.
Nabi ﷺ bersabda:
النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا، تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
“Wanita yang meratapi orang mati bila ia mati sebelum bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan memakai pakaian dari ter, dan mantel yang bercampur dengan kudis.” (HR. Muslim)
Itulah 4 perilaku yang ada di zaman jahiliah. Zaman kebodohan.
Kalau kita tidak mau dianggap primitif, terbelakang, dan bodoh, marilah kita jauhi 4 perilaku tadi.
Siberut, 2 Dzulhijjah 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj karya Imam An-Nawawi.






