Menabrak Petunjuk Ilahi dengan Petunjuk Insani

Ibnu ‘Abbas berkata:

تَمَتَّعَ النَّبِيُّ ﷺ

“Nabi ﷺ melakukan haji Tamatuk.”

‘Urwah bin Az-Zubair yang mendengar perkataannya tiba-tiba berkata:

نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ عَنِ الْمُتْعَةِ

“Abu Bakar dan ‘Umar melarang haji Tamatuk.”

Ibnu ‘Abbas berkata:

مَا يَقُولُ عُرَيَّةُ؟

“Apa yang dikatakan ‘Urayyah?”

Sa’id menjawab:

يَقُولُ: نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ عَنِ الْمُتْعَةِ.

“Ia berkata, ‘Abu Bakar dan ‘Umar melarang haji Tamatuk.”

Ibnu ‘Abbas berkata:

أُرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ أَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ، وَيَقُولُ: نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ

“Aku memandang mereka akan binasa. Kukatakan, ‘Nabi ﷺ bersabda demikian’, namun mereka malah berkata, ‘Abu Bakar dan ‘Umar melarang demikian.” (HR. Ahmad)

Haji Tamatuk adalah haji yang dilaksanakan setelah Umrah.

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. Wajib mendahulukan perkataan Allah dan Rasul-Nya di atas perkataan siapapun.

Allah berfirman:

يا أيها الذين آمنوا لا تُقدِّموا بين يدَيِ الله و رسولِه و اتقوا الله إن الله سميعٌ عليم

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)

 

  1. Siapa yang mendahulukan perkataan seseorang di atas perkataan Allah dan Nabi-Nya, maka ia akan celaka.

Abu Bakar dan ‘Umar adalah manusia terbaik setelah Nabi ﷺ. Walaupun demikian, kalau kita mendahulukan ucapan keduanya di atas ucapan Nabi ﷺ, kita akan celaka.

Nah, kalau mendahulukan ucapan Abu Bakar dan ‘Umar di atas ucapan Nabi ﷺ saja mengundang siksa, apalagi kalau mendahulukan ucapan seseorang yang lebih rendah dari keduanya bahkan jauh di bawah keduanya?!

 

  1. Wajibnya mengingkari orang yang menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ dengan alasan apapun.

Imam ‘Abdurrahman bin Hasan berkata:

وفي كلام ابن عباس -رضي الله عنهما- ما يدل على أن من يبلغه الدليل فلم يأخذ به- تقليدا لإمامه- فإنه يجب الإنكار عليه بالتغليظ لمخالفته الدليل

“Dalam perkataan Ibnu ‘Abbas terdapat dalil yang menunjukkan bahwa siapa yang telah sampai kepadanya dalil, lalu tidak mengambilnya-karena taklid kepada imamnya-, maka wajib mengingkarinya dengan keras karena ia telah menyelisihi dalil.

وقال الإمام أحمد:

Imam Ahmad berkata:

حدثنا أحمد بن عمر البزاز، حدثنا زياد بن أيوب، حدثنا أبو عبيدة الحداد عن مالك بن دينار عن عكرمة عن ابن عباس قال:

“Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Umar Al-Bazzaz, ia berkata telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Ayyub, ia berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ubaidah Al-Haddad dari Malik bin Dinar dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:

ليس منا أحد إلا يؤخذ من قوله ويدع غير النبي صلى الله عليه وسلم

“Tidak ada seorang pun dari kita kecuali bisa diambil perkataannya dan bisa pula ditinggalkan kecuali Nabi ﷺ.”

وعلى هذا فيجب الإنكار على من ترك الدليل لقول أحد من العلماء كائنا من كان، ونصوص الأئمة على هذا

Karena itu, wajib mengingkari orang meninggalkan dalil karena ucapan seorang ulama, siapa pun ia. Dan perkataan para imam menegaskan demikian.

وأنه لا يسوغ التقليد إلا في مسائل الاجتهاد التي لا دليل فيها يرجع إليه من كتاب ولا سنة، فهذا هو الذي عناه بعض العلماء بقوله:

Dan bahwasanya tidak boleh taklid kecuali dalam masalah ijtihad yang tidak ada dalil padanya dari Al-Quran dan As-Sunnah yang bisa dirujuk. Itulah yang dimaksud oleh sebagian ulama dengan ucapan mereka:

لا إنكار في مسائل الاجتهاد.

“Tidak boleh ada pengingkaran dalam masalah ijtihad.”

وأما من خالف الكتاب والسنة فيجب الرد عليه كما قال ابن عباس والشافعي ومالك وأحمد، وذلك مجمع عليه

Adapun orang yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, maka wajib dibantah. Sebagaimana itu dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Asy-Syafi’i, Malik, dan Ahmad. Dan itu perkara yang disepakati.” (Fath Al-Majid Syarh Kitab At-Tauhid)

Siberut, 27 Dzulhijjah 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Fath Al-Majid Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan.