Hamba Uang dan Busana

Nabi ﷺ bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ

“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba khomishoh.

إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

Jika diberi, ia senang. Dan jika tidak diberi, ia meradang.

تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلاَ انْتَقَشَ

Celakalah ia dan tersungkurlah ia. Apabila terkena duri, maka ia tidak bisa mencabutnya.

طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ

Beruntunglah seorang hamba yang memacu kudanya di jalan Allah, kusut rambutnya, dan berdebu kedua kakinya.

إِنْ كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ

Bila ia ditugaskan sebagai penjaga, maka ia setia berada di pos penjagaan. Dan bila ditugaskan di garis belakang, maka ia setia berada di garis belakang.

إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ

Jika minta izin (untuk menemui penguasa), maka ia tidak diperkenankan. Dan jika bertindak sebagai perantara, maka tidak diterima perantaraannya.” (HR. Bukhari)

Dinar adalah mata uang dari emas, sedangkan dirham adalah mata uang dari perak.

Kenapa disebut hamba dinar dan dirham?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

لأنه تعلق به تعلق العبد بالرب، فكان أكبر همه، وقدمه على طاعة ربه

“Sebab, ia bergantung  kepadanya seperti halnya ketergantungan seorang hamba kepada Tuhannya.  Itulah hasratnya yang terbesar. Ia lebih mendahulukan itu daripada menaati Tuhannya.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Khomishah adalah:

ثوب خز أو صوف معلم، كانت من لباس الناس قديما

“Pakaian tenunan dari sutra atau wol yang bercorak. Itu merupakan pakaian orang-orang zaman dahulu.” (Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid)

Apa maksud dari hamba Khomishah?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

وهذا من يُعْنى بمظهره وأثاثه…ليس له هم إلا هذا الأمر

“Ini adalah orang yang perhatian dengan penampilannya dan perkakasnya…tidak ada hasratnya kecuali kepada perkara itu.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Maksud apabila terkena duri, maka ia tidak bisa mencabutnya yaitu:

إذا أصابه شر لم يخرج منه ولم يفلح

“Jika tertimpa keburukan,  ia tidak bisa keluar darinya dan tidak akan beruntung.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Maksud kusut rambutnya yaitu:

أنه ثائر الرأس شغله الجهاد عن التنعم بالادهان وتسريح الشعر

“Ia berambut kusut. Jihad telah menyibukkannya dari bersenang-senang dengan meminyaki dan menyisir rambut.” (Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid)

Mengapa jika minta izin (untuk menemui penguasa), ia tidak diperkenankan?

Sebab…

لا جاه له عندهم؛ لكونه لا يقصد بعمله الدنيا والتزلف إلى الأمراء

“Ia tidak memiliki kedudukan di sisi mereka. Karena, ia tidak menginginkan dunia dan mendekat kepada para penguasa dengan amalannya.” (Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid)

Begitu juga alasannya kenapa kalau ia bertindak sebagai perantara maka tidak diterima perantaraannya.

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. Manusia terbagi menjadi dua:
  • Pencinta dunia, yaitu orang yang hasrat dan ambisinya hanya mendapatkan dunia, entah itu berupa harta, busana, jabatan, dan semacamnya.
  • Pencinta akhirat, yaitu orang yang hasrat dan ambisi terbesarnya adalah mengejar akhirat.

 

  1. Siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, berarti ia telah menjadi budak dan hamba

 

  1. Di antara sifat budak dunia, yaitu

1) Kalau mendapatkan rezeki, ia gembira.

2) Kalau tidak mendapatkan rezeki, ia murka.

3) Kalau mendapatkan musibah sedikit saja, seakan-akan itu kematian baginya. Ia tidak bisa melepaskan diri dari musibah tersebut. Ia selalu dirundung kegundahan, kegelisahan, dan keresahan.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

“Siapa yang menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka Allah akan menceraiberaikan urusannya, dan akan menjadikan kemiskinan di depan matanya. Tidaklah ia mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Ibnu Majah)

Nabi ‘Isa ﷺ pernah berkata kepada para sahabatnya:

أشدكم جزعا على المصيبة, أشدكم حبا للدنيا

“Orang yang paling sering berkeluh kesah karena tertimpa musibah di antara kalian adalah orang yang paling cinta kepada dunia.” (Siyar A’lam An-Nubala)

 

  1. Siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka ia akan berani ‘menantang’ kematian dan ‘meninggalkan’

Sebagaimana disebutkan dalam hadis, orang yang demikian terjun berjihad di jalan Allah, sehingga ‘lupa’ akan penampilannya.

Ia juga tidak peduli dengan penilaian orang lain terhadapnya.

Mau ditugaskan sebagai penjaga, ia tetap siap menjalankannya dan ia tidak peduli dengan penilaian orang lain terhadapnya.

Mau ditugaskan di garis belakang, ia tetap siap menjalankannya dan ia tidak peduli dengan penilaian orang lain terhadapnya.

Mau ditolak untuk menemui penguasa, ia tetap tenang dan tidak peduli dengan penilaian orang lain terhadapnya.

Mau ditolak untuk menjadi perantara, ia tetap tenang dan tidak peduli dengan penilaian orang lain terhadapnya.

Ia tetap tenang dan tidak gelisah. Sebab, keridaan Allah lah yang ia cari dan kebahagiaan akhiratlah yang ia kejar.

Nabi ﷺ bersabda:

وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Dan siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, maka Allah akan menyatukan urusannya dan memberikan kekayaan di hatinya, serta dunia akan datang kepadanya dalam keadaan terpaksa.” (HR. Ibnu Majah)

Karenaitu, pecinta akhirat akan selalu merasa kaya,walaupun hartanya sedikit. Sedangkan pecinta dunia akan selalu merasa miskin, walaupun hartanya banyak.

 

  1. Rendahnya kedudukan seseorang di tengah masyarakat, belum tentu menunjukkan rendahnya kedudukannya di sisi Allah. Seperti halnya orang yang disebutkan dalam hadis tadi. Kalau meminta izin untuk menemui penguasa, ia ditolak. Kalau mau jadi perantara, ditolak juga. Ia dipandang remeh oleh manusia, namun ternyata kata Nabi ﷺ:

طوبى

“Beruntunglah. ”

Maka, jangan meremehkan siapapun!

Siberut, 26 Dzulhijjah 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.
  3. Siyar Alam An-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi.