Siapakah Al-Harits Al-Muhasibi?
Imam Adz-Dzahabi menyebutkan biografi Al-Harits Al-Muhasibi (wafat tahun 243 H):
الزَّاهِدُ، العَارِفُ، شَيْخُ الصُّوْفِيَّةِ، أَبُو عَبْدِ اللهِ الحَارِثُ بنُ أَسَدٍ البَغْدَادِيُّ، المُحَاسِبِيُّ
“Seorang yang zuhud, arif, syekh kaum Sufi, yaitu Abu ‘Abdillah Al-Harits bin Asad Al-Baghdadi Al-Muhasibi.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Al-Harits Al-Muhasibi sering mengunjungi Isma’il bin Ishaq As-Sarraj. Berita itu sampai ke telinga Imam Ahmad bin Hanbal, maka beliau pun berkata kepada Isma’il bin Ishaq As-Sarraj:
قَالَ أَحْمَدُ بنُ حَنْبَلٍ يَوْماً: يَبلُغُنِي أَنَّ الحَارِثَ هَذَا -يَعْنِي: المُحَاسِبِيَّ- يُكْثِرُ الكَونَ عِنْدَكَ، فَلَو أَحضَرْتَهُ، وَأَجْلَسَتْنِي مِنْ حَيْثُ لاَ يَرَانِي، فَأَسْمَعُ كَلاَمَهُ.
“Sampai berita kepadaku bahwa Al-Harits ini sering mengunjungimu. Coba engkau menghadirkannya dan mendudukkanku di tempat yang tidak bisa ia lihat, supaya aku bisa mendengar perkataannya.”
Isma’il pun berkata:
السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ.
“Aku dengar dan taat.”
Maka Isma’il pun mendatangi Al-Harits Al-Muhasibi lalu mengundangnya untuk datang ke rumahnya. Isma’il berkata kepadanya:
تَسأَلُ أَصْحَابَكَ أَنْ يَحضُرُوا.
“Hendaknya engkau meminta teman-temanmu agar ikut hadir.”
Al-Harits Al-Muhasibi berkata:
يَا إِسْمَاعِيْلُ، فِيْهِم كَثْرَةٌ فَلاَ تَزِدْهُم عَلَى الكُسْبِ وَالتَّمْرِ، وَأَكْثِرْ مِنْهُمَا مَا اسْتَطَعْتَ.
“Wahai Isma’il, mereka itu banyak. Maka jangan memberikan mereka lebih dari perasan minyak dan kurma. Perbanyaklah keduanya semampumu!”
Maka Isma’il melakukan apa yang ia minta. Lalu ia memberitahu Imam Ahmad. Maka Imam Ahmad pun datang ke rumahnya setelah itu naik ke kamar di atas.
Kemudian datanglah Al-Harits Al-Muhasibi bersama para sahabatnya. Mereka makan lalu mengerjakan salat Isya, dan tidak melaksanakan salat apa pun setelahnya. Kemudian mereka duduk dan diam di hadapan Al-Harits Al-Muhasibi sampai dekat dengan pertengahan malam.
Lalu mulailah salah seorang dari mereka bertanya, kemudian dijawablah oleh Al-Harits Al-Muhasibi, sedangkan mereka mendengarkan perkataannya dengan khusyuk. Maka, di antara mereka ada yang menangis dan ada juga yang menjerit.
Isma’il bin Ishaq As-Sarraj naik ke atas untuk menemui Imam Ahmad, lalu bertanya kepada beliau:
كَيْفَ رَأَيْتَ؟
“Bagaimana pandangan Anda?”
Imam Ahmad menjawab:
مَا أَعْلَمُ أَنِّي رَأَيْتُ مِثْلَ هَؤُلاَءِ القَوْمِ، وَلاَ سَمِعْتُ فِي عِلْمِ الحَقَائِقِ مِثْلَ كَلاَمِ هَذَا، وَعَلَى مَا وَصَفتُ، فَلاَ أَرَى لَكَ صُحْبَتَهُم.
“Aku belum pernah melihat orang-orang semacam mereka dan aku tidak pernah mendengar tentang ilmu hakikat semacam perkataan mereka. Berdasarkan apa yang kugambarkan, aku berpendapat engkau jangan bergaul dengan mereka!”
Isma’il bin Ishaq bin As-Sarraj berkata:
ثُمَّ قَامَ، وَخَرَجَ.
“Lalu Imam Ahmad bangkit dan keluar.” (Tarikh Baghdad)
Dari kisah ini kita bisa mengambil beberapa faidah:
1. Majlis yang berisi tangisan dan raungan dengan alasan muhasabah dan introspeksi bukanlah termasuk sunnah Nabi ﷺ.
Al-‘Irbadh bin Sariyah berkata:
صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ
“Suatu hari Rasulullah ﷺ mengimami salat kami lalu beliau menghadap kepada kami, kemudian beliau memberikan nasehat yang begitu menyentuh, sehingga mengalirlah air mata kami dan bergetarlah hati kami….” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Imam Al-Aajurri berkata:
مَيِّزُوا هَذَا الْكَلَامَ؛ فَإِنَّهُ لَمْ يَقُلْ: صَرَخْنَا مِنْ مَوْعِظَةٍ، وَلَا زَعَقْنَا، وَلَا طَرَقْنَا عَلَى رَؤُوسِنَا، وَلَا ضَرَبْنَا عَلَى صُدُورِنَا، وَلَا زَفَنَّا، وَلَا رَقَصْنَا “؛ كَمَا يَفْعَلُ كَثِيرٌ مِنَ الْجُهَّالِ؛ يَصْرُخُونَ عِنْدَ الْمَوَاعِظِ وَيَزْعَقُونَ وَيَتَغَاشَوْنَ.
“Pikirkanlah perkataan ini. Karena sesungguhnya ‘Irbadh tidak berkata, ‘Kami menjerit karena nasehat itu’, dan tidak juga berkata ‘Kami memekik, menundukkan kepala kami, memukul dada kami, bergoyang dan menari’, sebagaimana perbuatan banyak orang bodoh. Mereka menjerit, memekik, dan pingsan ketika mendengar nasehat.” (Al-I’tisham)
Artinya, perbuatan tersebut tidak disyariatkan. Karena itu, Imam Al-Aajurri juga berkata:
وَهَذَا كُلُّهُ مِنَ الشَّيْطَانِ يَلْعَبُ بِهِمْ، وَهَذَا كُلُّهُ بِدْعَةٌ وَضَلَالَةٌ،
“Itu semua dari setan yang mempermainkan mereka. Itu semua adalah bidah dan sesat.” (Al-I’tisham)
Mengapa itu bidah dan sesat?
Sebab, Nabi ﷺ adalah orang yang paling tulus dalam memberi nasehat dan orang yang paling sayang kepada umat. Dan para sahabatnya adalah orang-orang yang berhati lembut dan halus.
Walaupun begitu, tidak pernah ternukil dari mereka bahwa mereka menangis, meraung-raung, bergoyang, menari, dan pingsan ketika mendengar nasehat dari Nabi ﷺ.
Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi ﷺ. Dan sebaik-baik orang adalah para sahabat Nabi ﷺ.
Seandainya perbuatan tadi baik, tentu mereka lebih dahulu mengerjakannya!
2. Di antara bentuk sayang kepada seorang muslim yaitu mengingatkannya agar menjauhi teman yang buruk. Seperti yang dilakukan oleh Imam Ahmad terhadap Isma’il bin Ishaq As-Sarraj tadi.
*3*. Seseorang tidak layak dijadikan rujukan dalam beragama karena zuhud semata. Perlu diperhatikan bagaimana akidahnya. Perlu diperhatikan bagaimana akhlaknya.
Kalau akidah atau akhlak seseorang buruk, maka tidak pantas mengambil ilmu darinya.
Karena itulah Imam Ahmad memperingatkan Isma’il bin Ishaq As-Sarraj agar menjauhi Al-Harits Al-Muhasibi. Padahal, ia sosok yang dikenal zuhud dan jauh dari perkara duniawi.
Siberut, 1 Dzulqa’dah 1446
Abu Yahya Adiya






