Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ
“Siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh, ia telah berbuat syirik.” (HR. Abu Daud)
Siapa yang bersumpah dengan selain Allah maksudnya kata Syekh Ibnu ‘Utsaimin:
يشمل كل محلوف به سوى الله، سواء بالكعبة أو الرسول صلى الله عليه وسلم أو السماء أو غير ذلك
“Itu mencakup semua yang dijadikan sumpah selain Allah, baik itu Ka’bah, Rasul ﷺ, langit atau selain itu.
ولا يشمل الحلف بصفات الله; لأن الصفة تابعة للموصوف، وعلى هذا; فيجوز أن تقول:
Dan itu tidak mencakup bersumpah dengan sifat-sifat Allah. Sebab, sifat itu mengikuti yang memiliki sifat. Karenanya, boleh engkau mengatakan:
وعزة الله; لأفعلن كذا.
“Demi kemuliaan Allah, aku benar-benar akan melakukan demikian.”
وقوله: “بغير الله”: ليس المراد بغير هذا الاسم، بل المراد بغير المسمى بهذا الاسم، فإذا حلف بالله أو بالرحمن أو بالسميع; فهو حلف بالله.
Sabda Nabi ﷺ dengan selain Allah, bukanlah maksudnya dengan selain nama ini. Bahkan maksudnya dengan selain yang memiliki nama ini. Jika seseorang bersumpah dengan nama Allah, atau Ar-Rahman, atau As-Sami’, maka ia bersumpah dengan Allah.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
- Diharamkan bersumpah dengan selain Allah .
Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:
لأن الحلف بالشيء يقتضي تعظيمه، والعظمة في الحقيقة إنما هي لله وحده، فلا يحلف إلا به أو بصفة من صفاته.
“Sebab, bersumpah dengan sesuatu berkonsekuensi pengagungan terhadap sesuatu itu. Padahal, keagungan yang sebenarnya hanyalah milik Allah semata. Karena itu, tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama-Nya atau salah satu dari sifat-Nya.” (Al-Mulakhkhash fi Syarh Kitab At-Tauhid)
- Bersumpah dengan nama selain Allah adalah perbuatan syirik.
Namun, apakah itu syirik kecil atau besar?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
والحلف بغير الله شرك أكبر؛ إن اعتقد أن المحلوف به مساو لله تعالى في التعظيم والعظمة، وإلا فهو شرك أصغر
“Bersumpah dengan selain Allah adalah syirik akbar, kalau meyakini bahwa yang dijadikan sumpah itu menyamai Allah dalam hal pengagungan dan keagungan. Kalau tidak seperti itu, maka itu syirik kecil.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Kalau pun itu syirik kecil, tetap saja dosanya besar. Sebab itu syirik, dosa paling besar di antara dosa-dosa besar!
Makanya Ibnu Mas’ud pernah berkata:
لَأَنْ أَحْلِفَ بِاللَّهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ، وَأَنَا صَادِقٌ
“Sungguh, aku bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah, itu lebih kusukai daripada aku bersumpah jujur tetapi dengan menyebut nama selain-Nya.” (HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Abi Syaibah)
Bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah adalah dosa besar. Tapi, bersumpah jujur dengan menyebut nama selain-Nya, itu lebih besar lagi dosanya. Sebab, itu syirik, dosa paling besar di antara dosa-dosa besar.
Makanya, kalau mau bersumpah, bersumpahlah dengan nama Allah atau diamlah.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ حَالِفًا، فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang ingin bersumpah, maka bersumpahlah dengan nama Allah atau diamlah.” (HR. Bukhari)
- Siapa yang bersumpah dengan nama selain Allah, lalu menyesal dan ingin menebus kesalahannya, maka ia cukup bertobat dengan tulus kepada-Nya dan tidak harus membayar kafarat atau denda tertentu. Sebab, kalau memang itu ada, tentu sudah disebutkan oleh nabi kita ﷺ.
Siberut, 9 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.






