Sikap Terhadap Orang Yang Bersumpah dengan Nama Allah

Nabi ﷺ bersabda:

لا تحلفوا بآبائكم، من حلف بالله فليصدق, ومن حلف له بالله فليرض، ومن لم يرض فليس من الله

“Janganlah kalian bersumpah dengan nama leluhur kalian! Siapa yang bersumpah dengan nama Allah, maka hendaknya ia berkata benar. Dan siapa yang diucapkan kepadanya sumpah dengan nama Allah, maka hendaklah ia menerima. Siapa yang tidak menerima, maka lepaslah ia dari Allah.” (HR. Ibnu Majah)

Janganlah kalian bersumpah dengan nama leluhur kalian! Mengapa yang disebutkan di sini adalah leluhur?

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

لأنه هو المعروف عندهم ولا مفهوم له؛ لتقدم النهي عن القسم بغير الله مطلقا

“Sebab, sumpah seperti itulah yang terkenal pada mereka. Dan itu tidak memiliki mafhum (makna yang tersirat), dikarenakan adanya larangan untuk bersumpah dengan selain nama Allah secara mutlak.” (Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid)

Siapa yang bersumpah dengan nama Allah, maka hendaknya ia berkata benar artinya:

أي: وجوبا تعظيما لليمين بالله، لأن الصدق واجب ولو لم يحلف بالله فكيف إذا حلف به!

“Itu wajib sebagai bentuk pengagungan terhadap sumpah dengan nama Allah. Sebab, berkata benar itu wajib walaupun tidak sedang bersumpah dengan nama Allah, maka bagaimana pula jika sedang bersumpah dengan nama-Nya?!” (Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid)

Dan siapa yang diucapkan kepadanya sumpah dengan nama Allah, maka hendaklah ia menerima artinya:

أي: وجوبا تعظيما لليمين بالله. وهذا عام الصدق واجب ولو لم يحلف بالله فكيف إذا حلف به!.

“Itu wajib sebagai bentuk pengagungan terhadap sumpah dengan nama Allah. Dan itu umum. Berkata benar itu wajib walaupun tidak sedang bersumpah dengan nama Allah, maka bagaimana pula jika sedang bersumpah dengan nama-Nya?!” (Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid)

Siapa yang tidak menerima, maka lepaslah ia dari Allah maksudnya:

هذا وعيد، أي: فقد برئ الله منه

“Ini adalah ancaman. Artinya, sungguh, Allah telah berlepas diri darinya.” (Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid)

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. Larangan bersumpah dengan menyebut nama nenek moyang dan itu adalah kebiasaan orang-orang kafir jahiliah dan itu adalah perbuatan syirik.

Ibnu ‘Umar berkata:

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:

“Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلَا يَحْلِفْ إِلَّا بِاللهِ

“Siapa yang ingin bersumpah, maka hendaknya ia tidak bersumpah kecuali dengan nama Allah.”

وَكَانَتْ قُرَيْشٌ تَحْلِفُ بِآبَائِهَا

Dan kaum Quraisy sudah biasa bersumpah dengan nama leluhur mereka.

فَقَالَ:

Lalu beliau ﷺ bersabda:

لَا تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ

“Jangan kalian bersumpah dengan nama leluhur kalian!” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  1. Wajibnya berkata benar ketika bersumpah dan selain itu.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kalian bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

 

  1. Haramnya dusta ketika bersumpah dan selain itu. Yang demikian merupakan kemunafikan.

Allah berfirman:

مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Mereka itu bukan dari golongan kalian (mukminin) dan bukan (pula) dari golongan mereka (Yahudi). Dan mereka bersumpah atas kebohongan, sedangkan mereka mengetahui.” (QS. Al-Mujadilah: 14)

 

  1. Wajibnya menerima dan memercayai perkataan orang yang bersumpah dengan nama Allah, jika ia termasuk orang yang beriman dan bertakwa.

 

  1. Ancaman bagi orang-orang yang tidak mau menerimanya.

Yaitu Allah akan berlepas diri darinya. Kalau Allah sudah berlepas diri dari seseorang, maka bayangkanlah bagaimana nasibnya!

 

  1. Wajibnya berprasangka baik kepada seorang muslim, selama belum jelas kedustaannya.

‘Umar bin Al-Khaththab berkata:

ولا تظنَّنَّ بكلمة خرجت من أخيك المؤمن إلاَّ خيراً، وأنت تجد لها في الخير مَحملاً

“Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu seiman  kecuali prasangka baik, sedangkan engkau masih bisa membawa perkataannya pada yang baik.” (Fath Al-Majiid Syarh Kitab At-Tauhid)

Siberut, 11 Muharram 1442

Abu Yahya Adiya

 

  1. Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Fath Al-Majiid Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan.