Mendahului Allah dengan Sumpah

Ada seorang yang berkata:

 وَاللهِ لَا يَغْفِرُ اللهُ لِفُلَانٍ

“Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan!”

Maka Allah pun berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ، فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Siapa yang bersumpah mendahului-Ku bahwa Aku tidak mengampuni fulan?! Sungguh, Aku telah mengampuninya dan Aku telah melenyapkan amalmu!” (HR. Muslim)

Siapa orang yang mengucapkan sumpah itu?

Dan siapa orang yang tidak akan mendapatkan ampunan Allah menurut orang itu?

Dulu di kalangan Bani Israel ada dua orang yang saling bersahabat.

Yang satu rajin ibadah, sedangkan yang satunya rajin maksiat.

Yang giat ibadah ini selalu melihat temannya ini melakukan maksiat.

Maka ia berkata kepada temannya yang selalu melakukan maksiat ini:

أَقْصِرْ أَقْصِرْ عَمَّا أَنْتَ فِيهِ

”Berhentilah! Hentikanlah maksiatmu!”

Temannya berkata:

خَلِّنِي وَرَبِّي

“Biarkanlah aku. Ini urusanku dengan Tuhanku!”

Demikianlah, temannya selalu melakukan maksiat dan dosa. Sampai suatu hari ia kembali menemukan temannya melakukan dosa.

Dosanya kali ini sudah sangat besar dan amat berat menurut pandangannya, makanya ia berkata lagi kepadanya:

أَقْصِرْ

”Berhentilah!”

Temannya pun berkata:

خَلِّنِي وَرَبِّي، أَبُعِثْتَ عَلَيْنَا رَقِيبًا؟

”Biarkanlah aku. Ini urusanku dengan Tuhanku. Apakah engkau diutus untuk mengawasiku?!”

Mendengar jawaban seperti itu, murkalah ia. Kemudian meluncurlah dari lisannya:

وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَبَدًا، وَلا يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ أَبَدًا

”Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu selama-lamanya, dan tidak akan memasukkanmu ke surga!”

Tidak akan mengampunimu selama-lamanya dan tidak akan memasukkanmu ke surga! Artinya? Engkau kafir!

Nabi ﷺ bersabda:

فَبَعَثَ اللَّهُ إِلَيْهِمَا مَلَكًا، فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا، فَاجْتَمَعَا عِنْدَهُ، فَقَالَ لِلْمُذْنِبِ:

“Maka Allah pun mengutus malaikat kepada keduanya, lalu mencabut roh keduanya. Kemudian berkumpullah roh keduanya di sisi-Nya. Allah pun berfirman kepada si pendosa:

ادْخُلِ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي

”Masuklah engkau ke surga karena rahmat-Ku!”

وَقَالَ لِلآخَرِ:

Dan Dia berfirman kepada orang yang yang giat beribadah:

أَتَسْتَطِيعُ أَنْ تَحْظُرَ عَلَى عَبْدِي رَحْمَتِي

”Apakah engkau bisa menghalangi rahmat-Ku agar tidak sampai kepada hamba-Ku?”

فَقَالَ:

Orang itu menjawab:

لَا يَا رَبِّ

”Tentu saja tidak, wahai Tuhanku.”

قَالَ:

Allah pun berfirman:

اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ

”Bawalah orang ini ke neraka!”

Setelah menyampaikan hadis ini, Abu Hurairah berkata:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ

“Demi Allah yang jiwaku yang ada di tangan-Nya, orang itu telah mengucapkan satu kalimat yang menghancurkan dunia dan akhiratnya!” (HR. Abu Daud dan Al-Baghawi dalam Syarh As-Sunnah)

 

Dari hadis tadi kita bisa mengambil beberapa pelajaran:

 

  1. Haramnya bersumpah mendahului Allah.

Sebab, itu merupakan adab buruk terhadap Allah dan juga sikap lancang terhadap-Nya. Makanya ahli ibadah tadi masuk neraka karena perbuatannya itu.

 

  1. Hendaknya kita menjaga lisan kita.

Jangan sampai kita mengucapkan suatu kalimat tanpa kita pikirkan dan kita sadari sehingga akhirnya nasib kita seperti ahli ibadah tadi yaitu sengsara di neraka.

Nabi ﷺ bersabda:

وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang mengucapkan suatu kalimat yang dimurkai Allah tanpa dipikirkan akibatnya, ternyata dengan sebab itu ia terseret ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  1. Hendaknya kita selalu memiliki sikap rendah hati.

Ya, rendah hati kepada saudara kita seiman. Bagaimanapun keadaannya. Bagaimanapun kedudukannya. Walaupun ia pelaku maksiat. Walaupun ia pelaku dosa.

Nabi ﷺ bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah seseorang bersikap rendah hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Ketahuilah, kalaupun saudaramu berbuat maksiat dan bergelimang dosa, jangan busungkan dadamu di hadapannya. Jangan menyombongkan dirimu di hadapannya. Jangan sampai engkau meniru ahli ibadah tadi.

Ingatlah, bisa jadi amal saleh yang selama ini kau lakukan ternyata Allah hilangkan, karena riya, rasa bangga, dan kesombongan yang ada pada dirimu.

Dan bisa jadi dosa-dosa saudaramu yang demikian banyak ternyata Allah hapuskan dan Dia ampuni karena penyesalan dan tangisannya.

 

  1. Pentingnya ilmu agama

Seandainya ahli ibadah tadi paham, mengerti, dan tahu agama, tentu ia tidak akan lancang terhadap Allah dengan bersumpah mendahului-Nya.

Seandainya ia paham, mengerti, dan tahu agama, tentu ia akan menjaga lisannya.

Seandainya ia paham, mengerti, dan tahu ilmu agama, tentu ia tidak akan membusungkan dada di hadapan saudaranya.

Imam Masruq Al-Ajda’ berkata:

 كَفَى بِالْمَرْءِ عِلْمًا أَنْ يَخْشَى اللَّهَ، وَكَفَى بِالْمَرْءِ جَهْلًا أَنْ يُعْجَبَ بِعَمَلِهِ

“Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ia takut kepada Allah. Dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia merasa kagum akan amalnya.” (Jami’ Bayan Al-Ilm Wa Fadhlih)

Siberut, 19 Shafar 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Jami’ Bayan Al-Ilm Wa Fadhlih karya Imam Ibnu ‘AbdilBarr.
  3. Riyadhush Shalihin karya Imam An-Nawawi.