“Jadilah engkau di hadapan guru, seperti mayit di hadapan orang yang memandikannya!” (Ash-Shufiyyah Nasyatuha wa Tathawwuruha)
Demikianlah doktrin yang diajarkan oleh tokoh-tokoh Sufi kepada para pengikut mereka. Bagi mereka bersikap kritis terhadap guru adalah kesalahan besar yang menghalangi seorang murid dari ilmu.
Imam Asy-Syathibi berkata:
وَلَا سِيَّمَا عِنْدَ الصُّوفِيَّةِ؛ فَإِنَّهُ عِنْدَهُمُ الدَّاءُ الْأَكْبَرُ حَتَّى زَعَمَ الْقُشَيْرِيُّ عَنْهُمْ أَنَّ التَّوْبَةَ مِنْهُ لَا تُقْبَلُ وَالزَّلَّةُ لَا تُقَالُ، وَمِنْ ذَلِكَ حِكَايَةُ الشَّابِّ الْخَدِيمِ لِأَبِي يَزِيدَ الْبَسْطَامِيِّ؛ إِذْ كَانَ صَائِمًا؛ فَقَالَ لَهُ أَبُو تُرَابٍ النَّخْشَبِيُّ وَشَقِيقٌ الْبَلْخِيُّ:
“Apalagi menurut kaum Sufi. Karena sesungguhnya sikap demikian adalah penyakit yang sangat besar menurut mereka. Sampai-sampai Al-Qusyairi mengklaim dari mereka bahwa tobat dari sikap demikian tidak akan diterima dan ketergelinciran seorang guru tidak bisa dikatakan. Di antaranya adalah hikayat dari seorang pemuda pembantu Abu Yazid Al-Busthami, tatkala ia berpuasa. Abu Turab An-Nakhsyabi dan Syaqiq Al-Balkhi berkata kepadanya:
كُلْ مَعَنَا يَا فَتَى.
“Makanlah bersama kami, wahai pemuda!”
فَقَالَ:
Pemuda itu menjawab:
أَنَا صَائِمٌ.
“Aku sedang berpuasa.”
فَقَالَ أَبُو تُرَابٍ:
Abu Turab berkata:
كُلْ وَلَكَ أَجْرُ شَهْرٍ
“Makanlah, dan engkau akan mendapatkan pahala puasa sebulan penuh!”
فَأَبَى
Namun, pemuda itu enggan makan.
فَقَالَ شَقِيقٌ:
Syaqiq berkata:
كُلْ وَلَكَ أَجْرُ صَوْمِ سَنَةٍ.
“Makanlah, dan engkau akan mendapatkan pahala puasa setahun penuh!”
فَأَبَى
Namun, pemuda itu kembali enggan makan.
فَقَالَ أَبُو يَزِيدَ:
Maka Abu Yazid pun berkata:
دَعُوا مَنْ سَقَطَ مِنْ عَيْنِ اللَّهِ”.
“Tinggalkanlah orang yang sudah jatuh dari pandangan Allah!”
فَأَخَذَ ذَلِكَ الشَّابُّ فِي السَّرِقَةِ وَقُطِعَتْ يَدُهُ
Akhirnya pemuda itu menjadi pencuri dan dipotonglah tangannya.” (Al-Muwaafaqaat)
Apakah kisah ini bisa dijadikan dalil bahwa seorang murid dilarang bersikap kritis terhadap gurunya?
Apakah kisah ini bisa dijadikan dalil bahwa seorang murid harus menelan mentah-mentah ucapan gurunya walaupun tidak ada landasannya?
Jawaban:
1. Kisah tersebut dusta. Sebab, Syaqiq Al-Balkhi meninggal di tahun 194 H, sedangkan Abu Yazid Al-Busthami ketika itu baru berumur 6 tahun. Sebab, ia lahir di tahun 188 H.
2. Kisah tersebut mengandung kemungkaran, di antaranya:
1) Perkataan Abu Turab: “Makanlah, dan engkau akan mendapatkan pahala puasa sebulan penuh!” dan perkataan Syaqiq: “Makanlah, dan engkau akan mendapatkan pahala puasa setahun penuh!”
Apakah Allah menunjukkan perkara gaib kepada keduanya?!
Apakah keduanya menyimpan perbendaharaan rahmat-Nya?!
Allah berfirman:
قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ
“Katakanlah (wahai Rasul), ‘Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib….” (QS. Al-Anaam: 50)
Kalau para nabi dan rasul saja tidak memiliki dan mengetahui demikian, maka bagaimana bisa selain mereka memiliki dan mengetahuinya?!
2) Perkataan Abu Yazid tatkala pembantunya tidak mau membatalkan puasanya: “Tinggalkanlah orang yang sudah jatuh dari pandangan Allah!”
Apakah Allah menunjukkan perkara gaib kepadanya?!
Apakah ia menyimpan perbendaharaan rahmat-Nya?!
Ada seseorang yang berkata:
وَاللهِ لَا يَغْفِرُ اللهُ لِفُلَانٍ
“Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan!”
Maka Allah pun berfirman:
مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ، فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ
“Siapa yang bersumpah mendahului-Ku bahwa Aku tidak mengampuni fulan?! Sungguh, Aku telah mengampuninya dan Aku telah melenyapkan amalmu!” (HR. Muslim)
Siapa orang yang mengucapkan sumpah itu?
Dan siapa orang yang tidak akan mendapatkan ampunan Allah menurut orang itu?
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa yang mengucapkan sumpah itu adalah ahli ibadah sedangkan yang dianggap tidak mendapat ampunan itu adalah ahli maksiat.
Setelah menyampaikan hadis tadi, Abu Hurairah berkata:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ
“Demi Allah yang jiwaku yang ada di tangan-Nya, orang itu telah mengucapkan satu kalimat yang menghancurkan dunia dan akhiratnya!” (HR. Abu Daud dan Al-Baghawi dalam Syarh As-Sunnah)
Itulah akibat sikap lancang terhadap Allah. Ya, sikap lancang terhadap-Nya dengan mendahului-Nya dalam menentukan orang yang jauh dari rahmat-Nya.
Jika itu akibat lancang mendahului Allah dalam menilai orang yang jelas-jelas bermaksiat kepada-Nya, maka bagaimana pula akibat lancang mendahului Allah dalam menilai orang yang tidak melaksanakan puasa sunnah?!
Siberut, 7 Jumada Ats-Tsaniyah 1445
Abu Yahya Adiya
Sumber: Al-I’laam Bimukhaalafaat Al-Muwaafaqaat wa Al-I’tisham karya Nashir Al-Fahd






