Hadiah yang akan Menghinakan

Hadiah yang akan Menghinakan

Ini untuk kalian, sedangkan ini adalah hadiah untukku.

Itulah laporan yang disampaikan oleh seorang petugas penarik zakat setelah menyelesaikan tugasnya.

Mendengar laporan seperti itu, Nabi ﷺ langsung ke atas mimbar. Beliau pun menyampaikan orasi di hadapan para sahabatnya:

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أَسْتَعْمِلُ الرَّجُلَ مِنْكُمْ عَلَى الْعَمَلِ مِمَّا وَلَّانِي اللهُ، فَيَأْتِي فَيَقُولُ:

Amma bakdu, sesungguhnya aku telah menunjuk seseorang di antara kalian untuk mengerjakan tugas yang Allah bebankan kepadaku. Lalu ia datang dan berkata:

هَذَا مَالُكُمْ، وَهَذَا هَدِيَّةٌ أُهْدِيَتْ لِي

Ini adalah harta kalian, sedangkan ini adalah hadiah yang diberikan kepadaku!

أَفَلَا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ حَتَّى تَأْتِيَهُ هَدِيَّتُهُ إِنْ كَانَ صَادِقًا، وَاللهِ لَا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْهَا شَيْئًا بِغَيْرِ حَقِّهِ، إِلَّا لَقِيَ اللهَ تَعَالَى يَحْمِلُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَلَأَعْرِفَنَّ أَحَدًا مِنْكُمْ لَقِيَ اللهَ يَحْمِلُ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ

Mengapa ia tidak duduk-duduk saja di rumah ayah dan ibunya hingga datang hadiah itu kepadanya kalau memang ia benar? Demi Allah, tidaklah salah seorang dari kalian mengambil sesuatu darinya tanpa alasan yang dibenarkan melainkan ia akan menghadap Allah pada hari kiamat dengan memikul sesuatu itu. Sungguh, aku akan mengenal salah seorang dari kalian menghadap Allah dengan memikul unta yang bersuara, sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik.

Lalu beliau ﷺ mengangkat kedua tangan beliau tinggi-tinggi hingga terlihat putih kedua ketiaknya seraya mengucapkan:

اللهُمَّ، هَلْ بَلَّغْتُ؟

Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya?

Beliau ﷺ mengucapkan itu sampai tiga kali. (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah nabi kita. Beliau sangat menaruh perhatian pada perkara penting yang menyangkut umatnya. Saking perhatiannya, beliau sampai tak menunda-nunda lagi untuk menjelaskannya. Bahkan, beliau sambil berdiri ketika menyampaikannya. Bahkan,  beliau sampai menutup orasinya dengan meminta kesaksian Tuhannya.

Dalam hadits tadi, beliau ﷺ menegaskan bahwa hadiah yang diterima oleh siapa pun yang memiliki jabatan adalah suatu keuntungan yang tidak dibenarkan.

Itu merupakan pengkhianatan dan kezaliman yang akan dipertanggungjawabkan di hari kiamat.

Siapa yang melakukannya, niscaya ia akan dipermalukan di hadapan seluruh makhluk di akhirat nanti.

Karena itu, tidak boleh mengkhususkan pemberian untuk siapa pun yang memiliki jabatan tertentu di suatu instansi, yayasan dan semisalnya.

Sama saja apakah yang memiliki jabatan itu seorang pekerja biasa, pegawai, karyawan dan semacam mereka yang menempati level bawah“, atau seorang direktur, pejabat, kepala sekolah, rektor dan semacam mereka yang menduduki level atas.

Siapa pun di antara mereka yang rela dan lapang dada menerima pemberian dari orang yang ia bawahi, maka ia dianggap telah berbuat khianat.

Nabi ﷺ bersabda:

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

Hadiah yang diterima para pegawai adalah ghulul (pengkhianatan). (HR. Ahmad)

Ya, pengkhianatan. Bukankah kita harus menjauhi sifat khianat?

Sanggahan

Mungkin ada yang bertanya, Bagaimana mungkin orang yang menerima hadiah dalam keadaan tidak memintanya dianggap berkhianat?

Maka itu bisa dijawab: Tentu saja mungkin. Kenapa tidak?

Bukankah orang itu tidaklah mendapatkan pemberian itu melainkan karena jabatan yang ia sandang?

Kalau bukan karena jabatan yang ia miliki, apakah ada orang yang akan memberikan hadiah kepadanya?

Jika orang itu-sebagaimana Nabi ﷺ sabdakan- hanya duduk-duduk saja di rumahnya, kira-kira akankah ia mendapatkan hadiah, bingkisan istimewa, parsel dan semisalnya?

Tentu saja tidak. Itulah yang namanya khianat. Sebab ia telah mengkhianati atasannya terkait tugasnya. Dan perbuatan tersebut niscaya akan mempermalukannya.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا، فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapapun pegawai yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, lalu ia menyembunyikan jarum atau yang lebih kecil dari itu, maka itu adalah pengkhianatan yang akan ia bawa di hari kiamat. (HR. Muslim)

Ya, walaupun hanya jarum, tetap saja itu akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti, apalagi yang lebih besar dari itu!

Suatu hari Rasulullah ﷺ mengabarkan tentang bahaya penggelapan harta. Beliau ﷺ mengabarkan bahwa di hari kiamat nanti akan ada orang yang datang dalam keadaan di tengkuknya ada seekor kambing yang mengembik, dan ada juga orang yang di tengkuknya ada seekor kuda yang meringkik sambil berkata:

يا رسول الله أغثني

“Wahai Rasulullah, tolonglah aku!”

Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

لا أملك لك من الله شيئا، قد أبلغتك،

“Aku tidak bisa menolongmu sedikit pun dari siksa Allah. Aku sudah menyampaikan kepadamu (ketika di dunia)!”

Dan ada lagi orang yang di atas tengkuknya ada seekor unta yang melenguh, sambil ia berkata:

يا رسول الله أغثني

“Wahai Rasulullah, tolonglah aku!”

Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

لا أملك لك من الله شيئا، قد أبلغتك،

“Aku tidak bisa menolongmu sedikit pun dari siksa Allah. Aku sudah menyampaikan kepadamu (ketika di dunia)!”

Dan ada lagi orang yang di atas tengkuknya ada sebongkah emas dan perak lalu ia berkata:

يا رسول الله أغثني

“Wahai Rasulullah, tolonglah aku!”

Maka Rasulullah ﷺ kembali menjawab:

لا أملك لك من الله شيئا، قد أبلغتك،

“Aku tidak bisa menolongmu sedikit pun dari siksa Allah. Aku sudah menyampaikan kepadamu (ketika di dunia)!”

Dan ada lagi orang yang di atas tengkuknya ada lembaran kain seraya berkata:

يا رسول الله أغثني

“Wahai Rasulullah, tolonglah aku!”

Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

لا أملك لك من الله شيئا، قد أبلغتك

“Aku tidak bisa menolongmu sedikitpun dari siksa Allah. Aku sudah menyampaikan kepadamu (ketika di dunia)!” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Siberut, 26 Rajab 1442

Abu Yahya Adiya