1. Apa itu hadiah dan hibah?
Imam An-Nawawi berkata:
التَّمْلِيكُ لَا بِعِوَضٍ هِبَةٌ، فَإِنِ انْضَمَّ إِلَيْهِ حَمْلُ الْمَوْهُوبِ مِنْ مَكَانٍ إِلَى مَكَانِ الْمَوْهُوبِ لَهُ إِعْظَامًا لَهُ، أَوْ إِكْرَامًا فَهُوَ هَدِيَّة
“Memberikan kepemilikan tanpa imbalan adalah hibah. Jika ditambah dengan mengarahkan hibah dari satu tempat menuju tempat orang yang mendapat hibah sebagai bentuk pengagungan atau penghormatan terhadapnya maka itu adalah hadiah.” (Raudhah Ath-Thalibin wa ‘Umdah Al-Muftiin)
Namun, sebagian ulama tidak membedakan keduanya.
Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan berkata:
لكون الهدية هبة لغة وشرعا والفرق بينهما إنما هو اصطلاح جديد
“Hadiah adalah hibah secara bahasa dan syariat. Perbedaan antara keduanya adalah istilah yang baru.” (Ar-Raudhah An-Naddiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah)
2. Apa hukum hadiah dan hibah?
Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:
فالهبة والهدية من السنة المرغّب فيها لما يترتب عليها من المصالح قال ﷺ:
“Hibah dan hadiah termasuk sunnah yang dianjurkan karena mengandung kemaslahatan di dalamnya. Nabi ﷺ bersabda:
تَهادُوا تَحابُوا
“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai.”
وعن عائشة رضي الله عنها؛ قالت:
Dari ‘Aisyah, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا
“Rasulullah ﷺ menerima hadiah dan membalasnya.” (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi)
3. Apa syarat sah hadiah dan hibah?
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
يشترط لصحة الهبة ما يلي:
“Agar hibah sah, disyaratkan berikut ini:
أن يكون الواهب جائز التصرف .. وأن يكون مختاراً .. وأن يكون مالكاً للموهوب .. وأن يصدر منه ما يدل على الهبة.
“Orang yang memberikan hibah itu adalah orang yang boleh mengelola harta, memiliki kehendak untuk itu, memiliki apa yang akan dihibahkan, dan muncul darinya apa yang menunjukkan hibah.
ويشترط في الموهوب: أن يكون موجوداً حقيقة .. وأن يكون مالاً متقوّماً .. وأن يكون مملوكاً للواهب.
Dan disyaratkan pada benda yang dihibahkan yakni ada secara nyata, berupa harta yang bernilai, dan dimiliki oleh orang yang akan menghibahkannya.” (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islami)
4. Apakah boleh memberi dan menerima hadiah atau hibah dari orang kafir?
Imam Asy-Syaukani berkata:
فلأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقبل هدايا الكفار ويهدي لهم كما أخرجه أحمد والترمذي والبزار من حديث علي قال:
“Sesungguhnya Nabi ﷺ menerima hadiah-hadiah dari orang-orang kafir dan memberikan juga hadiah kepada mereka, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Bazzar dari hadis Ali, ia berkata:
أَهْدَى كِسْرَى لِرَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَبِلَ مِنْهُ، وَأَهْدَى لَهُ قَيْصَرُ فَقَبِلَ مِنْهُ، وَأَهْدَتْ لَهُ الْمُلُوكُ فَقَبِلَ مِنْهَا
“Kisra memberikan hadiah kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau pun menerimanya. Kaisar memberikan hadiah kepada beliau ﷺ, maka beliau pun menerimanya. Para raja memberikan hadiah kepada beliau ﷺ, maka beliau pun menerimanya.” (Ad-Darari Al-Mudhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah)
5. Apakah boleh menarik kembali hadiah atau hibah?
Nabi ﷺ bersabda:
لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُعْطِيَ عَطِيَّةً أَوْ يَهَبَ هِبَةً فَيَرْجِعَ فِيهَا إِلَّا الْوَالِدَ فِيمَا يُعْطِي وَلَدَهُ، وَمَثَلُ الَّذِي يُعْطِي الْعَطِيَّةَ، ثُمَّ يَرْجِعُ فِيهَا كَمَثَلِ الْكَلْبِ يَأْكُلُ فَإِذَا شَبِعَ قَاءَ، ثُمَّ عَادَ فِي قَيْئِه
“Tidak boleh seseorang memberikan suatu pemberian atau memberikan suatu hibah lalu menariknya kembali kecuali orang tua dalam hal pemberiannya kepada anaknya. Dan perumpamaan orang yang memberi sesuatu lalu menariknya kembali seperti anjing yang makan, lalu jika ia kenyang, ia muntah, kemudian ia memakan lagi muntahannya.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan lain-lain)
6. Apakah seseorang boleh memberikan hadiah atau hibah kepada sebagian anaknya dan tidak memberikannya kepada sebagian yang lain?
Suatu hari An-Nu’man bin Basyir mendapat hadiah dari Basyir, ayahnya. Maka ‘Amrah bin Rawahah, ibunya berkata:
لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ
“Aku tidak rela sampai engkau menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai saksi.”
Maka Basyir menemui Rasulullah ﷺ dan berkata:
إِنِّي أَعْطَيْتُ ابْنِي مِنْ عَمْرَةَ بِنْتِ رَوَاحَةَ عَطِيَّةً فَأَمَرَتْنِي أَنْ أُشْهِدَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
“Aku memberi sebuah hadiah kepada anakku dari ‘Amrah binti Rawahah, tapi ia menyuruhku agar aku menjadikanmu sebagai saksi, wahai Rasulullah.”
Beliau ﷺ bertanya:
أَعْطَيْتَ سَائِرَ وَلَدِكَ مِثْلَ هَذَا
“Apakah semua anakmu engkau beri hadiah seperti ini?”
Basyir menjawab:
لَا
“Tidak.”
Beliau ﷺ bersabda:
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ
“Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah kepada anak-anak kalian.”
An-Nu’man berkata:
فَرَجَعَ فَرَدَّ عَطِيَّتَهُ
“Maka ayahku kembali, lalu menarik kembali pemberiannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa orang tua dilarang mengistimewakan sebagian anaknya dengan suatu pemberian, tanpa memberikan itu kepada sebagian yang lain. Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk berbuat adil kepada semua anak.
Perintah untuk berbuat adil di sini adalah wajib hukumnya. Sebab, disebutkan dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda:
فَلَا تُشْهِدْنِي إِذًا، فَإِنِّي لَا أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ
“Jangan jadikan aku saksi kalau begitu, karena sesungguhnya aku tidak akan bersaksi atas kezaliman.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau suatu perbuatan dikatakan sebagai kezaliman, berarti meninggalkannya adalah suatu kewajiban.
Maka, orang tua wajib berbuat adil kepada anak-anaknya dan tidak boleh membeda-bedakan anak-anaknya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
سَوُّوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ فِي الْعَطِيَّةِ فَلَوْ كُنْتُ مُفَضِّلًا أَحَدًا لَفَضَّلْتُ النِّسَاءَ
“Samakanlah pemberian di antara anak kalian. Kalau aku boleh melebihkan seseorang dalam pemberian, tentu akan kulebihkan para wanita.” (HR. Al-Baihaqi)
7. Apakah seorang pekerja di suatu instansi boleh menerima hadiah?
Nabi ﷺ bersabda:
هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ
“Hadiah yang diterima para pegawai adalah ghulul (pengkhianatan).” (HR. Ahmad)
Seseorang bertanya kepada Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad:
أنا معلم في المرحلة الابتدائية، ويهدي إلي بعض الطلاب هدايا فأمتنع من قبولها، فهل امتناعي هذا صحيح؟
“Saya pengajar di sekolah dasar. Sebagian murid memberikan hadiah kepadaku, tetapi aku enggan menerimanya. Apakah keenggananku itu benar?”
Syekh pun menjawab:
امتناعك صحيح؛ لأن المعلم موظف، وفي الحديث: (هدايا العمال غلول).
“Keenggananmu itu benar. Sebab, guru adalah pegawai. Dan disebutkan dalam suatu hadis: ‘Hadiah yang diterima para pegawai adalah pengkhianatan.” (Syarh Sunan Abi Daud)
8. Siapa yang paling pantas mendapat hadiah atau hibah?
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
الأولى بالإهداء إليه الأقرب فالأقرب من الأهل، والأقارب، والجيران، والأصدقاء، من الأغنياء والفقراء.1 – عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ:
“Yang paling pantas mendapatkan hadiah yaitu orang yang paling dekat lalu setelahnya dari kalangan keluarga, kerabat, tetangga, dan sahabat, baik mereka kaya maupun miskin. Dari ‘Aisyah-semoga Allah meridainya-ia berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي جَارَيْنِ، فَإِلَى أيِّهِمَا أهْدِي؟
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki dua tetangga, maka kepada siapa hadiah kuberikan di antara keduanya?”
قال:
Beliau ﷺ menjawab:
«إِلَى أقْرَبِهِمَا مِنْكِ باباً».
“Kepada yang paling dekat pintunya dengan dirimu.”
أخرجه البخاري
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari.
2 – وَعَنْ مَيْمُونَةَ بِنْتِ الحَارِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أنَّهَا أعْتَقَتْ وَلِيدَةً فِي زَمَانِ رَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -، فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -، فَقَالَ:
Dari Maimunah binti Al-Harits-semoga Allah meridainya-bahwa ia memerdekakan budak di zaman Rasulullah ﷺ. Ia pun menyebutkan itu kepada Rasulullah ﷺ. Maka beliau ﷺ pun bersabda:
لَوْ أعْطَيْتِهَا أخْوَالَكِ كَانَ أعْظَمَ لأَجْرِكِ
“Kalau engkau memberikan itu kepada bibi-bibimu, tentu lebih besar lagi pahalamu.” (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islami)
Siberut, 4 Rajab 1445
Abu Yahya Adiya






