Adakah Barang Peninggalan Nabi ﷺ Sekarang Ini?

Adakah Barang Peninggalan Nabi ﷺ Sekarang Ini?

Tidak diragukan lagi kita boleh mencari berkah yang ada pada segala sesuatu yang terpisah dari jasad Nabi ﷺ atau tersentuh oleh jasad Nabi ﷺ, baik itu semasa hidup beliau maupun sepeninggal beliau.

Contohnya?

Rambut beliau, gelas beliau, pakaian beliau, sandal beliau, pedang beliau, dan segala sesuatu yang tersentuh oleh jasad beliau.

Namun, apakah semua itu masih ada dan utuh sampai sekarang?

‘Amru bin Al-Harits berkata:

مَا تَرَكَ رسولُ اللَّه ﷺ عِنْدَ مَوْتِهِ دِينَاراً وَلا دِرْهَماً، وَلاَ عَبْداً، وَلا أَمَةً، وَلا شَيْئاً إِلاَّ بَغْلَتَهُ الْبَيْضَاءَ الَّتي كَان يَرْكَبُهَا، وَسِلاحَهُ، وَأَرْضاً جَعَلَهَا لابْنِ السَّبيِلِ صَدَقَةً

“Ketika wafat, Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan dinar, tidak pula dirham, budak pria maupun wanita, atau apa pun juga, melainkan hanya keledai putih yang biasa beliau naiki, dan juga senjatanya, serta sebidang tanah yang beliau jadikan sebagai sedekah untuk musafir yang kehabisan bekal perjalanan.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan sedikitnya peralatan atau barang peninggalan Nabi ﷺ ketika beliau wafat.

Selain itu, telah valid bahwa beberapa barang peninggalan Nabi ﷺ telah raib dalam kurun waktu yang panjang, karena hilang, perang, dan semacamnya.

Imam Ibnu Katsir ketika berbicara tentang baju-baju Nabi ﷺ:

وهذه الأثواب الثَّلَاثَةُ لَا يُدْرَى مَا كَانَ مِنْ أَمْرِهَا بعد هذا

“Tiga pakaian beliau ini tidak diketahui keberadaannya setelah kematian beliau ini.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah)

Imam As-Suyuthi ketika berbicara tentang kain burdah Nabi ﷺ:

وقد كانت هذه البردة عند الخلفاء يتوارثونها ويطرحونها على أكتافهم في المواكب جلوسًا وركبوا، وكانت على المقتدر حين قتل، وتلوثت بالدم، وأظن أنها فقدت في فتنة التتار فإنا لله وإنا إليه راجعون.

“Kain burdah Nabi ﷺ ini ada pada para khalifah. Mereka saling mewarisinya dan meletakkannya pada bahu mereka di saat pawai dalam keadaan mereka duduk mengendarai kendaraan. Dan kain tersebut ada pada Al-Muqtadir saat ia terbunuh dan berlumuran darah. Aku mengira kain tersebut hilang tatkala fitnah Tartar. Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya lah kita kembali.” (Tarikh Al-Khulafa)

Maksud beliau, kain burdah Nabi ﷺ tersebut hilang di akhir pemerintahan Dinasti ‘Abbasiyyah, yaitu tatkala tentara Tartar menyerang dan membumihanguskan Baghdad tahun 656 H.

Ketika berbicara tentang mencari berkah pada peninggalan Nabi ﷺ, Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata:

ونحن نعلم أن آثاره صلى الله عليه وسلم من ثياب أو شعر أو فضلات قد فقدت، وليس بإمكان أحد إثبات وجود شيء منها على وجه القطع واليقي

“Kita yakin bahwa peninggalan beliau ﷺ berupa pakaian, rambut, atau apa yang terpisah dari jasad beliau telah hilang. Dan tidak mungkin seorang pun menetapkan adanya itu dengan pasti dan yakin.” (At-Tawassul Anwa’uhu wa Ahkaamuh)

DR. Nashir bin ‘Abdurrahman Al-Jadi’ berkata:

ومن خلال ما تقدم فإن ما يُدّعى الآن من وجود بعض الآثار النبوية في تركيا أو غيرها سواءً عند بعض الجهات، أو عند بعض الأشخاص موضع شك، يحتاج في إثبات صحة نسبته إلى الرسول صلى الله عليه وسلم إلى برهان قاطع، يزيل الشك الوارد

“Berdasarkan keterangan yang telah berlalu, apa yang diklaim sekarang ini berupa adanya beberapa barang peninggalan Nabi di Turki, atau selainnya, baik dari beberapa pihak atau individu, semua itu diragukan. Untuk menetapkan bahwa itu benar berasal dari Rasul ﷺ membutuhkan bukti pasti yang menghilangkan keraguan yang muncul.

ولكن أين ذلك؟ ولاسيما مع مرور أكثر من أربعة عشر قرناً من الزمان على وجود تلك الآثار النبوية، ومع إمكان الكذب في ادعاء نسبتها إلى الرسول صلى الله عليه وسلم للحصول على بعض الأغراض، كما وُضعت الأحاديث ونسبت إليه صلى الله عليه وسلم كذباً وزوراً

Namun, bagaimana mungkin bukti itu bisa ditemukan? Apalagi sudah berlalu waktu lebih dari 14 abad sejak adanya barang peninggalan Nabi ﷺ itu dan juga ada kemungkinan klaim tersebut dusta demi memperoleh tujuan tertentu, sebagaimana hadis-hadis dipalsukan dan disandarkan kepada Nabi ﷺ secara dusta dan tidak benar.

وعلى أي حال فإن التبرك الأسمى والأعلى بالرسول -صلى الله عليه وسلم- هو اتباع ما أثر عنه من قول أو فعل، والإقتداء به، والسير على منهاجه ظاهراً وباطناً

Bagaimana pun juga, mencari berkah dari Rasul ﷺ yang paling baik dan mulia yaitu dengan mengikuti perkataan atau perbuatan yang ternukil dari beliau dan menjadikan beliau panutan serta menempuh jalan beliau, baik secara lahir maupun batin.”
http://www.islamtoday.net/questions/show_question_*******.cfm?id=141

Kesimpulannya: Kalau barang yang ada pada beberapa tahun lalu saja bisa dipalsukan, maka bagaimana pula dengan barang yang sudah berlalu 14 abad yang lalu?!

Tidak ada jaminan itu terjaga. Berbeda halnya dengan hadis nabi kita. Tetap terjaga dan pasti terjaga.

Nabi ﷺ bersabda:

يَرِثُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ , يَنْفُونَ عَنْهُ تَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ , وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ , وَتَحْرِيفَ الْغَالِينَ

“Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan takwil orang-orang bodoh, pemalsuan orang-orang sesat, dan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas.” (HR. Baihaqi)

Karena itu, kalau ada orang yang berusaha memalsukan hadis, maka pasti ketahuan dan selalu ketahuan.

Sebab, Allah telah menjamin penjagaan terhadap hadis nabi-Nya lewat jerih payah para ulama ahli hadis yang menyaring antara hadis yang sahih, lemah, dan palsu.

 

Siberut, 8 Rabi’ul Awwal 1446
Abu Yahya Adiya