Adakah Surga di Rumah Kita?

Adakah Surga di Rumah Kita?

Bayangkanlah surga ada di hadapanmu.

Pemandangannya begitu indah…

Udaranya begitu sejuk…

Pepohonan yang menghijau terbentang luas di hadapanmu…

Buah-buahan yang ranum tersaji di depanmu…

Air yang bening dan segar mengalir di kakimu…

Apa perasaan kita kalau pemandangan tadi ada di hadapan kita?

Apa reaksi kita jika surga ada di hadapan kita?

Tentu tentramlah hati kita, dan damailah jiwa kita.

Maka begitu pula jika rumah kita telah menjadi surga, tentu tentramlah hati kita, dan damailah jiwa kita.

 

Agar Rumah Menjadi Surga

Bagaimana caranya agar rumah kita menjadi surga?

Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَـلِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَوةً طَيِّبَةً

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

Ya, kehidupan yang baik. Kehidupan yang penuh dengan ketenteraman dan kebahagiaan.

Berarti…

Orang yang beriman dan selalu mengerjakan kebajikan akan baik hidupnya.

Orang yang beriman dan senantiasa mengerjakan kebajikan akan tenteram hidupnya.

Orang yang beriman dan kerap mengerjakan kebajikan akan bahagia hidupnya.

Jika yang demikian berlaku pada satu orang, maka sebenarnya itu berlaku pula pada satu keluarga.

Kalau suatu keluarga beriman dan kerap mengerjakan kebajikan, tentu akan baik, tenteram, dan bahagialah hidup mereka.

Dan kalau mereka sudah bahagia, tentu jadi surgalah rumah mereka.

 

Memaafkan Adalah Pintu Kebahagiaan

Selain semua itu, kebahagiaan pun bisa diraih dengan memaafkan. Karena…

Istri kita bukanlah bidadari. Kita pun bukan malaikat.

Kalau istri kita memiliki banyak kekurangan dan kesalahan, kita pun memiliki banyak kekurangan dan kesalahan.

Karena itu, suami yang baik tetap berbuat baik kepada istrinya, walaupun istrinya memiliki kekurangan.

Seorang suami yang bijak tetap mempergauli istrinya dengan bijak, walaupun istrinya memiliki kesalahan.

Mengapa demikian?

Sebab, bagaimanapun kekurangan istri, masih banyak kelebihan yang ia miliki.

Dan bagaimanapun kesalahan istri, masih banyak jasa dan kebaikan yang ia miliki.

Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika ia tidak senang dengan salah satu perilaku istrinya, bisa jadi ia akan merasa senang dengan perilakunya yang lain.” (HR. Muslim)

Jika seseorang suami berlapang dada atas kekurangan istrinya, dan istri berlapang dada atas kekurangan suaminya, maka hidup mereka akan terasa lapang.

Dan jika seorang suami memusatkan perhatiannya pada kelebihan istrinya, dan istrinya memusatkan perhatiannya pada kelebihan suaminya, maka hidup mereka akan tenang.

Kalau sudah begitu, apa yang terjadi?

Tidak diragukan lagi, rumah mereka sudah menjadi surga!

 

Siberut, 26 Muharram 1442

Abu Yahya Adiya