Akibat Bersetubuh ketika Ramadhan

Akibat Bersetubuh ketika Ramadhan

Bersetubuh ketika Ramadhan terbagi menjadi 2:

1. Bersetubuh di malam harinya.

2. Bersetubuh di siang harinya.

Adapun bersetubuh di malam harinya, maka itu diperbolehkan berdasarkan firman-Nya:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kalian.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Pertanyaan: seseorang sedang bersetubuh dengan istrinya tiba-tiba terdengarlah azan Subuh, lalu ia pun segera ‘mencabutnya’. Namun, setelah itu ternyata ia mengalami ejakulasi yakni keluarlah maninya. Apakah batal puasanya?

Imam An-Nawawi berkata:

إذَا جَامَعَ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ نَزَعَ مَعَ طُلُوعِهِ أَوْ عَقِبَ طُلُوعِهِ وَأَنْزَلَ لَمْ يَبْطُلْ صَوْمُهُ لِأَنَّهُ تَوَلَّدَ مِنْ مُبَاشَرَةٍ مُبَاحَةٍ فَلَمْ يجب فيه شئ كَمَا لَوْ قَطَعَ يَدَ رَجُلٍ قِصَاصًا فَمَاتَ المقتص مِنْهُ

“Jika seseorang bersetubuh sebelum terbit fajar lalu ‘mencabutnya’ bersamaan dengan terbitnya fajar atau langsung ‘mencabutnya’ setelah terbitnya fajar, dan mengalami ejakulasi, maka tidak batal puasanya. Sebab, itu berasal dari persetubuhan yang diperbolehkan. Karena itu, tidak ada kewajiban apa pun atasnya. Seperti halnya memotong tangan seseorang sebagai bentuk kisas, lalu orang yang dipotong tangannya itu meninggal.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)

 

Adapun bersetubuh di siang hari Ramadhan, maka itu ada dua keadaan: bersetubuh karena lupa dan bersetubuh dengan sengaja.

Adapun bersetubuh karena lupa, maka itu dimaafkan dan tidak membatalkan puasanya.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَفْطَرَ فِي شَهْر رَمَضَان نَاسِيًا فَلَا قَضَاء عَلَيْهِ وَلا كَفَّارَة

“Siapa yang berbuka di bulan Ramadhan karena lupa, maka ia tidak perlu mengganti puasanya itu dan tidak pula membayar kafarat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya)

Siapa yang berbuka dan ini umum mencakup makan, minum dan juga bersetubuh.

Imam An-Nawawi mengomentari hadis yang serupa dengan hadis tadi:

فِيهِ دَلَالَةٌ لِمَذْهَبِ الْأَكْثَرِينَ أَنَّ الصَّائِمَ إِذَا أَكَلَ أَوْ شَرِبَ أَوْ جَامَعَ نَاسِيًا لَا يُفْطِرُ وَمِمَّنْ قَالَ بِهَذَا الشَّافِعِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَدَاوُدُ وَآخَرُونَ

“Dalam hadis ini terdapat dalil bagi pendapat mayoritas ulama bahwa orang yang berpuasa jika makan, minum atau bersetubuh karena lupa, maka tidak batal puasanya. Di antara yang berpendapat dengan pendapat ini adalah Asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Daud, dan yang lainnya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

Adapun bersetubuh di siang hari dengan sengaja, maka itu membatalkan puasa dan pelakunya harus membayar kafarat.

Abu Hurairah berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ

“Ketika kami sedang duduk bersama Nabi ﷺ tiba-tiba datang seorang pria lalu berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ

“Wahai Rasulullah, binasalah aku!”

قَالَ

Beliau bertanya:

مَا لَكَ

“Ada apa denganmu?”

قَالَ

Orang itu menjawab:

وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Aku telah bersetubuh dengan isteriku padahal aku sedang berpuasa.”

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

Maka Rasulullah ﷺ bertanya:

هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا

“Apakah engkau bisa mendapatkan budak untuk engkau bebaskan?”

قَالَ

Orang itu menjawab:

لَا

“Tidak.”

قَالَ

Beliau bertanya lagi:

فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ

“Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?”

قَالَ

Orang itu menjawab:

لَا

“Tidak.”

فَقَالَ

Lalu beliau bertanya lagi:

فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا

“Apakah engkau bisa memberi makan kepada enam puluh orang miskin?”

قَالَ

Orang itu menjawab:

لَا

“Tidak.”

Abu Hurairah berkata:

فَمَكَثَ النَّبِيُّ ﷺ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ قَالَ

“Nabi ﷺ terdiam. Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba Nabi ﷺ diberi satu keranjang kurma. Beliau berkata:

أَيْنَ السَّائِلُ

“Mana orang yang bertanya tadi?”

فَقَالَ

Orang itu menjawab:

أَنَا

“Aku.”

قَالَ

Beliau pun bersabda:

خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ

“Ambillah kurma ini lalu sedekahkanlah!”

فَقَالَ الرَّجُلُ

Orang itu berkata:

أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي

“Apakah disedekahkan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada keluarga yang tinggal di antara dua tanah berbatu (Madinah), yang lebih miskin daripada keluargaku!”

فَضَحِكَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ

Maka Nabi ﷺ pun tertawa hingga tampak gigi serinya. Lalu beliau bersabda:

أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

“Kalau begitu, berilah makan keluargamu dengan kurma ini!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis ini Nabi ﷺ menyebutkan kafarat orang yang bersetubuh di siang hari Ramadhan dengan sengaja yaitu membebaskan budak. Kalau tidak dapat, ia harus berpuasa 2 bulan berturut-turut. Kalau tak mampu, ia harus memberi makan 60 orang miskin.

 

Siberut, 8 Ramadhan 1442

Abu Yahya Adiya