Tidur, Pingsan, dan Gila Sepanjang Hari dalam Puasa

Tidur, Pingsan, dan Gila Sepanjang Hari dalam Puasa

Orang yang sedang tidur tidak bisa memahami apa yang terjadi di sekitarnya.

Orang yang pingsan juga tidak bisa memahami apa yang terjadi di sekitarnya.

Begitu pula orang yang gila tidak bisa memahami apa yang terjadi di sekitarnya.

Apa jadinya jika selesai sahur seseorang tertidur atau pingsan atau gila lalu ia tersadar ketika sudah memasuki waktu Magrib? Apakah puasanya sah? Kalau tidak sah, apakah ia harus mengganti puasanya pada hari yang lain?

 

Gila

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

أما المجنون فلا يقضي بالاتفاق؛ لأنه رفع عنه القلم

“Adapun orang gila, maka ia tidak perlu mengganti puasa berdasarkan kesepakatan para ulama. Sebab, pena pencatatan amal sudah diangkat darinya.” (Liqa Al-Bab Al-Maftuh)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

فإذا جن الإنسان جميع النهار في رمضان من قبل الفجر حتى غربت الشمس فلا يصح صومه؛ لأنه ليس أهلاً للعبادة، ومن شرط الوجوب والصحة العقل، وعلى هذا فصومه غير صحيح، ولا يلزمه القضاء، لأنه ليس أهلاً للوجوب.

“Jika seseorang mengalami gila di semua waktu siang bulan Ramadhan dari sejak Subuh sampai tenggelam matahari, maka tidak sah puasanya. Sebab, ia bukan orang yang pantas untuk beribadah. Dan di antara syarat wajib dan sahnya ibadah seseorang yaitu berakal. Karena itu, puasanya tidak sah dan ia tidak wajib mengganti puasanya ketika sadar. Sebab, ia bukan orang yang pantas untuk menjalani kewajiban.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)

 

Tidur

Imam Ibnu Qudamah berkata:

النَّوْمُ، فَلَا يُؤَثِّرُ فِي الصَّوْمِ، سَوَاءٌ وُجِدَ فِي جَمِيعِ النَّهَارِ أَوْ بَعْضِهِ

“Tidur tidak berpengaruh pada puasa, baik itu terjadi sepanjang siang atau sebagiannya.” (Al-Mughni)

Imam An-Nawawi berkata:

إذَا نَامَ جَمِيعَ النَّهَارِ وَكَانَ قَدْ نَوَى مِنْ اللَّيْلِ صَحَّ صَوْمُهُ عَلَى الْمَذْهَبِ وَبِهِ قَالَ الْجُمْهُورُ وَ

“Jika seseorang tidur sepanjang siang dan ia telah berniat puasa pada malam sebelumnya, maka sah puasanya berdasarkan mazhab Syafi’i dan itu juga pendapat mayoritas ulama.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

فإذا تسحر ونام من قبل أذان الفجر، ولم يستيقظ إلا بعد غروب الشمس، فصومه صحيح، لأنه من أهل التكليف ولم يوجد ما يبطل صومه، ولا قضاء عليه.

“Jika seseorang sahur dan tidur sebelum azan Subuh dan tidak bangun kecuali setelah tenggelam matahari, maka puasanya sah. Sebab, ia termasuk orang yang pantas mendapatkan beban syariat dan tidak ada yang membatalkan puasanya dan tidak ada kewajiban atasnya untuk mengganti puasa hari itu.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)

 

Pingsan

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

المغمى عليه، فإذا أغمي عليه بحادث، أو مرض ـ بعد أن تسحر ـ جميع النهار، فلا يصح صومه؛ لأنه ليس بعاقل، ولكن يلزمه القضاء؛ لأنه مكلف، وهذا قول جمهور العلماء

“Jika setelah sahur seseorang pingsan karena kecelakaan atau penyakit sampai sepanjang siang, maka tidak sah puasanya. Sebab, ia bukan orang yang berakal. Namun, ia wajib mengganti puasanya. Sebab, ia mukalaf. Dan itu adalah pendapat mayoritas ulama.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)

Apa dalilnya bahwa puasa orang yang pingsan sepanjang hari tidak sah?

Imam Ibnu Qudamah berkata:

أَنَّ الصَّوْمَ هُوَ الْإِمْسَاكُ مَعَ النِّيَّةِ. قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:

“Puasa itu adalah menahan diri dari pembatal puasa dengan disertai niat. Nabi ﷺ bersabda:

«يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى:

“Allah berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِي» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

“Setiap amalan anak Adam untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya itu untuk-Ku. Akulah yang akan membalasnya. Ia telah meninggalkan makanan dan minumannya karena-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

فَأَضَافَ تَرْكَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ إلَيْهِ، وَإِذَا كَانَ مُغْمًى عَلَيْهِ، فَلَا يُضَافُ الْإِمْسَاكُ إلَيْهِ، فَلَمْ يُجْزِئْهُ. وَلِأَنَّ النِّيَّةَ أَحَدُ رُكْنَيْ الصَّوْمِ

Allah menyandarkan perbuatan meninggalkan makanan dan minuman kepada orang yang berpuasa. Jika ia pingsan, maka perbuatan meninggalkan makanan dan minuman itu tidak disandarkan kepadanya, karena itu tidak sah puasanya. Sebab, niat adalah salah satu dari dua rukun puasa.” (Al-Mughni)

Dan apa dalilnya ia harus mengganti puasanya pada hari yang lain?

Keumuman ayat:

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ia tinggalkan itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Dan orang yang pingsan dianggap sebagai orang yang sakit.

Mungkin ada yang bertanya, “Bukankah pingsan itu sama saja dengan tidur?”

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin menjawab itu:

ولا يمكن أن يقاس الإغماء على النوم؛ لأن النائم يمكن أن يستيقظ إذا أوقظ، والمغمى عليه لا يمكن، فهو في حال بين الجنون وبين النوم

“Tidak mungkin menyamakan pingsan dengan tidur. Sebab, orang yang tidur mungkin untuk bangun jika dibangunkan. Sedangkan orang yang pingsan tidak mungkin. Sebab, ia berada dalam keadaan di antara gila dan tidur.” (Al-Liqa Asy-Syahri)

 

Kesimpulan:

1. Siapa yang berniat untuk berpuasa sebelum waktu subuh lalu mengalami kegilaan sampai masuk waktu Magrib, maka puasanya tidak sah, tetapi ia tidak wajib mengganti puasanya itu pada hari yang lain.

2. Siapa yang berniat untuk berpuasa sebelum waktu subuh lalu tertidur sampai masuk waktu Magrib, maka puasanya sah dan ia tidak wajib mengganti puasanya itu pada hari yang lain.

3. Siapa yang berniat untuk berpuasa sebelum waktu subuh lalu pingsan sampai masuk waktu Magrib, maka puasanya tidak sah dan ia wajib mengganti puasanya itu pada hari yang lain.

 

Siberut, 3 Ramadhan 1444

Abu Yahya Adiya

 

https://islamqa.info/ar/answers/37886/%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%88%D9%85-%D8%B7%D9%8A%D9%84%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%87%D8%A7%D8%B1-%D9%81%D9%8A-%D8%B1%D9%85%D8%B6%D8%A7%D9%86