Kita menginginkan suatu kenikmatan, tapi Allah tidak menakdirkan kenikmatan itu bisa kita rasakan.
Dan kita tidak menginginkan suatu bencana, tapi Allah menakdirkan bencana itu menimpa diri kita.
Allah berfirman:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Engkau memimpikan kekayaan mengitarimu. Padahal, bisa saja kekayaan menjauhkanmu dari Tuhanmu.
Engkau mengangankan jabatan yang tinggi. Padahal, bisa saja jabatan yang tinggi membuatmu lupa diri.
Engkau menginginkan badan yang sehat. Padahal, bisa saja badan yang sehat mendorongmu untuk bermaksiat.
Sebaliknya, engkau membenci kemiskinan, jabatan yang rendah, dan penyakit menimpa dirimu. Padahal, bisa saja semua itu mendekatkan dirimu dengan Tuhanmu dan membuatmu sadar akan hakekat dirimu.
Kenikmatan itu bisa mengantarkan pada kesengsaraan, sebagaimana kesengsaraan bisa mengantarkan pada kenikmatan!
Ibnu Mas’ud berkata:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَهُمُّ بِالْأَمْرِ مِنَ التِّجَارَةِ وَالْإِمَارَةِ حَتَّى يَتَيَسَّرَ لَهُ، نَظَرَ اللَّهُ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ فَيَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ:
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bertekad melakukan suatu urusan berupa perdagangan dan kekuasaan hingga itu terasa mudah baginya, lalu Allah memandangnya dari atas langit ketujuh kemudian Dia berfirman kepada para malaikat:
اصْرِفُوا عَنْهُ فَإِنِّي إِنْ يَسَّرْتُهُ لَهُ أَدْخَلْتُهُ النَّارَ
“Palingkanlah itu darinya, karena sesungguhnya jika Kumudahkan itu baginya, maka akan Kumasukkan ia ke neraka!” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)
Karena itu, jangan sesali kenikmatan yang luput darimu!
Apa pun kenikmatan yang luput darimu, maka ketahuilah, itu adalah keputusan Tuhanmu.
Terimalah ketetapan-Nya dengan lapang dada. Teruslah berprasangka baik kepada-Nya. Karena, bagaimana pun….
Pilihan-Nya lebih baik daripada pilihan kita.
Siberut, 16 Jumada Al-Ulaa 1443
Abu Yahya Adiya






