Kalau engkau berbuat salah kepada temanmu lalu meminta maaf kepadanya, maka mungkin saja ia memaafkanmu dan mungkin saja tidak.
Kalau pun ia memaafkanmu, bisa jadi berkurang keakrabannya denganmu.
Kenapa begitu?
Karena ia manusia. Makhluk yang banyak memiliki kekurangan dan kelemahan!
Berbeda dengan Allah. Karena luasnya kasih sayang-Nya, jika seorang hamba berbuat salah kepada-Nya lalu meminta maaf kepada-Nya, maka Dia akan bergembira dan memberikan ampunan kepadanya. Bukan cuma itu, bahkan Dia akan mencintainya setelah sebelumnya murka kepadanya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
للَّهُ أَشدُّ فَرَحاً بِتَوْبةِ عَبْدِهِ حِين يتُوبُ إِلْيهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى راحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فلاةٍ، فانْفلتتْ مِنْهُ وعلَيْها طعامُهُ وشرَابُهُ فأَيِسَ مِنْهَا، فأَتَى شَجَرةً فاضْطَجَعَ في ظِلِّهَا، وقد أَيِسَ مِنْ رَاحِلتِهِ، فَبَيْنما هوَ كَذَلِكَ إِذْ هُوَ بِها قَائِمة عِنْدَهُ، فَأَخذ بِخطامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الفَرحِ: اللَّهُمَّ أَنت عبْدِي وأَنا ربُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الفرح.
“Sungguh, Allah sangat bergembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya melebihi kegembiraan seorang dari kalian yang berada di atas untanya dan berada di suatu gurun. Kemudian pergilah unta itu dari dirinya, sedangkan di situ ada makanan dan minumannya. Ia pun berputus-asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon terus berteduh di bawah naungannya, sedangkan hatinya sudah berputus-asa untuk menemukan kendaraannya. Ketika ia dalam kondisi demikian, tiba-tiba untanya itu tampak berdiri di sisinya. Lalu ia mengambil tali kekangnya. Kemudian karena saking gembiranya ia berkata: ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah TuhanMu!’ Ia salah ucap karena saking gembiranya.” (HR. Muslim)
Lihatlah, orang itu kehilangan tunggangan, makanan dan minuman di tempat yang sepi. Tidak berpenghuni. Kematian seolah-olah sudah di depan matanya. Harapan hidup seakan sudah tertutup untuknya.
Ketika ia sudah benar-benar putus asa, tiba-tiba ia menemukan kembali unta dan seluruh perbekalannya!
Bayangkan, bagaimana gembiranya orang itu!
Bayangkan, bagaimana senangnya orang itu!
Kalau memang kita bisa membayangkan itu, maka ketahuilah, kegembiraan Allah ketika hamba-Nya bertaubat lebih besar daripada kegembiraan orang tadi ketika menemukan unta dan perbekalannya!
Suatu hari ‘Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Rabi’ah pergi berboncengan. Ketika itu mereka berjalan melewati pekuburan Kufah lalu ‘Ali mengangkat kepalanya ke atas kemudian ia berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ غَيْرُكَ
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”
Lalu ‘Ali menengok kepada Ibnu Rabi’ah dan tertawa. Ibnu Rabi’ah berkata:
مَا هَذَا؟
“Ada apa ini?”
‘Ali berkata:
أَرْدَفَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خَلْفَهُ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ:
“Rasulullah ﷺ pernah memboncengkanku di belakang beliau lalu beliau mengangkat kepala beliau ke atas kemudian berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ غَيْرُكَ
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”
ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ فَضَحِكَ فَقُلْتُ
Lalu Rasulullah ﷺ menengok kepadaku kemudian tertawa. Aku pun bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتِغْفَارُكَ رَبَّكَ وَالْتِفَاتُكَ إِلَيَّ تَضْحَكُ
“Wahai Rasulullah, engkau memohon ampun kepada Tuhanmu dan menengok kepadaku lalu tertawa?”
فَقَالَ:
Beliau ﷺ pun bersabda:
ضَحِكْتُ مِنْ ضَحِكِ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِعَبْدِهِ إِنَّهُ عَلِمَ أَنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ غَيْرُهُ
“Aku tertawa karena tawa Tuhanku Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi terhadap hamba-Nya. Ia sadar bahwa tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Dia.” (HR. Al-Bazzar, Ibnu Khuzaimah dan lain-lain)
Wahai saudaraku yang terjatuh dalam kubangan dosa….
Bersimpuhlah di hadapan Tuhanmu. Sesalilah kesalahanmu. Tangisilah dosamu. Mohonlah ampunan Tuhanmu.
Niscaya Dia bergembira dengan tobatmu. Pasti Dia memberikan ampunan kepadamu. Tentu Dia akan mencintaimu.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Siberut, 23 Jumada Ats-Tsaniyah 1443
Abu Yahya Adiya






