“Sesungguhnya aku telah melakukan dosa yang besar, apakah masih ada peluang tobat bagiku?”
Itulah pertanyaan yang diajukan oleh seseorang kepada Nabi ﷺ.
Nabi ﷺ pun balik bertanya kepadanya:
هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟
“Apakah engkau masih memiliki ibu?”
Orang itu menjawab:
لَا
“Tidak.”
Nabi ﷺ bertanya lagi:
هَلْ لَكَ مِنْ خَالَةٍ؟
“Apakah engkau masih memiliki bibi?”
Orang itu menjawab:
نَعَمْ
“Ya.”
Nabi ﷺ pun bersabda:
فَبِرَّهَا
“Maka berbaktilah kepadanya!” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua, terutama ibu, merupakan amalan yang sangat mulia.
Kalau tadi ditunjukkan oleh nabi kita, maka begitu pula yang ditunjukkan oleh sahabatnya.
Imam Ibnu Rajab berkata:
وَرُوِيَ عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لَهُ:
“Dan diriwayatkan dari ‘Umar bahwa seseorang berkata kepadanya:
قَتَلْتُ نَفْسًا
“Aku telah menghilangkan nyawa seseorang.”
قَالَ:
‘Umar pun bertanya:
أُمُّكَ حَيَّةٌ؟
“Apakah ibumu masih hidup?”
قَالَ:
Orang itu menjawab:
لَا
“Tidak.”
قَالَ:
‘Umar bertanya:
فَأَبُوكَ؟
“Lalu ayahmu masih hidup?”
قَالَ:
Orang itu menjawab:
نَعَمْ
“Ya.”
قَالَ:
‘Umar pun berkata:
فَبِرَّهُ وَأَحْسِنْ إِلَيْهِ
“Berbaktilah kepadanya!”
ثُمَّ قَالَ عُمَرُ:
Lalu ‘Umar juga berkata:
لَوْ كَانَتْ أُمُّهُ حَيَّةً فَبَرَّهَا، وَأَحْسَنَ إِلَيْهَا، رَجَوْتُ أَنْ لَا تَطْعَمَهُ النَّارُ أَبَدًا
“Seandainya ibumu masih hidup, maka berbaktilah dan berbuat baiklah kepadanya. Aku berharap engkau tidak disentuh api neraka selama-lamanya.”
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مَعْنَاهُ أَيْضًا
Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas yang semakna dengan itu juga.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam)
Yang dimaksud oleh Imam Ibnu Rajab yaitu kisah ketika seseorang mendatangi Ibnu ‘Abbas lalu berkata:
إِنِّي خَطَبْتُ امْرَأَةً فَأَبَتْ أَنْ تَنْكِحَنِي وَخَطَبَهَا غَيْرِي فَأَحَبَّتْ أَنْ تَنْكِحَهُ فَغِرْتُ عَلَيْهَا فَقَتَلْتُهَا فَهَلْ لِي مِنْ تَوْبَةٍ؟
“Sesungguhnya aku meminang seorang wanita, tapi ia enggan untuk menikah denganku. Kemudian ia dipinang oleh orang lain dan ia ingin menikah dengannya. Aku pun cemburu, lalu kuhabisi wanita itu. Apakah masih ada peluang tobat bagiku?”
Ibnu ‘Abbas bertanya:
أُمُّكَ حَيَّةٌ؟
“Ibumu masih hidup?”
Orang itu menjawab:
لَا
“Tidak.”
Ibnu ‘Abbas pun berkata:
قَالَ تُبْ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتَقَرَّبْ إِلَيْهِ مَا اسْتَطَعْتَ
“Bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan mendekatlah kepada-Nya semampumu!”
‘Atha’ bin Yasar yang menyaksikan percakapan itu mendatangi Ibnu ‘Abbas lalu bertanya:
لِمَ سَأَلْتَهُ عَنْ حَيَاةِ أُمِّهِ؟
“Mengapa engkau bertanya kepadanya tentang ibunya?”
Ibnu ‘Abbas menjawab:
إِنِّي لَا أَعْلَمُ عَمَلًا أَقْرَبَ إِلَى الله عز وجل من بر الوالدة
“Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu amalan yang lebih mendekatkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla daripada berbakti kepada Ibu.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Semua riwayat tadi menunjukkan keutamaan berbakti kepada orang tua, terutama ibu kita.
Berbakti kepada orang tua bukanlah amalan yang biasa. Itu adalah amalan yang sangat mulia dan bisa menghapus dosa.
Imam Ahmad berkata:
بِرُّ الْوَالِدَيْنِ كَفَّارَةُ الْكَبَائِرِ
“Berbakti kepada kedua kedua orang tua adalah penghapus dosa-dosa besar.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah wa Al-Minah Al-Mar’iyyah)
Kalau memang demikian kedudukan bakti kepada orang tua, akankah orang yang memiliki hati melalaikan orang tuanya di masa hidupnya?
Siberut, 18 Shafar 1445
Abu Yahya Adiya






