Pelajaran dari Ancaman Raja Bani Israel

Pelajaran dari Ancaman Raja Bani Israel

“Orang-orang mengalami kemarau selama tiga tahun di zaman seorang raja Bani Israel.”

Itulah cerita yang disampaikan oleh Sa’id bin Jubair, seorang ulama tabiin. Lalu ia melanjutkan ceritanya:

فَقَالَ الْمَلِكُ:

“Berkatalah raja tersebut:

لَيُرْسِلَنَّ اللهُ عَلَيْنَا السَّمَاءَ أَوْ لَنُؤْذِيَنَّهُ

“Sungguh, Allah turunkan kepada kita hujan atau kita akan menyakiti-Nya!”

فَقَالَ لَهُ جُلَسَاؤُهُ:

Para pendampingnya pun berkata kepadanya:

كَيْفَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ تُؤْذِيَهُ أَوْ تُغِيظَهُ وَهُوَ فِي السَّمَاءِ وَأَنْتَ فِي الْأَرْضِ

“Bagaimana bisa Anda menyakiti-Nya atau membuat-Nya marah, padahal Dia di atas langit sedangkan Anda di muka bumi?”

قَالَ:

Raja itu berkata:

أَقْتُلُ أَوْلِيَاءَهُ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ فَيَكُونُ ذَلِكَ أَذًى لَهُ

“Aku akan membunuh wali-wali-Nya yang ada bumi sehingga itu akan menyakiti-Nya!”

فَأَرْسَلَ اللهُ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ

Lalu Allah pun mengutus hujan kepada mereka.” (Hilyah Al-Auliya wa Thabaqaat Al-Ashfiya)

Dari kisah ini kita bisa mengambil faidah:

 

1. Di antara kebiasaan Bani Israel yaitu menyakiti para nabi dan pembela mereka.

Allah menyebutkan demikian dalam Al-Quran:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa alasan yang benar, dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu siksa yang pedih.” (QS. Ali-‘Imran: 21)

Imam As-Suyuthi menjelaskan ayat ini:

وَهُمْ الْيَهُود رُوِيَ أَنَّهُمْ قَتَلُوا ثَلَاثَة وَأَرْبَعِينَ نَبِيًّا فَنَهَاهُمْ مِائَة وَسَبْعُونَ مِنْ عِبَادهمْ فَقَتَلُوهُمْ مِنْ يَوْمهم

“Merekalah kaum Yahudi. Diriwayatkan bahwa mereka membunuh 43 nabi, lalu 170 orang ahli ibadah di antara mereka melarang mereka, maka mereka pun dibunuh di hari itu juga.” (Tafsir Jalalain)

 

2. Yang bisa menurunkan hujan itu hanyalah Allah.

Itu adalah keyakinan yang ada dalam fitrah semua manusia, termasuk raja Bani Israel tadi.

Seandainya ia tidak meyakini demikian tentu ia tidak mengucapkan perkataannya tadi.

Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

“Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syuraa: 28)

 

3. Allah ada di atas langit.

Itu adalah keyakinan yang ada dalam fitrah semua manusia, termasuk raja Bani Israel tadi.

Seandainya ia tidak meyakini demikian tentu ia akan mengingkari ucapan para pendampingnya: “Bagaimana bisa Anda menyakiti-Nya atau membuat-Nya marah, padahal Dia di atas langit sedangkan Anda di muka bumi?”.

Seindainya ia tidak meyakini bahwa Allah di atas langit, tentu ia akan mengingkari ucapan mereka dengan berkata, “Dia tidak di atas langit!”

Kenyataannya ia tidak melakukan demikian. Itu menunjukkan bahwa ia tidak mengingkari keyakinan yang ada dalam fitrahnya yakni Tuhannya ada di atas langit, jauh dari dirinya.

 

Siberut, 16 Shafar 1445

Abu Yahya Adiya