Bijak ketika Amarah Bergolak

Bijak ketika Amarah Bergolak

Suatu hari Anas bin Malik berjalan bersama Nabi ﷺ. Tidak berapa lama, seorang Arab badui menyusul Nabi ﷺ, lalu menarik baju beliau dengan begitu keras hingga tarikannya membekas di leher beliau ﷺ.

Setelah melakukan kekasaran itu, ia berkata:

يَا مُحَمَّدُ مُرْ لِي مِن مالِ اللَّهِ الَّذِي عِندَكَ

“Wahai Muhammad, perintahkanlah untuk memberikan kepadaku harta Allah yang ada padamu!”

Anas berkata:

فالتَفَتَ إِلَيْه، فضحِكَ، ثُمَّ أَمر لَهُ بعَطَاءٍ

“Nabi ﷺ menoleh pada orang itu lalu tertawa, kemudian beliau memerintahkan supaya orang itu diberikan pemberian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah kelancangan orang Arab badui ini, dan perhatikanlah, apa sikap Nabi?

Apakah beliau menampakkan kemarahan?

Tidak. Beliau justru tertawa.

Apa pelajaran yang ingin beliau sampaikan?

Seseorang mencela Ibnu ‘Abbas. Lalu Ibnu ‘Abbas pun berkata kepada ‘Ikrimah, muridnya:

يا عكرمة هل للرّجل حاجة فنقضيها؟

“Wahai ‘Ikrimah, apakah orang ini punya hajat sehingga kita bisa menunaikannya?”

Maka orang itu pun menundukkan kepalanya. Ia malu melihat kesantunan Ibnu ‘Abbas kepadanya. Kisah ini disebutkan dalam Ihya ‘Ulum Ad-Din.

Lihatlah kelancangan orang tadi, dan perhatikanlah, apa sikap Ibnu ‘Abbas?

Apakah ia menampakkan kemarahan?

Tidak. Ia justru ingin melayani orang itu dan memenuhi hajatnya.

Apa pelajaran yang ingin ia sampaikan?

“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari)

Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan lisannya ketika marah sehingga tidak seorang pun tersakiti oleh lisannya.

Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan tangannya ketika marah sehingga tidak seorang pun tersakiti oleh tangannya.

Itulah orang yang kuat. Dan itulah orang yang bijak.

Imam Ibnu ‘Abdil Barr mengomentari hadis tadi:

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مِنَ الْفِقْهِ فَضْلُ الْحِلْمِ وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْحِلْمَ كِتْمَانُ الْغَيْظِ وَأَنَّ الْعَاقِلَ مَنْ مَلَكَ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَب

“Dalam hadis ini terkandung pemahaman tentang keutamaan sikap bijak. Dan padanya juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa sikap bijak yaitu menyembunyikan kemarahan dan bahwasanya orang yang berakal adalah orang yang bisa menguasai dirinya ketika marah.” (At-Tamhid)

Siapa yang bisa mengendalikan amarahnya ketika bergolak, maka itulah orang yang berakal dan bijak. Ia adalah orang yang mulia. Sangat mulia. Lebih mulia daripada orang yang bergelimang harta.

‘Ali bin Abi Thalib berkata:

لَيْسَ الْخَيْرُ أَنْ يَكْثُرَ، مَالُكَ وَوَلَدُكَ، وَلَكِنَّ الْخَيْرَ أَنْ يَكْثُرَ عِلْمُكَ، وَيَعْظُمَ حِلْمُكَ

“Bukanlah kebaikan karena banyaknya hartamu dan anakmu. Namun, kebaikan yang sebenarnya adalah karena banyaknya ilmumu dan besarnya kebijakanmu.” (Hilyah Al-Auliya wa Thabaqat Al-Ashfiya)

 

Siberut, 21 Shafar 1446
Abu Yahya Adiya