8. Apakah boleh memerdekakan budak dengan memberikan syarat tertentu?
Imam Asy-Syaukani berkata:
ويجوز العتق بشرط الخدمة ونحوها ؛ لحديث سفينة أبي عبد الرحمن، قال:
“Boleh memerdekakan budak dengan syarat memberikan pelayanan dan semacamnya, berdasarkan hadis Safinah Abi ‘Abdirrahman. Ia berkata:
أعتقتني أم سلمة، وشرطت علي أن أخدم النبي – صلى الله عليه وسلم – ما عاش.
“Ummu Salamah memerdekakanku dan memberikan syarat kepadaku agar membantu Nabi ﷺ selama beliau hidup.”
أخرجه أحمد وأبو داود، والنسائي، وابن ماجه، وقال: لا بأس بإسناده.
Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Ia berkata bahwa sanadnya tak mengapa.“ (Ad-Darari Al-Mudhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah)
9. Apa denda bagi orang yang menampar budaknya?
Nabi ﷺ bersabda:
نْ لَطَمَ مَمْلُوكَهُ، أَوْ ضَرَبَهُ، فَكَفَّارَتُهُ أَنْ يُعْتِقَهُ
“Siapa yang menampar budaknya atau memukulnya, maka kafaratnya yaitu membebaskannya.” (HR. Muslim)
Suatu hari seorang pria mendatangi Nabi ﷺ sambil berteriak. Maka Nabi ﷺ berkata kepadanya:
مَا لَكَ؟
“Ada apa denganmu?”
Ia menjawab:
سَيِّدِي رَآنِي أُقَبِّلُ جَارِيَةً لَهُ فَجَبَّ مَذَاكِيرِي
“Tuanku telah melihatku mencium budak perempuannya, maka ia memotong kemaluanku!”
Lalu Nabi ﷺ bersabda:
عَلَيَّ بِالرَّجُلِ
“Datangkan kepadaku tuanmu itu!”
Lalu ia dicari, tetapi tidak berhasil ditemukan. Maka Nabi ﷺ bersabda:
اذْهَبْ، فَأَنْتَ حُرٌّ
“Pergilah, engkau telah bebas!” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
10. Bagaimana memerdekakan budak yang dimiliki banyak orang?
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَعْتَقَ شِرْكًا لَهُ فِي عَبْدٍ، فَكَانَ لَهُ مَالٌ يَبْلُغُ ثَمَنَ العَبْدِ قُوِّمَ العَبْدُ عَلَيْهِ قِيمَةَ عَدْلٍ، فَأَعْطَى شُرَكَاءَهُ حِصَصَهُمْ، وَعَتَقَ عَلَيْهِ العَبْدُ، وَإِلَّا فَقَدْ عَتَقَ مِنْهُ مَا عَتَقَ
“Siapa membebaskan saham kepemilikannya pada diri seorang budak, sedangkan ia memiliki harta yang cukup untuk membayar sisa harga budak tersebut, maka hendaklah harga budak ditaksir secara adil, kemudian harga tersebut ia berikan kepada pemilik saham yang lain dan budak itu pun merdeka karenanya. Jika tidak begitu, maka budak tersebut hanya merdeka sesuai dengan saham yang ia bebaskan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
11. Apakah boleh seorang budak membuat perjanjian dengan tuannya agar dimerdekakan dengan ketentuan memberikan harta dengan nominal tertentu kepadanya?
“Dan jika budak-budak yang kalian miliki menginginkan perjanjian, hendaklah kalian buat perjanjian dengan mereka, jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka.” (QS. An-Nur: 33)
Apa maksud kebaikan di sini?
Syekh ‘Abdurrahman As-Sa‘di berkata:
أي: قدرة على التكسب، وصلاحا في دينه
“Yakni kemampuan untuk berusaha dan kebaikan dalam agamanya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fii Tafsir Kalam Al-Mannan)
Artinya, kalau seorang budak tidak mampu berusaha sehingga dikhawatirkan tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri setelah dimerdekakan, maka jangan buat perjanjian dengannya.
Begitu pula, kalau budak itu tidak saleh sehingga dikhawatirkan akan berbuat maksiat setelah dimerdekakan, maka jangan buat perjanjian dengannya.
12. Bagaimana jika budak yang sudah membuat perjanjian dengan tuannya agar dimerdekakan ternyata tidak sanggup memberikan harta yang telah disepakati kepada tuannya?
Imam Asy-Syaukani berkata:
وإذا عجز عن تسليم مال الكتابة عاد في الرق
“Jika seorang budak tidak sanggup menyerahkan harta perjanjian tersebut, maka ia kembali dalam perbudakan.” (Ad-Durar Al-Bahiyyah Fii Al-Masail Al-Fiqhiyyah)
Mengapa demikian?
Imam Asy-Syaukani berkata:
فلكون المالك لم يعتقه إلا بعوض فإذا لم يحصل لم يحصل العتق
“Karena tuannya tidak memerdekakannya kecuali dengan tebusan. Jika itu tak terwujud, maka tidak terjadi pembebasan.” (Ad-Darari Al-Mudhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah)
13. Apakah boleh menjual budak yang dalam perjanjian dengan tuannya agar dimerdekakan?
Barirah mendatangi ‘Aisyah lalu berkata:
كَاتَبْتُ أَهْلِي عَلَى تِسْعِ أَوَاقٍ، فِي كُلِّ عَامٍ وَقِيَّةٌ فَأَعِينِينِي
“Aku telah melakukan perjanjian dengan tuanku untuk memerdekakan diriku dengan tebusan sembilan uqiyah, dimana aku harus membayar satu uqiyah pada setiap tahunnya, maka tolonglah aku!”
Lalu ‘Aisyah mengabarkan itu kepada Nabi ﷺ, maka beliau ﷺ pun bersabda:
خُذِيهَا
“Ambillah ia!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syekh ‘Abdullah Al-Bassam menyebutkan salah satu faidah dari hadis ini:
جاز بيع المكاتب، لأن النبي صلى الله عليه وسلم أذن لعائشة في شرائها
“Bolehnya menjual budak yang dalam perjanjian dengan tuannya agar dimerdekakan. Sebab, Nabi ﷺ mengizinkan ‘Aisyah untuk membeli Barirah.” (Taisir Al-‘Allam Syarh ‘Umdah Al-Ahkam)
14. Apakah boleh seseorang mengaitkan kemerdekaan budaknya dengan kematiannya?
Seperti seseorang berkata kepada budaknya, “Kalau aku mati, maka engkau merdeka setelah kematianku.”
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
فإذا مات عتق إن لم يزد عن ثلث المال عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنّ رَجُلاً أَعْتَقَ سِتّةَ مَمْلُوكِينَ لَهُ عِنْدَ مَوْتِهِ، لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرَهُمْ، فَدَعَا بِهِمْ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -، فَجَزّأَهُمْ أَثْلاَثاً، ثُمّ أَقْرَعَ بَيْنَهُمْ، فَأَعْتَقَ اثْنَيْنِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً، وَقَالَ لَهُ قَوْلاً شَدِيداً. أخرجه مسلم.
“Jika tuannya itu mati, maka budaknya merdeka kalau memang harganya tidak lebih dari sepertiga hartanya. Dari ‘Imran bin Hushain-semoga Allah meridainya-bahwa seorang pria memerdekakan enam budaknya ketika akan mati, sedangkan ia tidak mempunyai harta selain enam budak itu. Lalu Rasulullah ﷺ memanggil enam budak itu, kemudian beliau membagi mereka menjadi 3 bagian lalu mengundi di antara mereka. Setelah itu beliau memerdekakan dua orang, dan empat orang lainnya tetap sebagai budak. Beliau mengucapkan perkataan yang berat kepada pemilik budak tersebut. Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.“ (Mausu‘ah Al-Fiqh Al-Islaamiy)
15. Apakah boleh menjual budak yang kemerdekaannya dikaitkan dengan kematian tuannya?
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
يجوز بيع المُدَبَّر وهبته.عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُما قَالَ:
“Boleh menjual dan menghibahkan budak yang kemerdekaannya dikaitkan dengan kematian tuannya. Dari Jabir bin ‘Abdillah-semoga Allah meridai keduanya-. Ia berkata (HR. Bukhari dan Muslim):
بَلَغَ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – أنَّ رَجُلاً مِنْ أصْحَابِهِ أعْتَقَ غُلامًا لَهُ عَنْ دُبُرٍ، لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرَهُ، فَبَاعَهُ بِثَمانِ مِائَةٍ دِرْهَمٍ، ثُمَّ أرْسَلَ بِثَمَنِهِ إِلَيْهِ. متفق عليه
“Sampai kabar kepada Nabi ﷺ bahwa seorang sahabat beliau membebaskan budaknya dengan mengaitkannya dengan kematiannya, padahal ia tidak punya harta selainnya. Maka Nabi ﷺ pun menjualnya seharga delapan ratus dirham, kemudian beliau kirimkan hasil penjualannya kepadanya.” (Mausu‘ah Al-Fiqh Al-Islaamiy)
16. Siapa yang akan mewarisi harta budak yang dimerdekakan?
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ
“Sesungguhnya hak warisan budak adalah milik orang yang memerdekakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
فإذا مات ولم يكن له وارث من النسب ورثه من أعتقه. ولا يجوز بيع الولاء ولا هبته. عَنِ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنهُمَا قالَ:
“Jika budak mati sedangkan ia tidak memiliki ahli waris senasab, maka yang mewarisinya adalah orang yang memerdekakannya. Dan Tidak boleh menjual hak mewarisi itu dan tidak pula menghibahkannya. Dari Ibnu ‘Umar-semoga Allah meridai keduanya-berkata:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الوَلاَءِ، وَعَنْ هِبَتِهِ
“Rasulullah ﷺ melarang membeli hak warisan budak dan juga menghibahkannya.“ (Mausu‘ah Al-Fiqh Al-Islaamiy)
Siberut, 23 Shafar 1446
Abu Yahya Adiya






