Dua Syarat dan Dua Akad dalam Satu Penjualan

Dua Syarat dan Dua Akad dalam Satu Penjualan

Kubeli kain ini seharga satu juta rupiah, dengan syarat engkau yang memotongnya dan menjahitnya!

“Kujual bajuku ini kepadamu, dengan syarat engkau jual celanamu kepadaku!”

“Kujual baju ini kepadamu seharga satu juta rupiah secara kredit, dengan syarat aku beli lagi itu darimu seharga delapan ratus ribu rupiah secara tunai!”

Apakah akad yang demikian diperbolehkan?

Abu Hurairah berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ

“Rasulullah ﷺ melarang dua akad dalam satu jual beli.” (HR. Tirmidzi)

Dan Nabi ﷺ bersabda:

وَلَا شَرْطَانِ فِي بَيْعٍ

“Tidak halal ada dua syarat dalam jual beli.” (HR. Tirmidzi dan Nasai) 

Syekh Muhammad bin Ibrahim berkata:

الشيخ وابن القيم يقولان: الشرطان في بيع هو بيعتان في بيعة

“Syekh (Ibnu Taimiyah) dan Ibnul Qayyim berkata bahwa dua syarat dalam jual beli adalah dua akad dalam satu jual beli.” (Fatawa wa Rasail Samaahah Asy-Syekh Muhammad bin Ibrahim)

Apa maksud sabda Nabi ﷺ tadi?

Ada dua pendapat di antara para ulama dalam hal ini:

Pendapat pertama: maksud dua syarat di sini yaitu dua syarat apa pun, walaupun keduanya sah, jika memang keduanya bukan termasuk konsekuensi dari akad jual beli dan bukan pula termasuk kemaslahatan dari akad jual beli. 

Contohnya? 

1. Membeli kayu dengan syarat penjual memotongnya dan memikulnya ke rumah pembeli.

2. Membeli baju dengan syarat penjual menjahitnya dan mewarnainya.

3. Membeli beras dengan syarat penjual memikulnya dan memasakkannya.

 

Akad seperti itu terlarang menurut Imam Ahmad dan para ulama mazhab Hanbali. 

Imam Ahmad berkata:

إِذَا قَالَ:

Jika seseorang berkata (kepada yang lain):

أَبِيعُكَ هَذَا الثَّوْبَ وَعَلَيَّ خِيَاطَتُهُ وَقَصَارَتُهُ

Kujual baju ini kepadamu, dengan syarat aku yang menjahitnya dan memotongnya.

فَهَذَا مِنْ نَحْوِ شَرْطَيْنِ فِي بَيْعٍ

Maka itu termasuk bentuk dua syarat dalam jual beli.” (Sunan Tirmidzi)

Artinya, yang demikian terlarang menurut beliau. Karena, di situ ada dua syarat dalam jual beli, sedangkan itu telah dilarang Nabi ﷺ.

Lantas, bagaimana kalau cuma satu syarat?

Imam Ahmad berkata:

وَإِذَا قَالَ:

“Adapun kalau ia berkata:

أَبِيعُكَهُ وَعَلَيَّ خِيَاطَتُهُ

Kujual baju ini kepadamu, dengan syarat aku yang menjahitnya.

فَلَا بَأْسَ بِهِ، أَوْ قَالَ:

Maka itu diperbolehkan.  Atau ia berkata:

أَبِيعُكَهُ وَعَلَيَّ قَصَارَتُهُ

Kujual baju ini dengan syarat aku yang memotongnya.

فَلَا بَأْسَ بِهِ، إِنَّمَا هُوَ شَرْطٌ وَاحِدٌ

Maka ini pun tidak mengapa. Sebab dalam akad tersebut hanya ada satu syarat.” (Sunan Tirmidzi)

Artinya, yang demikian diperbolehkan menurut beliau. Karena, di situ cuma ada satu syarat dalam jual beli, dan itu tidak melanggar lahirah hadis Nabi ﷺ tadi, tapi….

Mayoritas ulama tetap melarang yang demikian.

Imam Al-Baghawi berkata:

وَلا فَرْقَ فِي مِثْلِ هَذَا بَيْنَ شَرْطَيْنِ أَوْ شَرْطٍ وَاحِدٍ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ، لأَنَّ الْعِلَّةَ فِي الْكُلِّ وَاحِدَةٌ  وَهِيَ أَنَّهُ إِذَا قَالَ:

“Tidak ada bedanya dalam hal ini antara dua syarat dengan satu syarat menurut kebanyakan ulama. Sebab, ilat (sebab) dalam semua itu adalah satu, yakni jika seseorang berkata:

بِعْتُكَ هَذَا الثَّوْبَ بِعَشْرَةِ دَرَاهِمَ عَلَى أَنْ تَقْصُرَهُ.

“Kubeli baju ini darimu dengan harga sepuluh dirham dengan syarat engkau yang memendekkannya.”

فَإِنَّ الْعَشْرَةَ الَّتِي هِيَ الثَّمَنُ تَنْقَسِمُ عَلَى ثَمَنِ الثَّوْبِ وَعَلَى أُجْرَةِ الْقِصَارَةِ، وَإِذَا فَسَدَ الشَّرْطُ لَا يُدْرَى كَمْ يَبْقَى ثَمَنَ الثَّوْبِ، وَإِذَا صَارَ الثَّمَنُ مَجْهُولا بَطَلَ الْبَيْعُ.

Maka sesungguhnya sepuluh dirham yang merupakan harga baju tersebut terbagi menjadi harga baju dan harga upah memendekkan. Jika memang syarat tersebut rusak, maka tidak diketahui berapa harga baju yang tersisa. Dan jika harga tersebut tidak diketahui, maka batallah jual beli.” (Syarh As-Sunnah)

 

Pendapat kedua: maksud dua syarat di sini yaitu dua syarat yang bisa mengantarkan pada yang diharamkan, seperti riba dan semacamnya. Dan ini adalah pendapat Imam Ibnul Qayyim dan Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin. 

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

فالشرطان في بيع أن يقول البائع للشخص:

“Dua syarat dalam jual beli seperti seorang penjual berkata kepada seseorang:

بعت عليك هذه السلعة بعشرة مؤجلة بشرط أن تبيعها عليَّ بثمانية نقداً.

“Kujual barang ini kepadamu seharga sepuluh secara kredit, dengan syarat engkau menjualnya kepadaku seharga delapan secara tunai!”

فتنطبق المسألة على مسألة العينة، ومسألة العينة هي: أن يبيع الإنسان الشيء بثمن مؤجل ثم يشتريه ممن باعه عليه بأقل من ذلك نقداً، مثل أن يقول:

Masalah ini berlaku pada masalah ‘iinah. Masalah ‘iinah yaitu seseorang menjual sesuatu secara kredit lalu membelinya lagi dari orang yang membelinya dengan harga yang lebih kecil dari itu secara tunai. Seperti dengan berkata:

بعتك هذه السيارة بخمسين ألفاً إلى سنة

“Kujual mobil ini seharga lima puluh ribu secara kredit sampai setahun.”

ثم يشتريها منه بأربعين ألفاً نقداً، هذه مسألة العينة وهي حرام، سواء اتفقا عليها قبل أم لم يتفقا عليها، ويفسر هذا الحديث: (لا يحل سلف في بيع، ولا شرطان في بيع) على أن المراد بالشرطين بيع العينة.

Lalu ia membelinya lagi dari si pembeli dengan harga empat puluh ribu secara tunai. Itulah masalah ‘iinah dan itu diharamkan, baik antara keduanya ada kesepakatan sebelumnya maupun tidak ada kesepakatan sebelumnya. Hadis ini: ‘Tidak halal hutang disertai dengan jual beli dan tidak halal dua syarat dalam jual beli’, ditafsirkan bahwa maksud dua syarat di sini yaitu jual beli ‘iinah.” (Liqa Al-Bab Al-Maftuh)

Dan pendapat kedua inilah yang-Allahu a’lam-lebih kuat.

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

وأما ما ذهب إليه الفقهاء رحمهم الله، من أنه إذا جمع بين شرطين فإن العقد لا يصح، مثل: أن يشترط على رجل حمل البضاعة وتنزيلها فإن هذا القول ضعيف، والصحيح أن الشروط إذا جمعت ألف شرط وهي معلومة يمكن الحصول عليها فإنها جائزة؛ لعموم قوله تعالى:

“Adapun pendapat fukaha bahwa jika digabungkan dua syarat, maka akad tidak sah, seperti memberikan syarat kepada seseorang untuk memikul barang dan menurunkannya, maka sesungguhnya pendapat tersebut lemah. Yang benar, syarat-syarat jika digabungkan menjadi seribu syarat sedangkan itu diketahui dan mungkin dicapai, maka sesungguhnya itu diperbolehkan, berdasarkan keumuman firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ[المائدة:1]

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad kalian.” (QS. Al-Maidah: 1)

والأمر بالوفاء بالعقد يشمل الوفاء بأصل العقد وبما شرط فيه؛ لأن الشروط في العقد من أوصاف العقد فهي داخلة فيه، ولقوله تعالى:

Perintah untuk menunaikan akad mencakup menunaikan asal suatu akad dan syarat yang ada padanya. Sebab, syarat-syarat pada suatu akad adalah termasuk sifat akad, karenanya itu termasuk dalam perintah untuk ditunaikan. Dan itu juga berdasarkan firman-Nya:

{وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولاً} [الإسراء:34]

“Dan penuhilah janji, karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 34)

ولما يروى عن النبي صلى الله عليه وسلم من قوله:

Dan berdasarkan perkataan yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ:

(المسلمون على شروطهم إلا شرطاً أحل حراماً أو حرم حلالاً)

“Orang orang muslim itu terikat dengan syarat-syarat yang dibuat di antara mereka kecuali syarat yang menghalalkan apa yang haram atau mengharamkan apa yang halal.”

وهذا الحديث وإن كان في سنده كلام كثير، لكن يؤيده حديث عائشة الثابت في الصحيحين أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال:

Walaupun banyak pembicaraan tentang sanad hadis ini, tetapi itu dikuatkan oleh hadis ‘Aisyah yang telah tetap dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahwa Nabi ﷺ bersabda:

(كل شرط ليس في كتاب الله فهو باطل)

“Segala syarat yang tidak ada dalam kitab Allah, maka itu batil.”

فمفهومه: كل شرط لا يخالف كتاب الله فهو حق.

Yang dipahami dari ini yakni segala syarat yang tidak bertentangan dengan kitab Allah, maka itu benar. (Liqa Al-Bab Al-Maftuh)

 

Siberut, 23 Rabi’ul Tsani 1445

Abu Yahya Adiya

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/357872/%D9%85%D8%B9%D9%86%D9%89-%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D9%88%D9%84%D8%A7-%D8%B4%D8%B1%D8%B7%D8%A7%D9%86-%D9%81%D9%8A-%D8%A8%D9%8A%D8%B9