Cara Meraih Kebahagiaan Lewat Pergaulan

Cara Meraih Kebahagiaan Lewat Pergaulan

Untuk meraih kebahagiaan, kita bukan hanya dituntut memperbaiki hubungan kita dengan Allah, melainkan juga dituntut untuk memperbaiki hubungan kita dengan hamba-hamba Allah.

Bagaimana cara kita agar bisa bahagia lewat hubungan kita dengan orang lain?

Syekhul Islam berkata:

وَالسَّعَادَةُ فِي مُعَامَلَةِ الْخَلْقِ: أَنْ تُعَامِلَهُمْ لِلَّهِ

“Kebahagiaan dalam berhubungan dengan orang-orang yaitu engkau berhubungan dengan mereka karena Allah.

فَتَرْجُوَ اللَّهَ فِيهِمْ وَلَا تَرْجُوَهُمْ فِي اللَّهِ

Yaitu engkau mengharapkan Allah dalam hubunganmu dengan mereka dan tidak mengharapkan mereka dalam hubunganmu dengan Allah.

وَتَخَافَهُ فِيهِمْ وَلَا تَخَافَهُمْ فِي اللَّهِ

Engkau takut kepada-Nya dalam hubunganmu dengan mereka dan tidak takut kepada mereka dalam hubunganmu dengan Allah.

وَتُحْسِنَ إلَيْهِمْ رَجَاءَ ثَوَابِ اللَّهِ لَا لِمُكَافَأَتِهِمْ

Engkau juga berbuat baik kepada mereka karena mengharap balasan dari Allah dan bukan karena mengharap balasan mereka.

وَتَكُفَّ عَنْ ظُلْمِهِمْ خَوْفًا مِنْ اللَّهِ لَا مِنْهُمْ

Dan engkau tidak menzalimi mereka karena takut kepada Allah dan bukan karena takut kepada mereka.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Seseorang akan bahagia kalau selalu mencari penilaian Allah, dan bukan penilaian manusia. Itu dalam segala urusan, termasuk dalam urusan yang berhubungan dengan manusia.

Ia akan bahagia kalau selalu berbuat baik kepada mereka, karena mengharapkan balasan dari Allah dan bukan balasan dari mereka.

Ia akan bahagia kalau tidak menzalimi mereka, karena takut kepada ancaman-Nya dan bukan takut kepada ancaman mereka.

Intinya, kunci kebahagiaan dalam hubungan dengan manusia yaitu menjadikan Allah sebagai yang pertama dan utama.

Maka, jadikanlah penilaian Allah yang pertama dan utama, dan jangan sampai menjadi ‘hamba’ manusia!

Nabi ﷺ bersabda:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

“Siapa yang mencari rida Allah dengan resiko membuat manusia marah, maka Allah akan rida kepadanya, dan akan menjadikan manusia rida kepadanya. Dan siapa yang mencari rida manusia dengan resiko membuat Allah murka, maka Allah akan murka kepadanya, dan akan menjadikan manusia murka pula kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban)

 

Siberut, 27 Rabi’ul Awwal 1446

Abu Yahya Adiya