“Kalau engkau menaati kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’aam: 116)
Ini menunjukkan bahwa tidak mesti pendapat kebanyakan orang itu benar dan mengikuti kebenaran.
Dan Allah menggambarkan kaum munafikin:
وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ
“Dan bila kalian melihat mereka, tubuh-tubuh mereka membuatmu kagum. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan perkataan mereka.“ (QS. Al-Munaafiquun: 4)
Imam Az-Zajjaj berkata:
أخبر الله تَعَالَى بِصِحَّة أجسامهم وَحسن مناظرهم وفصاحة ألسنتهم
“Allah mengabarkan tentang kesehatan tubuh mereka dan baiknya penampilan mereka serta fasihnya lisan mereka.“ (Tafsir As-Sam’aani)
Ini menunjukkan bahwa tidak mesti orang yang bernampilan memukau dan pintar mengolah kata adalah orang yang benar dan mengikuti kebenaran.
Jumlah banyak dan kefasihan bukanlah standar dalam mengukur kebenaran.
Syekh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i berkata:
فإذا كان الميزان عندك الكثرة فالكثرة مذمومة وإذا كان الميزان عندك البلاغة والفصاحة في الخطابة, فالله قد وصف المنافقين بأنهم من ذوي الألسنة الحداد ويقول:
“Kalau ukurannya menurutmu yaitu jumlah banyak, maka jumlah banyak tercela. Dan kalau ukurannya menurutmu yaitu kelihaian dan kefasihan dalam menyampaikan orasi, maka Allah telah menggambarkan orang-orang munafik bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai lisan yang tajam. Dia berfirman:
وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ
“Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan perkataan mereka.”
فالمعتبر هو معرفة أهل الحق بصفاتهم، وأنهم يدعون إلى كتاب الله وإلى سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يريدون من الناس جزاء ولا شكورا
Yang menjadi ukuran yaitu mengenali orang-orang yang mengikuti kebenaran dengan sifat-sifat mereka dan bahwasanya mereka mengajak pada kitab Allah dan sunnah Rasulullah ﷺ, mereka tidak menginginkan balasan dan ucapan terima kasih dari manusia.” (Qam’u Al-Mu’aanid)
Siberut, 22 Rabi’ul Awwal 1446
Abu Yahya Adiya






