Dianjurkan Memuji Makanan?

Dianjurkan Memuji Makanan?

Seorang suami pulang kerja. Lapar sudah melilit perutnya. Ketika hendak makan, ia dapati hanyalah cuka yang jadi lauk makannya.

Apa yang harus ia lakukan?

Suatu hari Nabi ﷺ hendak makan dan meminta lauk kepada keluarganya, lalu mereka berkata:

مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ

“Tidak ada yang kita miliki kecuali cuka.”

Beliau ﷺ memintanya lalu memakannya kemudian bersabda:

نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ، نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلّ

“Sebaik-baik lauk adalah cuka. Sebaik-baik lauk adalah cuka.” (HR. Muslim)

Walaupun lauk makannya cuma cuka, beliau ﷺ tidak mengeluh dan mencelanya. Bahkan, ‘separah’ apa pun makanan yang disuguhkan kepada beliau, kalau memang itu halal, beliau tidak pernah mencelanya.

Abu Hurairah berkata:

مَا عَابَ النَّبِيُّ ﷺ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَه

“Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya. Dan jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kenapa beliau ﷺ tidak pernah mencela makanan?

Imam Ibnu Baththal berkata:

هذا من حسن الأدب على الله تعالى لأنه إذا عاب المرء ما كرهه من الطعام فقد رد على الله رزقه

“Itu termasuk adab yang baik kepada Allah. Sebab, jika seseorang mencela makanan yang tidak ia sukai, maka sungguh, ia telah menolak rezeki Allah.” (Syarh Shahih Bukhari)

Ya, apakah pantas kita menolak rezeki dan nikmat dari Allah?

Imam Ibnu Baththal melanjutkan:

ونعم الله تعالى لا تعاب وإنما يجب الشكر عليها، والحمد لله لأجلها

“Nikmat-nikmat dari Allah itu tidak boleh dicela, melainkan harus disyukuri dan karenanya Allah dipuji.” (Syarh Shahih Bukhari)

Allah telah memudahkan makanan sampai kepada kita, tanpa banyak usaha dari kita. Karena itu, apakah pantas kita mencela pemberian-Nya? Selain itu….

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

فَإِنَّ فِيهِ كَسْرَ قَلْبِ الصَّانِعِ

“Dengan mencelanya akan mematahkan hati orang yang membuatnya.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Apakah pantas seorang muslim mematahkan hati saudaranya seiman?

Maka, jangan sampai kita mencela makanan yang disuguhkan kepada kita.

Seperti apa contoh mencela makanan di sini?

Imam An-Nawawi berkata:

مِنْ آدَابِ الطَّعَامِ الْمُتَأَكِّدَةِ أَنْ لَا يُعَابَ كَقَوْلِهِ مَالِحٌ حَامِضٌ قَلِيلُ الْمِلْحِ غَلِيظٌ رَقِيقٌ غَيْرُ نَاضِجٍ وَنَحْوُ ذَلِك

“Di antara adab dalam memakan yang dianjurkan yaitu tidak mencelanya. Seperti ucapan seseorang tentang suatu makanan: ‘Asin!’, ‘Asam!’, ‘Kurang asin!’, ‘Kasar!’, ‘Halus dan tidak matang!’, dan perkataan semacamnya.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

مثال ذلك رجل قدم له تمر وكان التمر رديئا فلا يقل هذا تمر رديء

“Contohnya yaitu seseorang dihidangkan kepadanya kurma sedangkan kurma itu buruk. Maka janganlah ia mengatakan, ‘Ini kurma buruk!” (Syarh Riyadhush Shalihin)

Kalau kita menyukai suatu makanan, maka silahkan memakannya.

Kalau tidak menyukainya, maka silahkan tinggalkan itu, tapi tidak usah mencelanya.

Mencela makanan itu bukanlah kebaikan dan tidak dianjurkan. Yang dianjurkan justru memuji makanan.

Syekh Faishal Al-Mubarak berkata:

وفي مدحه الثناء على الله سبحانه وتعالى وجبر لقلب صاحبه.

“Memuji makanan merupakan pujian kepada Allah dan menghibur hati orang yang membuatnya.” (Tathriiz Riyadhush Shalihin)

Karena itu, tidaklah salah jika Imam An-Nawawi menyebutkan dua hadis yang disebutkan tadi dalam:

باب لا يعيب الطعام واستحباب مدحه

“Bab Jangan Mencela Makanan dan Dianjurkan Untuk Memujinya.” (Riyadhus Shalihin)

 

Siberut, 26 Syawwal 1444

Abu Yahya Adiya