Siapakah Imam ’Abdul Ganī Al-Maqdisī?
Imam Aż-Żahabi menjelaskan tentang Imam ’Abdul Ganī Al-Maqdisī:
الإِمَامُ، العَالِمُ، الحَافِظُ الكَبِيْرُ، الصَّادِقُ، القُدْوَةُ، العَابِدُ، الأَثَرِيُّ المُتَّبَعُ، عَالِمُ الحُفَّاظِ، تَقِيُّ الدِّيْنِ، أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الغَنِيِّ بنُ عَبْدِ الوَاحِدِ بنِ عَلِيِّ بنِ سُرُوْرِ بنِ رَافِعِ بنِ حَسَنِ بنِ جَعْفَرٍ المَقْدِسِيُّ
“Seorang imam, alim, hafiz besar, jujur, panutan, ahli ibadah, pemegang hadis, pengikut sunnah, alimnya para penghafal, yaitu Taqiyyuddīn Abu Muḥammad ’Abdul Ganī bin ’Abdul Wāḥid bin ‘Ali bin Surur bin Rāfi’ bin Ḥasan bin Ja’far Al-Maqdisī.” (Siyar A’lām An-Nubalā)
Ada apa antara Imam ’Abdul Ganī Al-Maqdisī dengan sekte Asy’ariyyah?
Beliau memiliki keyakinan yang bertentangan dengan keyakinan mereka.
Imam ’Abdul Ganī Al-Maqdisī berkata:
ومن مذهب أهل الحق أنَّ الله عز وجل لم يزل متكلماً بكلام مسموع، مفهوم، مكتوب. قال الله عز وجل:
“Dan di antara pendapat orang-orang yang berpegang pada kebenaran yaitu bahwa Allah senantiasa berbicara dengan perkataan yang didengar, dipahami, dan ditulis. Allah berfirman (QS. An-Nisā’: 164):
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيماً
“Dan Allah mengajak bicara Musa.” (Al-Iqtiṣād fī Al-I’tiqād)
Namun, sekte Asy’ariyyah menolak bahwa Allah berbicara dengan suara. Menurut mereka, Allah berbicara dengan kalam nafsi, yakni perkataan batin, tanpa huruf dan suara!
Imam ’Abdul Ganī Al-Maqdisī juga berkata:
[فمن صفات الله تعالى] التي وصف بها نفسه، ونطق بها كتابه، وأخبر بها نبيه: أنه مستو على عرشه كما أخبر عن نفسه فقال [عز من قائل] 1 في سورة الأعراف:
“Di antara sifat Allah yang Dia tetapkan untuk diri-Nya, disebutkan dalam kitab-Nya, dan dikabarkan oleh nabi-Nya, yakni bahwa Dia istiwa (tinggi di atas) Arsy-Nya, sebagaimana Dia kabarkan tentang diri-Nya. Dia berfirman dalam surat Al-A’rāf ayat 54:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia tinggi di atas Arsy.”
Setelah itu, beliau menyebutkan enam ayat lain yang menyebutkan demikian, lalu beliau berkata:
فهذه سبعة مواضع أخبر [الله]فيها سبحانه أنه على العرش.
“Inilah tujuh ayat yang di dalamnya Allah mengabarkan bahwa Dia di atas Arsy.” (Al-Iqtiṣād fī Al-I’tiqād)
Sedangkan sebagian pengikut sekte Asy’ariyyah meyakini bahwa Allah ada di mana-mana. Sebagian lainnya meyakini bahwa Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di luar alam, dan tidak di dalam alam!
Masih banyak keyakinan sekte Asy’ariyyah yang bertentangan dengan keyakinan Imam ’Abdul Ganī Al-Maqdisī. Lalu apa yang terjadi?
Para pembesar sekte Asy’ariyyah ketika itu memfatwakan bahwa beliau telah sesat, dan tidak boleh tinggal di tengah kaum muslimin, serta meminta penguasa untuk mengusirnya! Bahkan, sebagian dari mereka menyatakan halal darahnya!
Kisah tersebut disebutkan dalam Żail Ṭabaqāt Al-Ḥanābilah.
Setelah menyebutkan kisah tersebut, Syekh Muhammad Al-Maghrawi berkomentar:
انظر ما كان يعمله علماء الأشاعرة بالعلماء السلفيين: لا رحمة ولا شفقة ولا رجوع إلى النصوص ولا إلى أثر السلف، فعلى الأقل ينبغي أن يكون مخطئا، مع العلم أنه هو صاحب الحق، ولكن العصبية تعمي صاحبها حتى لا يميز ما يقول ويفعل، والله المستعان
“Lihatlah apa yang dilakukan oleh ulama-ulama Asy’ariyyah terhadap para ulama yang mengikuti salaf. Tidak ada rasa kasih. Tidak ada rasa sayang. Tidak pula merujuk kepada nas dan riwayat dari salaf. Semestinya, paling tidak, beliau dikatakan bisa saja salah, padahal sebenarnya beliaulah yang berada dalam kebenaran. Namun, fanatisme golongan membutakan pengidapnya sehingga tidak dapat membedakan apa yang ia katakan dan apa yang ia lakukan. Allah-lah tempat meminta pertolongan.” (Mausū’ah Mawāqif As-Salaf fī Al-’Aqīdah wa Al-Manhaj wa At-Tarbiyah)
Siberut, 19 Jumādā Aṡ-Ṡāniyah 1447
Abu Yahya Adiya






