Hubungan antara Zuhud dan Kemuliaan

Hubungan antara Zuhud dan Kemuliaan

Ada yang bilang bahwa kemuliaan bisa diraih dengan jabatan. Makin tinggi jabatan seseorang, maka makin mulialah dia.

Dan ada yang bilang bahwa kemuliaan bisa diraih dengan kekayaan. Makin banyak kekayaan seseorang, maka makin mulialah dia.

Dan ada yang bilang bahwa kemuliaan bisa diraih dengan pengetahuan. Makin luas pengetahuan seseorang, maka makin mulialah dia.

Tidak diragukan lagi, bahwa semua itu memang merupakan sebab mendapatkan kemuliaan, tapi bukan kemuliaan yang hakiki.

Kemuliaan hakiki hanyalah bisa diraih dengan mengikuti tuntunan ilahi, di antaranya yang disebutkan dalam hadis berikut ini:

Seseorang mendatangi Rasulullah ﷺ lalu berkata:

ياَ رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ :

“Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika kukerjakan, Allah dan orang-orang akan mencintaiku.”

Maka beliau ﷺ bersabda:

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ

“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau akan dicintai manusia.” (HR. Ibnu Majah)

 

Buah Zuhud terhadap Dunia

Apa itu zuhud?

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

الزُّهْدُ تَرْكُ مَا لَا يَنْفَعُ فِي الْآخِرَةِ

“Zuhud adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat di akhirat.” (Madarij As-Salikin Baina Manazil Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’in)

Sedangkan Abu Sulaiman Ad-Darani menyebutkan pengertian zuhud yaitu:

تَرْكُ مَا يُشْغِلُ عَنِ اللَّهِ

“Meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkan dari Allah.” (Madarij As-Salikin Baina Manazil Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’in)

Maka, bisa disimpulkan bahwa zuhud terhadap dunia artinya engkau meninggalkan apa pun urusan dunia yang tidak bermanfaat bagimu di duniamu dan akhiratmu.

Dan zuhud juga artinya engkau meninggalkan segala urusan dunia yang menyibukkanmu dari mengingat Tuhanmu.

Engkau sanggup membeli kendaraan lagi, tapi engkau tidak membelinya, karena tidak membutuhkannya dan merasa tidak ada manfaatnya bagi duniamu atau akhiratmu, maka itulah zuhud.

Engkau sanggup membeli rumah lagi, tapi engkau tidak membelinya, karena khawatir menyibukkanmu dari mengingat-Nya, maka itulah zuhud.

Ya, itulah zuhud terhadap dunia. Siapa yang melakukannya, niscaya Allah akan mencintainya.

Dan kalau seseorang sudah Allah cintai, bukankah Dia akan memuliakannya?

 

Buah Zuhud terhadap Apa yang Dimiliki Manusia

Apa yang dimaksud dengan zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia?

Artinya:

لا تتطلع لما في أيديهم

“Engkau tidak mengharapkan apa yang ada di tangan mereka.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah)

Ya, jangan mengharapkan kedudukan di tengah-tengah mereka.

Jangan menginginkan kekayaan yang ada di tangan mereka, apalagi sampai menghinakan diri di hadapan mereka!

Itulah zuhudmu terhadap apa yang ada di tangan mereka. Dan kalau engkau melakukan itu, niscaya engkau mulia!

Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:

لا يزال الرجل كريماً على الناس حتى يطمع في دينارهم، فإذا فعل ذلك استخفوا به وكرهوا حديثه وأبغضوه

“Seseorang akan senantiasa mulia di hadapan orang-orang, selama ia tidak mengharapkan dinar mereka. Jika ia sampai melakukan demikian, maka mereka pun akan menganggap remeh dirinya, tidak menyukai perkataannya, dan membencinya.” (Mausu’ah Al-Akhlak Al-Islamiyyah)

Selama engkau masih mengharapkan, mengejar, dan meminta apa yang ada di tangan orang lain, engkau akan selalu rendah dan hina.

Namun, tatkala engkau tidak melakukan semua itu, engkau akan mulia, dan tidak akan hina, walaupun di hadapanmu seorang raja!

Imam Malik berkata:

وَاللهِ مَا دَخَلْتُ عَلَى مَلِكٍ مِنْ هَؤُلاَءِ المُلُوْكِ، حَتَّى أَصِلَ إِلَيْهِ، إِلاَّ نَزَعَ اللهُ هَيْبَتَه مِنْ صَدْرِي

“Demi Allah, tidaklah aku menemui seorang raja pun lalu sampai kepadanya, kecuali Allah cabut kewibawaannya dari dadaku.” (Siyar A’lam An-Nubala)

 

Siberut, 1 Jumada Al-Ulaa 1442

Abu Yahya Adiya