Tidur itu bukan sekadar urusan ‘mengukur’ kasur lalu mendengkur. Ada adabnya.
Kalau tidur seseorang mengikuti adabnya, tentu akan baiklah akibatnya.
Sebaliknya, kalau ia tidak mengikuti adabnya, tentu akan buruklah akibatnya.
Karena itu, mengingat pentingnya permasalahan tersebut, pantaslah kalau Islam mengatur dan memberikan adab terkait tidur.
Apa sajakah adab tidur dalam Islam?
- Tidur di awal malam dan bangun di akhir malam.
‘Aisyah berkata:
كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ، فَيُصَلِّي
“Nabi ﷺ tidur di awal malam dan bangun di akhir malam, lalu beliau melakukan salat.” (HR. Bukhari)
Imam Bukhari memasukkan hadis ini dalam kitab beliau (Shahih Bukhari), yaitu dalam bab:
بَابُ مَنْ نَامَ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَأَحْيَا آخِرَهُ
“Bab Siapa Yang Tidur di Awal Malam dan Menghidupkan Akhirnya dengan Ibadah.”
Maksud beliau yaitu:
أنّ من عمل ذلك فقد عمل بسنة النبي ﷺ التي كان عليها ﷺ -.
“Siapa yang melakukan itu, maka sungguh, ia telah mengamalkan sunah yang selalu Nabi ﷺ lakukan.” (Manar Al-Qari Syarh Mukhtashar Shahih Al-Bukhari)
- Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur.
Nabi ﷺ bersabda:
غَطُّوا الْإِنَاءَ، وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، وَأَغْلِقُوا الْبَابَ، وَأَطْفِئُوا السِّرَاجَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَحُلُّ سِقَاءً، وَلَا يَفْتَحُ بَابًا، وَلَا يَكْشِفُ إِنَاءً، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلَّا أَنْ يَعْرُضَ عَلَى إِنَائِهِ عُودًا، وَيَذْكُرَ اسْمَ اللهِ، فَلْيَفْعَلْ
“Tutuplah rapat-rapat bejana-bejana, ikatlah kendi-kendi, tutuplah pintu, dan padamkanlah lampu, karena sesungguhnya setan tidak bisa membuka ikatan kendi, tidak bisa membuka pintu, dan tidak bisa menyingkap bejana. Lalu jika kalian tidak bisa kecuali dengan meletakkan sebatang kayu di atas bejana, dan mengucapkan nama Allah, maka lakukanlah.” (HR. Muslim)
- Mengibaskan seprai sebelum berbaring.
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ
“Bila seorang dari kalian akan tidur di tempat tidurnya, maka hendaknya ia mengibaskan tempat tidurnya terlebih dahulu dengan bagian dalam izar (kain penutup bawah badan) miliknya, karena ia tidak tahu apa yang ada di baliknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam An-Nawawi berkata:
وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ يستحب أَنْ يَنْفُضَ فِرَاشَهُ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ لِئَلَّا يَكُونَ فِيهِ حَيَّةٌ أَوْ عَقْرَبٌ أَوْ غَيْرُهُمَا مِنَ الْمُؤْذِيَاتِ
“Makna hadis ini yaitu dianjurkan untuk mengibaskan tempat tidurnya sebelum berbaring di situ supaya tidak ada ular, kalajengking, atau hewan mengganggu lainnya di situ.
وَلْيَنْفُضْ وَيَدُهُ مَسْتُورَةٌ بِطَرَفِ إِزَارِهِ لِئَلَّا يَحْصُلَ فِي يَدِهِ مَكْرُوهٌ إِنْ كان هناك
Dan hendaknya ia mengibaskan dalam keadaan tangannya tertutup oleh ujung izar (kain penutup bawah badan) miliknya, supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada tangannya, kalau memang itu ada.” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
- Berwudu sebelum tidur, dan berbaring miring ke sebelah kanan.
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ
“Apabila engkau akan tidur, maka berwudulah sebagaimana wudu untuk salat, lalu berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan.” (HR. Bukhari)
Ibnu Baththal berkata:
أن الوضوء عند النوم مندوب إليه مرغب فيهن وكذلك الدعاء، لأنه قد تقبض روحه فى نومه، فيكون قد ختم عمله بالوضوء والدعاء الذى هو أفضل الأعمال
“Wudu tatkala hendak tidur itu dianjurkan dan disarankan. Demikian pula doa. Sebab, bisa saja rohnya dicabut dalam keadaan ia tidur, sehingga ia telah menutup amalannya di dunia dengan wudu dan doa yang merupakan amalan yang paling utama.
ولذلك كان ابن عمر يجعل آخر عمله الوضوء والدعاء، فإذا تكلم بعد ذلك استأنف الصلاة والدعاء، ثم ينام على ذلك اقتداء بالنبى
Karena itulah Ibnu ‘Umar menjadikan akhir amalannya adalah wudu dan doa. Jika ia berbicara setelahnya, ia memulai kembali salat dan doa, lalu tidur setelah itu sebagai bentuk meneladani Nabi.” (Syarh Shahih Al-Bukhari)
Dan kenapa Nabi berbaring miring ke sebelah kanan?
Imam Al-‘Aini berkata:
لِأَن النَّبِي ﷺ كَانَ يحب التَّيَامُن، وَلِأَنَّهُ أسْرع إِلَى الانتباه
“Sebab, Nabi ﷺ suka mendahulukan yang kanan dan karena posisi itu lebih cepat untuk bangun.” (‘Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari)
- Tidak tidur tengkurap.
Abu Dzar berkata:
مَرَّ بِيَ النَّبِيُّ ﷺ وَأَنَا مُضْطَجِعٌ عَلَى بَطْنِي، فَرَكَضَنِي بِرِجْلِهِ وَقَالَ: «يَا جُنَيْدِبُ، إِنَّمَا هَذِهِ ضِجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ»
“Nabi ﷺ pernah melewatiku tatkala aku sedang tengkurap. Maka beliau membangunkanku dengan kakinya dan bersabda, “Wahai Junaidib (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya ini adalah cara tidur penghuni neraka.” (HR. Ibnu Majah).
(bersambung)
Siberut, 2 Rabi’ul Awwal 1442
Abu Yahya Adiya






